Wakil Wali Kota Surabaya, Wishnu Sakti Buana. (Foto: Antara)

Wawali Surabaya, Bantah Suruh Pulangkan Mahasiswa Papua

Surabaya 19 August 2019 14:37 WIB

Ketua DPRD Papua Barat, Pieter Kondjol sebelumnya menyebut jika kerusuhan yang terjadi di Manokwari akibat massa merasa terhina, karena mahasiswa Papua yang ada di Surabaya dihina dan dimaki seperti monyet. Pesan ini pun kemudian menjadi viral di kalangan mahasiswa Papua. Aksi yang rencananya berjalan damai, akhirnya berujung pada anarkisme.

Salah satu pesan berantai yang beredar di mahasiswa Papua menyebut jika Wakil Wali Kota Surabaya Wishnu Sakti Buana mengeluarkan pernyataan untuk memulangkan mahasiswa Papua yang ada di Surabaya. Dalam pesan berantai tersebut, juga menyebut ada oknum yang menyamakan mereka monyet.

Mengetahui namanya disebut dalam pesan berantai tersebut, membuat Wakil Wali Kota Surabaya, Wishnu Sakti Buana kaget. Dia mengatakan tak pernah mengeluarkan statement apa pun soal kisruh di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya.

 “Saya tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait mahasiswa Papua harus dipulangkan. Selama kisruh itu berlangsung saya pun tidak berada di lokasi,” tegasnya.

Sebelumnya, mahasiswa Papua yang berada di dalam asrama memberikan kesaksian ada kata-kata rasis dilontarkan oleh berbagai anggota, ormas saat sedang mengepung asrama Papua di Surabaya. Seperti dilansir Suara Papua, salah satu mahasiswi Papua, Dolly Iyowau, yang berada di asrama itu mengungkapkan hal tersebut.

Dorang bikin yel-yel di depan asrama dengan kata-kata ‘pulang ke Papua,’ lalu mereka juga bilang kami ‘monyet’, bahkan diteriaki kotoran manusia dan masih banyak kata-kata makian, cacian, dan rasis yang dilontarkan pada kami,” ungkap Iyouwau.

Sedangkan kerusuhan yang terjadi di Malang, bermula saat aktivis Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia for West Papua di Malang pada Kamis 15 Agustus lalu berunjuk. Mereka menggelar unjuk rasa damai untuk menolak Perjanjian New York yang ditandatangani Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat pada 15 Agustus 1962.

Kericuhan terjadi karena sekelompok warga setempat mengejek para pengunjuk rasa dengan nama panggilan binatang, dan melempari para pengunjuk rasa dengan batu dan air cabai. Para mahasiswa Papua membalas lemparan itu. Sedikitnya 23 orang mahasiswa Papua terluka dalam kericuhan tersebut.

Penulis : Alief Sambogo

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

30 May 2020 17:15 WIB

Soal Risma Marah, PDIP Jatim: Wajar, Risma Bela Rakyat

Jawa Timur

Deni mengatakan tindakan Risma adalah spontanitas membela rakyat

30 May 2020 16:25 WIB

Arzeti Masuk Bursa Pilwali Surabaya, Banser Surabaya Mendukung

Pilkada

Nasron mengatakan bahwa Arzeti cocok dampingi Machfud Arifin

30 May 2020 14:30 WIB

Geger Mobil PCR, DPRD Surabaya Minta Khofifah dan Risma Damai

Surabaya

Eksekutif seharusnya malu dengan polemik ini.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.