Warkop Masih Kemriyek Ributkan Harga Balon

19 Jan 2019 11:48 NekoNeko

Kemriyek. What is kemriyek?

Kemriyek ini persisnya adalah ungkapan bahasa Jawa. Artinya menggambarkan suasana riuh rendah yang bukan main. 

Situasi/suasana kemriyek itu pasti ada sebab musababnya. Misal: meja guru kosong, karena guru belum datang. Atau guru sedang rapat. Maka murid-murid biasanya ngobrol sak karepe dewe. Semau-maunya. Ada yang teriak-teriak. Lempar-lemparan, dan seterusnya. 

Misal yang lain: sekandang ayam belum dikasih makan. Atau telat kasih makanan. Sekandang akan bercuap-cuap tanpa henti. Juga semau-maunya. Setelah makanan disebarkan, gaung suara kemriyek itu lantas segera menghilang.

Lalu, kemriyek yang dimaksud ini, kemriyek yang apa? Yang dimana? Ruang kelas, kandang ayam, pasar, terminal, ruang-ruang rapat yang tak terkendali, gedung dewan, rapat dewan, warung yang ramai pengunjung, warkop-warkop, atau yang mana? 

Hahahaha. Banyak amat pilihannya? Kalau disuruh milih, warkop saja dech!

Bukankah warkop selalu rame? Apalagi pas debat Capres kemarin. Ramainya bukan main. Teve-tevenya disetel dengan volume keras-keras. Ramenya malah seperti berada di kandang ayam. Suara teve campur teriakan, campur guyonan cekakaan, sementara yang tak suka nonton teve juga putar lagu dandut sama kerasnya.

Orang yang duduk di sebelah pojok warkop menyahut segera: "Memang lagi bicara kandang ayam nih. Ayam jadi-jadian persisnya. Hahahaha. Harganya itu lho, cuma seekor saja, ampuhnya bukan main. Luarang pol. Luarang notok duk. Ancuk tenan."

Memang harga ayamnya berapa? Ayam yang mana?

Yang lain menyahut segera, "Ada yang 25 juta. Ada yang 80 juta. Bahkan ada yang sampai tembus 300 juta. Tapi yang rame yang harga 80 juta itu."

Harga di tengah-tengah kali ya. Harga yang masih familier buat isi brankas. Harga yang memungkinkan masih bisa dijangkau. Atau ini harga gendeng. Giendeng tenan. Lha kalau sudah kebeli aslinyaasli ayam bisa diadu atau tidak kan belum begitu jelas.

Oh itu. Sampeyan tanya begitu mau beli kah? Punya uang kah? Uang sampeyan berapa? Ngopi aja di Warkop. Kelas tiga ribuan pula. Wifi juga maunya gratisan. Kok mau beli ayam gituan. Kalau sampeyan itu cocoknya beli balon saja. Hahahaha.

Suara tawa ngakak pun membahana. Lalu disambut yang lain-lain, juga tertawa. Membahana juga. Suasana yang sudah kemriyek jadi makin kemriyek oleh candaan yang melucu.

Rupanya warkop-warkop yang senantiasa berjubel dan dijubeli pengunjung itu masih demam dengan pembicaraan prostitusi online yang begitu menggetarkan jagat kewarasan. Apalagi, mereka tahu belaka, belakangan artis yang ditengarai punya tarif 80 juta itu positif jadi tersangka. Dia tak hanya menarif "itu"nya mahal, tetapi ada juga bukti dia menjualkan "itu"nya punya teman-temannya. 

Tarif-tarif kencan mahal itu kini siapa tidak tahu sih. Berminggu sejak pengungkapan kasus oleh polisi jadi perbincangan nasional. Jadi viral yang bukan main.

Sas sus seksis begini ini sebenarnya sudah mereda. Mereda karena ada perhelatan debat Capres yang semua orang merasa ingin terlibat dan ingin tahu. Tapi setelah debat Capres diketahui hanya semacam debat yang membosankan, sas sus nasional lebih memilih asyik membicarakan "daging-daging sueger" itu lagi. Apalagi ada amunisi baru, daging sueger 80 jutanya dijadikan tersangka oleh polisi.

Warkop dengan kopi hitam yang selalu istimewa FotoIstimewa
Warkop dengan kopi hitam yang selalu istimewa. (Foto:Istimewa)

Hoeiii, seseorang dengan kopi hitam ditangan meneriaki kawannya sembari mencari tempat duduk. Apa bedanya sih mereka-mereka dengan balon-balon di ndoly dulu? 

"Hush! Saru! Balon itu kan lonte. Jangan bawa-bawa lonte ke sini dong. Apalagi "warung" lontenya sudah lama ditutup sama Bu Risma Walikota. Gak ada relevansinya dengan isu yang sedang dibongkar polisi itu," sahut temannya. 

Lha iyo to, ditutup Bu Risma apa tidak, eyel dia, begitu itu namanya apa bukan balon? Toh bukan saru kalau bilang balon. Sudah cukup dhaluskan tuh. Coba simak lagunya Bang Iwan Fals, terang-terangan menyebut Lonte. Haa... liriknya kan begini: Lonteku terima kasih. Atas pertolonganmu di malam itu. Nah lonte kan?

Juga puisinya WS Rendra yang sangat terkenal itu: Bersatulah pelacur-pelacur kota Jakarta. Hahahaha kalau ini pelacur ya, bukan sebut lonte. "Tapi kan sama aja to aslinya," kata dia.

Oke mari kita diskusi. Sebenarnya harga 80 juta, ada yang 300 juta itu, masuk akal nggak sih. Di dolly dulu, 300 ribu itu sudah dapat jempolan. Rembulan pun bisa padam kata Bang Iwan Fals dalam lagunya. Lha ini 80 juta, sak isi Sarkem yang sampai kini masih buka dengan asiknya itu bisa kebeli semua tuh. Ibarat 1 banding seratus ekor.

Hey sadar bung, ini warkop. Bukan lokalisasi! Emang sapa mau ajak saya ke Sarkem? Haahhahahaha. (widikamidi)

Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini