BRIN Ungkap Jejak Tsunami Raksasa di Selatan Jawa, Siklus 600–800 Tahun Jadi Ancaman Nyata
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan penting terkait jejak tsunami raksasa yang pernah melanda pesisir selatan Jawa ribuan tahun lalu. Berdasarkan riset paleotsunami, tim Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN menemukan lapisan sedimen purba berusia sekitar 1.800 tahun di wilayah Lebak, Pangandaran, dan Kulon Progo.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tsunami besar di wilayah selatan Jawa bersifat berulang setiap 600–800 tahun, dan berpotensi dipicu oleh gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9,0 atau lebih.
Temuan ini disampaikan dalam acara Media Lounge Discussion (MELODI) di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, sebagai bagian dari peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-30.
Tsunami Purba: Bukti Ilmiah dan Peringatan Dini
Peneliti Ahli Madya PRKG BRIN, Purna Sulastya Putra, menjelaskan bahwa paleotsunami merupakan kajian ilmiah untuk mengenali kejadian tsunami purba yang tidak tercatat dalam sejarah manusia.
“Riset ini sangat penting, karena selatan Jawa terus berkembang dengan pembangunan infrastruktur strategis, sementara ancaman tsunami raksasa yang berulang justru belum sepenuhnya dipahami dan diantisipasi,” ujar Purna dari laman resmi BRIN, Selasa 12 Agustus 2025.
Menurutnya, lapisan sedimen tsunami purba yang ditemukan tersebar luas di berbagai titik. Selain yang berumur 1.800 tahun, BRIN juga mengidentifikasi jejak tsunami raksasa berusia sekitar 3.000 tahun, 1.000 tahun, dan 400 tahun lalu.
Analisis ilmiah dilakukan melalui pengamatan lapangan di area rawa dan laguna, uji mikrofauna, kandungan unsur kimia, serta penentuan usia sedimen menggunakan metode radiokarbon.
Siklus Tsunami: Bukan “Jika”, Tapi “Kapan”
Hasil penelitian menegaskan bahwa tsunami raksasa di selatan Jawa bersifat siklik, dengan periode ulang sekitar 600–800 tahun.
“Ini artinya, bukan soal apakah tsunami besar akan terjadi, tapi kapan,” tegas Purna.
Ancaman ini semakin relevan mengingat pada tahun 2030 diperkirakan lebih dari 30 juta penduduk akan tinggal di wilayah pesisir selatan Jawa.
Infrastruktur dan Kerentanan Wilayah
BRIN mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur seperti bandara, pelabuhan, dan kawasan industri di selatan Jawa masih belum sepenuhnya mengintegrasikan risiko tsunami. Peningkatan fasilitas pariwisata dan ekonomi di kawasan pesisir juga menambah kerentanan jika bencana terjadi.
“Jika tidak dirancang dengan mempertimbangkan sejarah bencana, dampaknya akan sangat besar, baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian ekonomi,” ujar Purna.
Data Paleotsunami untuk Mitigasi Bencana
Data hasil riset BRIN dapat menjadi dasar penetapan kebijakan tata ruang, penentuan zona rawan, lokasi tempat evakuasi, dan jalur evakuasi yang efisien.
“Pemerintah daerah sebaiknya memanfaatkan data ini untuk rencana pembangunan berbasis risiko, serta melakukan sosialisasi rutin kepada masyarakat,” tambah Purna.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kebencanaan di sekolah, media massa, dan komunitas lokal.
Pesan Kesiapsiagaan
Sebagai penutup, Purna mengimbau masyarakat untuk selalu waspada. “Kalau terjadi gempa kuat di dekat pantai, jangan tunggu sirine atau pemberitahuan. Segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Alam sering memberi sinyal pertama, dan kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan,” pesannya.
Dengan temuan ini, BRIN berharap kesadaran dan kewaspadaan terhadap ancaman megatsunami di selatan Jawa semakin meningkat, sehingga pembangunan dan keselamatan masyarakat dapat berjalan seiring.
Advertisement