Hadiri Forum Nikkei, Wapres Ungkapkan Optimisme Indonesia di Tengah Perlambatan Ekonomi Dunia

Hadiri Forum Nikkei, Wapres Ungkapkan Optimisme Indonesia di Tengah Perlambatan Ekonomi Dunia

DITULIS USER

Rusmin Nuryadin
ngopiNEWS 06 Jun 2017 WIB

 

5/6/2017

Tokyo-wapresri.go.id Di tengah perlambatan ekonomi dunia, Indonesia dengan penduduk 260 juta orang yang 90 juta di antaranya merupakan kelompok kelas menengah merasa optimis dengan pertumbuhan ekonominya.

“Meskipun dunia mengalami perlambatan, PDB kami meningkat hingga lima persen tahun lalu dan akan mencapai sekitar 5,3 persen tahun ini,ujar Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla saat menyampaikan pidatonya pada Konferensi Internasional tentang Masa Depan Asia ke-23 yang diselenggarakan oleh Nikkei Inc. di Tokyo, Jepang, Senin (5/6 2017).

Menurut Wapres, Indonesia mampu mencapai hal ini karena memiliki kebijakan fiskal dan moneter yang sehat, kondisi politik yang stabil, dan basis konsumen yang besar.

Dengan kondisi ini, lanjutnya, Indonesia bahkan menargetkan PDB-nya meningkat hingga enam persen di tahun 2019.

Wapres kemudian memaparkan empat formula untuk mencapai target tersebut.

Pertama, perbaikan dan pembangunan infrastruktur.

“Pendekatan ini akan mengurangi biaya logistik serta menciptakan efisiensi ekonomi yang lebih baik dan output ekonomi yang lebih tinggi, jelasnya.

Kedua, peningkatan produktivitas pertanian dengan metode pertanian modern.

“Kami akan melakukan program konsolidasi lahan, yaitu menggabungkan lahan kecil dengan lahan yang lebih besar, guna meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi sektoral,” ujar Wapres.

Ketiga, dukungan pada sektor manufaktur, baik yang berasal dari investasi dalam maupun luar negeri guna menyerap lebih banyak tenaga kerja dan menstimulasi output ekonomi. Pemerintah, tegas Wapres, juga telah mengeluarkan berbagai paket ekonomi untuk memperbaiki iklim investasi di dalam negeri.

Keempat, alokasi lebih banyak sumber daya pada industri jasa, terutama pariwisata, industri kreatif, dan jasa keuangan.

Terlepas dari berbagai upaya tersebut, Wapres mengakui pemerintah Indonesia masih mengalami kendala, seperti koordinasi antar lembaga pemerintah yang lemah dan regulasi yang masih tumpang tindih.

Namun, kami telah mengidentifikasi masalah-masalah itu dan solusi untuk menanganinya, tandasnya.

Menyinggung tentang hubungan diplomatik Indonesia-Jepang yang akan mencapai 60 tahun pada 2018, Wapres mengatakan bahwa kerja sama yang baik antara kedua negara yang terjalin selama ini dapat ditingkatkan dengan menciptakan berbagai kerja sama potensial lainnya.

Jepang dengan usia rata-rata 47 tahun dan fertilitas yang rendah, Wapres mengungkapkan, dapat berkolaborasi dengan Indonesia yang penduduknya masih muda, rata-rata berusia 28 tahun.

“Akan sangat baik jika kami dapat mengirim para profesional muda kami yang terlatih untuk bekerja di Jepang. Ini merupakan solusi bagi isu populasi Jepang yang mulai menua, sekaligus kesempatan bagi profesional muda kami untuk merasakan pengalaman di luar negeri,” ujarnya.

Di akhir sambutannya pada konferensi tahunan bertema Globalism at a Crossroads-Asia’s Next Moveini, Wapres kemudian mengajak para elit untuk berpikir secara bijak dengan mempertimbangkan kehidupan generasi yang akan datang.

Tantangan yang dihadapi saat ini, lanjutnya, terhubung satu sama lain secara mendunia sehingga dibutuhkan kerja sama yang lebih kuat.

Sebagian besar tantangan yang kita hadapi hari ini saling terkait secara global. Kita tidak dapat menyelesaikannya sendirian. Kita membutuhkan kerja sama antar negara yang lebih kuat, tegas Wapres.

Selain Wapres Jusuf KalIa, turut hadir pula pada forum tersebut para pemimpin negara ASEAN lainnya, seperti  Perdana Menteri Vietnam Nguyễn Xuân Phúc, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, dan Perdana Menteri Laos Thongloun Sisoulith.

Selain itu, hadir pula Sekretaris Jenderal ASEAN Le Luong Minh, mantan Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong, dan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir bin Mohammad.

Duta Besar RI untuk Jepang Arifin Tasrif, Utusan Khusus Presiden Bidang Investasi untuk Jepang Rahmat Gobel, mantan Duta Besar RI untuk Jepang dan mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Kepala Sekretariat Wapres Mohammad Oemar, dan Ketua Tim Ahli Wapres Sofyan Wanandi turut mendampingi Wapres dalam acara tersebut. (KIP-Setwapres).

Penulis : Rusmin Nuryadin

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.