Wajah Dunia Islam Alami Perubahan Demografi, Kata Gus Yahya

29 Jan 2019 02:28 Khazanah

Sejumlah negara di Timur Tengah tidak punya kekuatan sipil yang kuat seperti di Indonesia. Kebanyakan negara itu hanya memiliki kekuatan militer dan politik.  Di Mesir misalkan, memiliki Ikhwanul Muslimin yang berjuang puluhan tahun untuk merebut tampuk kekuasaan, ketika menang, mereka hanya memikirkan kelompoknya sendiri.

"Dalam tradisi banyak negara, agama kerap diidentikkan sebagai identitas negara. Indonesia dengan landasan Pancasila justru berbeda," kata Katib Am PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

“NU dan Muhammadiyah mengukuhkan otoritas keagamaanya sendiri, tidak bergantung pada Timur Tengah,” tutur Gus Yahya, dalam keterangan diterima ngopibareng.id, Senin 28 Januari 2019.

Ketika Majelis Tarjih Muhammadiyah atau Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama mengeluarkan Fatwa, maka negara tidak bisa melakukan intervensi.

"Dalam tradisi banyak negara, agama kerap diidentikkan sebagai identitas negara. Indonesia dengan landasan Pancasila justru berbeda," kata Katib Am PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Wajah dunia Islam, kata Kiai Yahya, mengalami perubahan demografi. Selain itu juga menghadapi tantangan globalisasi yang meruntuhkan sekat-sekat identitas sempit.

“Fenomena ini harus direspons oleh Islam sebagai agama,” kata putra Kiai Cholil Bisri Rembang (almaghfurlah) ini.
Muhammadiyah dan NU dianggap telah berbuat untuk merespons perubahan zaman.

“Ijtihad sudah menjadi tradisi Muhammadiyah dan NU, untuk merespon zaman. Dan belahan dunia Islam lain gagal merespons zaman secara positif,” tutur Gus Yahya, panggilan akrab mantan juru bica kepresidenan di masa Presiden Abdurrahman Wahid ini.

Gus Yahya mengungkapkan hal ini, dalam Seminar Internasional bertema ‘Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara Berkemajuan untuk Dunia’ di Balai Senat UGM, 25 Januari 2019. Acara digelar Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM), dihadiri Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Prof Malik Fadjar dan Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo, Buya Ahmad Syafii Maarif, Prof Mark Woodwark, dan Prof Azyumardi Azra.

Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra menyatakan, Indonesia termasuk negara yang paling beruntung karena memiliki ekspresi keagamaan Islam yang kompatibel dengan budaya. Kehadiran Muhammadiyah dan NU dianggap telah mengukuhkan wajah Islam yang moderat dan ramah budaya.

Hal lainnya yang membuat Indonesia perlu bersyukur adalah karena adanya dua organisasi massa Islam terbesar yang menjadi kekuatan civil society yang kuat.

“Asia selatan dan Timur Tengah tidak ada middle power, hanya ada militer dan organisasi politik,” katanya.

Kedua organisasi ini telah mengalami banyak konvergensi keagamaan dalam 20 tahun terakhir. Oleh karena itu, hampir tidak ditemukan adanya gesekan yang berarti. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan. Kedua organisasi ini mampu mengelola kemajemukan dengan baik. (adi)