Dokter di Sidoarjo Ungkap Nail Art Bisa Ganggu Fungsi Alat Medis
Tren nail art atau seni menghias kuku semakin populer di kalangan masyarakat. Khususnya remaja dan wanita.
Tampilan kuku yang menarik dengan berbagai warna, aksesori, hingga teknik gel polish memang mampu menunjang penampilan.
Namun, di balik nilai estetika tersebut, terdapat sejumlah risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian.
Menurut dr. Andre Yulius, anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sidoarjo sekaligus owner Andre Medical Center (AMC) Group, penggunaan nail art, terutama yang melibatkan gel polish, kuku palsu, hingga cat kuku berwarna gelap, dapat berdampak pada aspek medis yang cukup serius.
Salah satu risiko yang jarang disadari adalah gangguan pada pembacaan alat Pulse Oximeter.
Alat ini bekerja dengan memancarkan sinar inframerah melalui ujung jari untuk mengukur kadar oksigen dalam darah (SpO₂).
Menurutnya, lapisan cat kuku, terutama warna gelap atau kuku palsu yang tebal, dapat menyerap atau menghalangi cahaya dari oksimeter.
“Akibatnya, hasil pembacaan bisa tidak akurat, bahkan menyesatkan dalam kondisi tertentu,” ujar dr. Andre saat ditemui di kliniknya, Rabu 1 April 2026.
Ia menegaskan, dalam dunia medis, akurasi pembacaan oksigen sangat krusial, terutama saat penanganan pasien di ruang operasi maupun kondisi darurat.
“Kesalahan pembacaan bisa mencapai 8 sampai 10 persen pada kuku dengan cat gelap. Ini tentu berisiko karena tenaga medis bisa salah menilai kondisi pasien,” tambahnya.
Tidak hanya itu, penggunaan kuku palsu juga menambah jarak antara sensor alat dengan pembuluh darah di jari, sehingga sinyal yang ditangkap menjadi kurang optimal.
Dalam kondisi tertentu, tenaga medis bahkan harus mencari alternatif lain, seperti menggunakan sensor di telinga atau jari kaki.
Dari sisi kesehatan kuku, dr. Andre juga mengingatkan bahaya paparan bahan kimia dalam produk nail art.
Kandungan seperti formaldehida, toluena, dan dibutyl phthalate berpotensi menyebabkan iritasi hingga gangguan kesehatan jika digunakan dalam jangka panjang.
“Kalau digunakan terus-menerus tanpa jeda, kuku bisa menjadi tipis, rapuh, bahkan rusak permanen. Ini yang sering tidak disadari oleh pengguna nail art,” jelasnya.
Selain itu, proses pemasangan gel polish yang menggunakan sinar ultraviolet (UV) juga dapat mempercepat kerusakan kuku alami.
Faktor kebersihan alat pun menjadi perhatian penting karena alat yang tidak steril dapat menularkan infeksi jamur maupun bakteri.
“Infeksi kuku itu bukan hal sepele. Bisa menimbulkan perubahan warna, bau tidak sedap, hingga rasa nyeri. Bahkan dalam kasus tertentu perlu penanganan medis khusus,” tegas dr. Andre.
Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam menggunakan nail art.
Jika tetap ingin menggunakan nail art, sebaiknya jangan di semua jari. Sisakan satu atau dua jari tanpa lapisan apa pun untuk kebutuhan medis darurat.
“Dan yang paling penting, jangan terlalu tebal serta pastikan alat yang digunakan steril,” pungkasnya.
Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan dapat tetap mengikuti tren kecantikan tanpa mengabaikan aspek kesehatan, sehingga resiko dapat diminimalkan secara optimal.
Advertisement