Ilustrasi: Fa Vidi/Ngopibareng.id)

Weapons of Mass Destruction

Fathorrahman Fadli 03 May 2020 09:53 WIB

Hari-hari ini mengingatkan saya pada buku karya Geofrey Kemp and Robert E. Harkavy, "Strategic Geography and The Changing Middle East, sembilan belas (19) tahun lalu. Saat itu saya sedang belajar politik dan hubungan internasional Timur Tengah di Pascasarjana Universitas Indonesia.

Buku itu saya beli dari Dr. Ramzy Tadjuddin, dosen saya lulusan Amerika pada 2 oktober 2001. Ramzy terbilang dosen yang memiliki wawasan yang luas, selalu membaca, dan memiliki kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik. Kalau bicara dalam bahasa Inggris beliau sangat talkative. Saya bersyukur karena semua matakuliah beliau saya dapat nilai A.

Tapi bukan Ramzy yang akan saya ceritakan. Namun saya mau cerita bagaimana Geofrey menceritakan suatu proyek senjata pembunuh massal itu diproduksi untuk kepentingan perang di Timur-Tengah.

Pada halaman 265, Geofrey menulis satu Chapter khusus mengenai Geography and Weapons of Mass Destruction. Ia mulai memberikan keyakinan kepada pembaca bahwa pengembangan dan penyebaran senjata pembunuh massal di Timur Tengah, khususnya selama Perang Teluk berkecamuk adalah realitas yang tak bisa dibantah.

Geofrey meyakini, selama perang Irak-Iran yang dikenal dengan Perang Teluk itu penggunaan senjata kimia secara besar-besaran dan berlebihan dalam perang telah melonggarkan norma-norma internasional. Padahal larangan untuk itu sudah lama disepakati agar penggunaannya dibatasi.

Kondisi ini mendorong Geoffrey menarik kesimpulan bahwa penggunaan senjata serupa akan dilakukan lagi di masa depan. Geoffrey melihat potensi untuk menggunakan senjata serupa itu secara potensial bisa dilakukan oleh Uni Sovyet dan RRC.

Apa yang menjadi dasarnya? Geoffrey melihat kedua negara tersebut terbilang negara yang dikabarkan memiliki senjata pembunuh massal, mulai dari racikan senyawa kimia maupun biologis.

Saya tidak tahu pasti apakah pernyataan atau analisis Geoffrey itu ada relevansinya secara langsung atau tidak dengan fakta bahwa dunia telah dilanda Covid-19 yang mematikan ini. Wallahua'lam!!

Tapi mari kita lihat dalam perspektif pertahanan suatu negara besar. Ada pernyataan yang berbunyi, "Pertahanan yang baik adalah menyerang."

Tentu saja teknik menyerang ini hanya bisa dilakukan oleh negara yang memiliki kekuatan yang besar. Mana bisa menyerang jika negaranya lemah?

Jadi disinilah analisis Geoffrey itu menemukan titik logisnya. Maklum buku ini diterbitkan pada tahun 1997 oleh penerbit beken Brooking Institution Press, Washington. Tentu saja analisis di dalamnya juga mengandung bias Kepentingan Amerika, bukan?

Di situ saya menaruh maklum jika analisis berbau setengah tudingan pada Uni Sovyet dan China itu menjadi bagian dari perang diplomasi yang dibungkus kajian-kajian akademik. Nampaknya langkah seperti ini sudah jamak dilakukan Amerika sebagai negara Adidaya.

Apapun alasannya, pernyataan Geoffrey ini sangat menarik kita diskusikan terutama menyangkut kondisi dunia saat ini yang terserang Covid-19; di mana dunia dibuat lumpuh karenanya.

Saling Tuding China & Amerika

Jika kita cermat melihat dinamika pemberitaan dunia di seputar asal usul Covid-19, terdapat perang opini yang keras antara Amerika dan China yang saling tuding.

China misalnya menuding Amerika telah mengirim sejumlah pasukan elitnya dalam suatu aksi pagelaran militer di China. Disela-sela itu, para pasukan elit tersebut membawa species virus Covid-19 ke China.

Namun, Amerika justru menuding China sebagai biang penyebar Covid-19 ke seluruh dunia. Uniknya, disela aksi tuding menuding itu ada berita penangkapan seseorang ilmuan asal Harvard bernama bernama Charles Lieber ditangkap karena membuat dan menjual virus corona COVID-19 ke China.

Semula berita itu bersumber pada alun Twitter @JohnBWellsCTM pada 5 April 2020.

Bunyinya begini,
"USA just discovered the man who manufactured and sold the #coronavirus to #China. Dr #CharlesLieber, head of the chemistry and biology department at #HarvardUniversity, USA. He was just arrested today according to American department sources," tulis akun Twitter @JohnBWellsCTM.

Namun setelah dicek para jurnalis perihal kebenarannya melalui mesin pencari, merebak juga kontroversi. Salah satunya menuding tweet-an itu salah.

Satu di antaranya artikel itu berjudul "False headline claim: Harvard Professor arrested for creating and selling the new coronavirus to China" yang diunggah situs reuters.com pada 7 April 2020 lalu.

Pendek kata, siapa penyebar virus itu sebenarnya juga masih kontroversial. Dunia pun kembali bungkam dan sibuk bagaimana caranya menemukan cara melawannya agar dunia kembali normal kembali.
Namun orang kaya macam Bill Gate membuat keresahan ini semakin lama. Kata dia, “kita butuh satu tahun atau satu setengah tahun lagi untuk bisa pulih normal kembali.”

Waduh Bill Gate, kamu bikin tambah pusing saja!!!

Fathorrahman Fadli

(Direktur Eksekutif Indonesia Development Research/IDR, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Pamulang)

Penulis : Fathorrahman Fadli

Editor : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

06 Aug 2020 22:35 WIB

Lapak Ganjar Mampu Tingkatkan Omset UKM

Nusantara

Ganjar membangun lapak di Instagram.

06 Aug 2020 22:25 WIB

AEON Mall BSD City Jadi Klaster Baru Covid-19

Nasional

Dua pegawai positif Covid-19, AEON Mall BSD City ditutup sepekan.

06 Aug 2020 22:13 WIB

Simulasi Sekolah, SMPN 26 Diapresiasi Dispendik Surabaya

Pendidikan

SMPN 26 mendapat apresiasi dari Dispendik Surabaya.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...