Yuli Ratnasari, dalam penampilannya yang suantai di rumahnya, meski dirundung risau karena anak-anaknya masih di Rumah Dinas Samanhudi yang terciduk KPK. foto:widikamidi/ngopibareng.id

Pendukung Setia, Jadi Istri, lalu Dikipatne setelah Samanhudi Jadi Wali Kota Yuli Ratnasari, Bicara Blak-Blakan Soal Samanhudi Anwar

09 Jun 2018 18:14

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

"Aku dulu pendukung setia dalam setiap kampanye politiknya. Pendulang suara. Sejak mengawali jadi anggota dewan, dan setelahnya jadi Wali Kota. Aku diperistri, lalu dicampakkan. Lalu dikipatne seperti tak punya peran apa-apa. Semoga Gusti Allah mengingatkan. Dan sekarang diingatkan. Telak. Tapi kasihan anak-anak saya, mereka tak bersalah."

Penampilannya berkacamata. Serasi dengan bentuk mukanya. Cantik. Dan masih cantik. Menemui ngopibareng.id di ruang tamunya. Tanpa ragu. Tanpa takut-takut. Juga tak ada rasa cemas yang membayang. Rumah itu di kawasan Karangsari, Kota Blitar. Rumahnya sendiri. Hasil jerih payah dan keringat sendiri.

Rumah itu hanya satu jengkal saja dengan Rusunawa Kota Bitar. Masih cukup dekat dengan pusat Kota Blitar, hanya ada kesan minggir sedikit di arah Selatan. Juga dekat dengan sawah-sawah.  `

Dia masih 36 tahun. Tampak sebagai perempuan kuat. Ini dipertegas dengan tak adanya riasan muka di wajahnya. Mungkin setahun lalu dia masih terlihat suka mewek. Meweknya di Medsos FB, dan ditonton ribuan orang. Dikomen juga oleh ratuan orang. Divideo berdurasi cukup panjang itu tanggannya menenteng surat cerai. Surat cerai dari Samanhudi Anwar, Wali Kota Blitar. Wali Kota yang kena OTT KPK. Wali Kota yang pernah memperistri dirinya. 

Mewek itu dilakukan karena sangat terpaksa. Karena terjepit keadaan. Agar orang tahu bahwa tak selayaknya seorang Wali Kota begitu semena-mena terhadap mantan istrinya. Perekonomiannya dari menjual suara sebagai penyanyi diblokir sistematis. Usaha warnet ditutup paksa. Padahal dia butuh hidup. Padahal ada ibunya yang sedang stroke berat dan butuh uang banyak untuk berobat. Bahkan dokter pun harus sembunyi-sembunyi untuk merawat ibunya, agar dia tak kena damprat Samanhudi.

Tak ada polesan wajah, tak ada ornamen mewah di sekelilingnya. foto:widikamidi/ngopibareng .id

Dia menuturkan, nama aslinya adalah Yuli Ratnasari. Srengat adalah kota kecamatan kelahirannya. Belakangan tersemat nama Samanhudi di belakangnya namanya. Maka melekatlah nama Yuli Samanhudi dalam setiap aktivitasnya. Penggalan nama belakangnya yang Ratnasari tak diingat orang lagi. Dia lalu dikenal sebagai istri Wali Kota Blitar, karena memang Yuli akhirnya dipersunting sang Wali Kota yang sukses berkarir dari bawah itu. 

Perkenalannya dengan Samanhudi manis-manis saja. Selepas tamat SMEA di Jalan Tanjung Blitar tahun 1999, Yuli berkarir menyanyi. Namanya bahkan sempat moncer. Sempat pula malang melintang di Jakarta. Tapi karena Samanhudi butuh tim dalam karir politiknya, maka dia sering berdekatan dengan Samanhudi. Lagipula permintaan Samanhudi tak berani ditolak. Sebab kalau ditolak nalurinya orang keturunan Madura yang akan bertindak. Yuli lebih takut, Yuli menghapus karir manis di Jakarta.

"Aku dulu pendukung setia dalam setiap kampanye politiknya. Pendulang suara. Sejak awal dan mengawali jadi anggota dewan, dan setelahnya jadi Wali Kota. Aku ini akhirnya diperistri, lalu dicampakkan. Dianggap seperti tak punya peran apa-apa. Semoga Gusti Allah mengingatkan. Dan sekarang diingatkan. Telak. Sangat telak. Tapi kasihan anak-anak saya yang berada di rumah dinasnya, mereka tak bersalah. Mereka harus diselamatkan," kata Yuli.

Disela wawancara dengan ngopibareng,id, telponnya terus berdering. Dari anak-anaknya. Dia siang itu akan diungsikan dari rumah dinas, menuju rumahnya sendiri. foto:widikamidi/ngopibareng.id

Tak mudah benar, menjadi istri Wali Kota yang memiliki banyak pendukung dan selalu dikelilingi pendukung-pendukung dengan berbagai kepentingan. Kepentingan pribadi, yang tendensius, dan lain sebagainya. Belum lagi dikelilingi banyak perempuan yang katanya juga menjadi "pedukung" dalam setiap aktivitas Wali Kota.

"Ini yang membuat saya tidak kuat, sementara anak-anak yang mulai tumbuh besar ikut menyaksikan laku ayahnya. Meski sering mengingatkan, akhirnya hanya berujung pertengkaran."

Sebagai istri Wali Kota, Yuli Samanhudi memiliki jabatan yang melekat. Menjadi Ibu Ketua Penggerak PKK. Menjadi bagian dari UMKM, Dekranasda, hingga aktivitas-aktivitas Perwosi di daerah. Menjadi bagian-bagian dari aktivitas keaagamaan segala. Tapi peran ini tak pernah dilihat Pak Wali Kota. Ada saja yang mengadu dari kanan-kiri untuk kepentingan tendesius orang-orang disekitarnya.

"Sebagai istri, saya selalu kalah dengan para orang kepercayaan disekelilingnya. Hingga akhirnya memunculkan istilah ada kamar depan dan kamar belakang. Kamar depan Pak Wali Kota, sedang yang dibelakang adalah saya bersama anak-anak," kata Yuli.

Sebagai Ibu Wali Kota, kata dia, tidak pernah mendapatkan fasilitas. Dengan jabatan yang melekat itu, sebagai Penggerak PKK misalnya, Yuli berhak atas pemakaian mobil dinas untuk keperluan akvitas kedinasan. Nyatanya tidak, mobil fasilitas ini malah dipakai orang lain yang tak ada hubungannya dengan PKK babar blas.

Tapi Yuli tak mau berpanjang kata, dia lebih memilih mengridit Honda Jazz sendiri untuk keperluan kedinasan itu. Pakai uang sendiri. Pakai uang tabungan kala dulu masih tenar sebagai penyanyi.

Tidak pernah pula mendapatkan belanja. Yuli Ratnasari harus cari sendiri. Dia hanya mendapatkan jatah uang Mamin (makanan dan minuman, red) dari jabatan yang melekat itu. "Siapa kuat? Ya dikuat-kuatkan."  Ironisnya, kalau istrinya sendiri tidak dapat uang belanja, justru perempuan lain yang tak ada hubungannya dengan masalah rumah tangga mendapat transferan uang hingga jumlah puluhan dan ratusan juta. Dan itu diketahui secara luas juga oleh masyarakat Kota Blitar melalui media sosial. 

Puncaknya, untuk mendulang suara pencalonan lanjutannya sebagai Wali Kota, muncul tuduhan-tuduhan yang dialamatkan ke Yuli Samanhudi. Untuk mendongkrak suara. Masyarakat pasti ikut menghakimi tuduhan-tuduhan itu. "Maka saya bulat untuk menyingkir. Menyerahkan nama Samanhudi di belakang nama saya, dan selanjut memakai nama saya yang asli; Yuli Ratnasari. Sekarang yang saya pikirkan adalah nasib anak-anak. Mereka pasti stress, pasti malu, kemungkinan juga akan mendapatkan buly. Sebab itu saya mohon masyarakat agar tak ikut menghakimi anak-anak saya karena kesalahan orang tuanya. Saya sudah memaafkan Pak Samanhudi, apapun yang pernah dikalukan kepada saya dan anak-anak saya." (*)