Wali Kota Sidak Rumah Warga Miskin Yang Viral di Medsos

10 Feb 2019 08:00 Jawa Timur

Lengkap sudah penderitaan Djuhar, 65 tahun, warga Jalan KH Hasan Genggong Gang Lele, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Betapa tidak, ia menderita sakit pembengkakan jantung dan penyakit kulit sekujur tubuh, sementara anaknya menderita keterbelakangan mental.

Kondisi ini diperparah dengan gelapnya rumah sederhana yang ditinggali Djuhar bersama istrinya, Rusni, 60 tahun, dan anak semata wayangnya, Rasyid, 37 tahun. Maklum, di rumah itu tidak ada sambungan listrik PLN.

Karena sakit-sakitan, Djuhar tidak bisa bekerja lagi. Ia pun sempat menjadi pengemis di lampu merah (traffic light). Tetapi ketika kondisi sakitnya parah, keluarga ini hanya bisa mengandalkan pemberian dari warga sekitar rumahnya.

Nasib keluarga Djuhar yang demikian memelas kemudian ramai (viral) di media sosial. Sejumlah warganet (netizen) pun menyatakan, prihatin. Sebagian berharap, pemerintah segera turun tangan terhadap keluarga miskin yang sakit-sakitan itu.

Mengetahui hal ini, Wali Kota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin, pria yang baru empat hari melakukan serah terima jabatan dari wali kota (lama) itu langsung bergerak. Sabtu malam, 9 Februari 2019, wali kota bersama tim medis RSUD dr Mohamad Saleh mengunjungi rumah Djuhar.

Di tengah remang-remang pencahayaan lilin, tim medis memeriksa tubuh Djuhar yang kurus kering. "Pak Djuhar dibawa ke rumah sakit saja. Nanti biar rumahnya dibedah, diperbaiki dan dilengkapi listrik PLN," ujar wali kota.

Malam itu juga Djuhar dievakuasi ke RSUD dr Mohamad Saleh. "Kalau mengetahui, ada warga miskin yang sakit, langsung laporkan. Insya-Allah, langsung kami tangani," ujar Habib Hadi.

Sejumlah tetangga mengatakan, mereka sering memberi bantuan terutama berupa makanan kepada keluarga Djuhar. "Sesekali ke rumah, ya saya kasih makanan," ujar Huda, tetangga Djuhar.

Pihak kelurahan setempat, kata Huda, pernah mengusulkan, agar rumah Djuhar diperbaiki melalui program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Tetapi karena ada salah satu kerabat yang tidak setuju, rencana "bedah rumah" yang masih beralas tanah itu dibatalkan. (isa)

Penulis : Ikhsan Mahmudi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini