Dukung Swasembada Pangan DPP LDII Kembangkan Tanaman Sorgum
Program swasembada pangan menjadi salah satu andalan dari Pemerintah Prabowo Gibran. Mulai tahun 2025, pemerintah memiliki tekad untuk tidak mengimpor beras dan memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri.
Untuk mendukung kemandirian pangan tersebut, DPP LDII mengembangkan tanaman pangan sorgum sebagai alternatif pengganti beras. DPP LDII telah menetapkan tiga daerah sebagai pilot proyek, yaitu Kabupaten Blora di Jawa Tengah, Tanah Laut di Kalimantan Selatan, dan Tanjung Selor di Kalimantan Utara.
Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menjelaskan bahwa di Blora sudah dilakukan panen raya sorgum di lahan seluas 30 hektar.
"Setelah melihat tanaman sorgum ini, prospeknya baik untuk ketahanan pangan. Bupati Blora menyediakan lahan seluas 200 hektar," kata Chriswanto saat berbuka puasa bersama di Kantor DPP LDII, Jalan Arteri Tentara Pelajar, Jakarta Selatan, Minggu, 11 Maret 2025.
"Waktu panen saya dikirimi, ketika dimasak ternyata enak. Ketika dipamerkan di Semarang, banyak yang suka dan ingin menanam," tambah Chriswanto, lulusan teknik dari ITS Surabaya.
Menurut Chriswanto, sorgum adalah tanaman serealia yang cukup populer sebagai sumber pangan alternatif di Indonesia dan daerah tropis lainnya. Sorgum memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan berpotensi sebagai pengganti beras.
Kandungan Nutrisi Sorgum
Biji sorgum berbentuk bulat kecil dan berwarna kecoklatan. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pengganti gandum dan memiliki toleransi tinggi terhadap kekeringan, sehingga cocok untuk daerah tropis.
Selain untuk konsumsi, sorgum juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan sumber energi alternatif bioetanol. Sorgum memiliki kandungan protein, serat, kalsium, fosfor, dan zat besi yang lebih tinggi dibandingkan beras, serta kandungan lemak dan gula yang lebih rendah.
Dalam 100 gram sorgum mentah terdapat sekitar 330 kalori dan nutrisi penting lainnya, seperti:
- Protein: 11 gram
- Karbohidrat: 72 gram
- Lemak: 3 gram
- Serat: 7 gram
Sorgum juga kaya akan zat besi, magnesium, fosfor, kalium, selenium, zinc, vitamin B1 (tiamin), dan vitamin B6 (piridoksin). Biji-bijian ini juga mengandung senyawa tanin, fenolik, dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan.
Keunggulan Tanaman Sorgum
Sorgum memiliki kemampuan adaptasi yang luas terhadap berbagai kondisi lingkungan. Tanaman ini dapat tumbuh baik dalam kondisi banjir maupun kekeringan, sehingga cocok untuk daerah dengan kondisi tanah yang tidak stabil.
Kemampuan sorgum untuk bertahan dalam kondisi banjir dan kekeringan membuatnya menjadi pilihan yang baik untuk daerah dengan iklim ekstrem. Tanaman ini dapat ditanam berulang-ulang (ratun) dalam satu musim tanam, memungkinkan petani untuk memperoleh hasil panen lebih banyak dalam waktu singkat.
Sorgum mampu memanfaatkan sumber daya dengan efisien, memberikan hasil yang baik meskipun ditanam di lahan yang tidak optimal.
Pengembangan Sorgum di Kabupaten Banyumas
Dalam rangka diversifikasi pangan dan mendukung program pangan B2SA (Bergizi, Beragam, Seimbang, dan Aman), pemerintah mencari alternatif pengganti beras. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas melakukan demplot budidaya sorgum di Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, dengan luas lahan sekitar 0,5 hektar. Varietas yang dibudidayakan adalah Varietas Kawali yang dilepas berdasarkan SK Menteri Pertanian 528/Kpts/TP.240/10/2001.
Tantangan dan Dukungan Pengembangan Sorgum
Kementerian Pertanian menyebut beberapa tantangan pengembangan sorgum, seperti:
- Jaminan pasar belum pasti
- Produktivitas dan produksi masih rendah
- Produk olahan sorgum belum banyak dikenal masyarakat
- Nilai tambah dan daya saing produk rendah
- Peralatan pasca panen masih kurang di tingkat petani
- Penampungan hasil dan jaminan pasar belum jelas
- Benih masih terbatas
- Kemitraan belum berkelanjutan
- Industri tepung skala UMKM di daerah sentra belum terbentuk
Kementerian Pertanian mendukung upaya DPP LDII dalam mengembangkan tanaman sorgum untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.