32 Tahun Rumah Singgah YKI Berikan Tumpangan Pada Pasien Kanker

05 Feb 2020 08:40 Feature

Pintu gerbang warna putih menyambut siapa pun yang masuk ke gedung Yayasan Kanker Indonesia, di Jalan Mulyorejo I, nomor 31 A, Kecamatan Mulyorejo. Gedung dengan 39 kamar itu, berupaya meringankan beban pasien kanker, dengan menyediakan tempat sebagai rumah singgah, sejak 1988.

“Dari tahun 1988 semuanya lengkap, ada klinik, dokter, petugas juga. Kegiatannya pun beragam, tetapi tahun 2001 hingga 2010 vakum. Baru aktif lagi 2011” kata Sani, Kepala Sekretariat YKI. Pria berkacamata itu menemui Ngopibareng, pada Sabtu 1 Februari 2020.

Mengenakan kaos polo Biru, ia menuturkan fasilitas yang ada di YKI, sejak awal berdiri. Seperti deteksi dini kanker, penyuluhan, dan rumah singgah. Namun tahun 2001 hingga 2010, YKI mati suri. Masalah internal menimpa gedung yang berstatus hibah dari PT Sinar Galaxy.

Hingga Nina Kirana, istri Gubernur Soekarwo, menyerah atas desakan para pemerhati kanker, dan mendudukui posisi Ketua YKI. Tahun 2011 YKI pun bangkit dari tidur panjangnya, ia kembali beroperasi.

“Awalnya tidak ada pasien sama sekali. Banyak yang gamang karena harganya miring dan gratis," ingat Sani.

Bagian gedung YKI yang sedang dipugar
Bagian gedung YKI yang sedang dipugar.

Banyak hal dilakukan untuk mengabarkan YKI. Bersama Thayib, rekan sekerjanya, laki-laki berusia 47 tahun itu tak patah arang. Ada 16 kamar baru, dilengkapi dengan kasur, bantal, dan guling. Berdua mereka membagikan brosur, mengabarkan tentang pelayanan YKI.

"Akhirnya ada satu pasien, terus tutur tinular. Sejak saat itu jumlah pasien terus bertambah” kata Sani. Ia menyandarkan punggungnya di kursi.

Seiring berjalannya waktu, jumlah pasien bertambah. Kamar di rumah singgah itu pun ikut bertambah, mulai dari pengalihan fungsi ruangan, hingga pembangunan ruangan lagi. Kini ada 39 kamar tersedia.

Ada kelas A dengan fasilitas satu kasur bertarif Rp 25 ribu semalam, B dengan dua kasur masing-masing bagi pasien dan pendamping, dan D untuk fasilitas tambahan berupa kamar mandi dalam dengan tarif Rp 50 ribu.

Ada pula kelas C, satu ruangan berisi delapan kasur untuk delapan pasien plus delapan pendamping diberikan gratis dengan syarat menunjukkan surat keterangan tidak mampu, dan BPJS. Ada dua kamar jenis C di YKI saat ini.

YKI juga mengantar dan menjemput pasien menuju dan dari Dr. Soetomo, sejak pukul 05.00 hingga 17.00. Pasien juga mendapatkan nasi dan air mineral gratis di kantin rumah singgah. Tak ada batasan usia, jenis kelamin pun agama, untuk menginap di YKI. Mereka bisa tinggal tanpa batasan waktu, selama ada ruangan di YKI.

“Rata-rata di sini singgah selama dua bulan, ada juga yang enam. Dulu ada yang sampai dua tahun, penyandang kanker rektum dari Kalimantan” ujarnya.

Sani Ketua Sekretariat Yayasan Kanker Indonesia Jawa Timur
Sani, Ketua Sekretariat Yayasan Kanker Indonesia Jawa Timur

Dateksi kanker payudara dan serviks

YKI menyebut dirinya sebagai organisasi nirlaba yang tidak mencari keuntungan. Misinya adalah melakukan penyuluhan dan pencegahan kanker, sosialisasi deteksi kanker payudara, serta menyediakan tes inspeksi visual asam asetat (IVA) dan pap smear.

Pemeriksaan berlangsung setiap tiga bulan sekali. Jika bukan jadwal pusat, YKI bakal turun ke daerah memenuhi panggilan mereka, untuk melangsungkan pemeriksaan kanker. Pap smear bertarif Rp 85 ribu, sedangkan tes IVA Rp25 ribu. Keduanya untuk deteksi dini kanker serviks.

Sudah 25 kegiatan deteksi dini kanker payudara dan serviks berlangsung selama 2018, dua jenis kanker terbanyak di Indonesia. YKI juga menyalurkan bantuan sembako pada lansia dan janda tak mampu, dalam upayanya melawan kanker.

“Sejak tahun 2018, dan 2019 kami sudah lebih dari 50 kegiatan untuk mencapai visi misi kami. Kalau sudah tahu dari awal, kanker bisa diantisipasi dan disembuhkan” kata Sani.

Tak hanya ibu-ibu, lembaga berlambang keris terbalik itu juga menyasar remaja. Sebab, kanker tidak mengenal usia. Targetnya adalah SMA Trimutri, PPNS, dan Poltekes Surabaya.
“Ada pasien 20 tahun sudah terkena kanker dan tumor. Ini kami cegah biar mereka sadar akan hidup sehat” ungkapnya.

Ke depannya Sani berharap, YKI bisa mengembangkan fasilitas dengan menyediakan layanan pemeriksaan kanker mata. “Ini sedang proses dan kami menyiapkan pendeteksian mata. Karena mata dideteksi dan kami mengusahakan sarana-prasarananya” pungkasnya.

Penulis : Rizqi Mutqiyyah
Editor : Dyah Ayu Pitaloka


Bagikan artikel ini