Mengubah Perilaku Dengan Bis Tumpuk

10 Sep 2018 19:02   Transportasi
Mengubah Perilaku Dengan Bis Tumpuk
sumber gambar sebagai ilustrasi : http://pojokpitu.com/

 

MENGUBAH PERILAKU DENGAN "BIS TUMPUK"

Oleh :

Tun Ahmad Gazali, SH.,M.Eng., PhD.*)

Kemarin siang ( hari MInggu, 9 September 2018) waktu Jepang sini, sambil menikmati siaran sebuah radio Surabaya yang bisa saya nikmati secara streaming online, saya tertarik dengan telfon seorang ibu-ibu ke radio tersebut yang mengeluhkan tentang layanan petugas Dishub Kota Surabaya yang cukup banyak berada di tempat pemberangkatan "Bis Tumpuk Suroboyo" tetapi tidak berbuat banyak untuk menertibkan atau mengatur para calon penumpang digambarkan dalam telfon tersebut amat kacau dan semrawut saat proses pendaftaran / mendapatkan tiket naik bis yang cukup anyar tersebut. Bukan hanya itu, antrean yang tidak karuan semakin menambah keluhan Ibu-ibu tersebut yang sebenarnya sudah datang sejak pukul 06.00 meskipun ternyata dia baru tahu bahwa layanan bis baru akan dimulai jam 10.00. Mendengarkan online hal tersebut membuat saya ikut kesal membayangkan di waktu yang sama saya berada dilokasi TKP. membayangkan betapa ''biasa'' semrawutnya orang kita saat harus antre. Apalagi untuk antre dalam layanan angkutan darat. Sepertinya hampir belum berjalan dengan baik. Hal ini berbeda jauh, saat beberapa diantara mereka naik angkutan darat umum di luar negeri. Padahal apa sih susahnya berdisiplin dan petugasnya memulai? Nggak susah kok. Ambillah contoh saat mereka di Singapura, pasti akan bisa mengikuti disiplin setempat dan antre dengan rapinya. Juga  bisa kita lihat yang agak bagus yaitu saat antre di Bandara yang ''sudah agak bagus'' dalam berlaku disiplin antre. Mereka (padahal bisa ratusan orang)  bisa antre mengular dengan tertib, tak saling dorong

Lalu apa perbedaan nya? kenapa saat naik bisa umum, bemo, bis kota, kok disiplinnya jadi hilang?

Sebenarnya kejadian hari Minggu kemarin pagi di tempat pemberangkatan ''Bis Tumpuk Suroboyo" di pintu keluar terminal Bis Purabaya bisa menjadi momen yang amat tepat dan ''masuk'' untuk melakukan perubahan perilaku masyarakat Surabaya khususnya terkait disiplin dan etika menggunakan layanan transportasi publik yang lebih bermartabat dan lebih saling menyamankan. Momen amat baik untuk mengenalkan atau bahkan secara langsung mempraktekkan perubahan perilaku yang lebih bermartabat dalam menikmati angkutan publik.

Dan karena mengingat bahwa pada dasarnya Arek Suroboyo dan pada umumnya orang Indonesdia adalah masyarakat yang tunduk dan patuh kepada aparat yang  menjadi panutan, maka bukan waktu yang panjang untuk dimulai, ini bisa langsung dimulai dengan perubahan layanan cepat aparatur Dishub dalam menyediakan layanan yang lebih membiasakan masyarakat untuk disiplin dengan peralatan dan aturan yang simple, sederhana, mudah dipahami dan menyamankan. Bukan hal yang susah bagi Pemkot Srabaya untuk menyediakan tali pembatas yang bisa menjadi jalan lorong antrean bagi calon penumpang sehingga mereka bisa rela menunggu antre dengan tertib dan berjajar rapi kebelakang sesuai urutan kedatangan. Tentu dengan ditambah tempat naungan yang bisa menambah kenyamanan calon penumpang terhindar dari panas dan hujan dan tentu karena para calon penumpang mendapat antrean yang jelas dan kepastian akan  mendapat giliran terangkut dalam waktu tidak terlalu lama, maka mereka akan rela menunggu dengan tertib. 

Apapun itu, anyway busway, ''Suroboyo'' kita telah mulai berubah dalam layanan transportasi publik darat, dan semoga juga menyusul kepada layanan bemo, taksi, dan becak yang dulu pernah menjadi angkutan ''ikonik'' kota Surabaya dengan mengembangkan dan lebih menyempurnakan angkutan umum massal yang tentu merupakan solusi jitu menghadirkan keadaban, mengurangi polusi, dan mengurangi kemacetan di kota Surabaya dan sekitarnya menuju layanan transportasi publik di Surabaya dan Indonesia yang nyaman , maju dan berkeadaban.(CakTun)

*) Penulis adalah Staf Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Alumni S3 (PhD) dari Universitas Yamaguchi, Jepang yang sedang menyelesaikan pengembangan riset bidang lingkungan di Universitas Yamaguchi, Jepang.