Tangkapan layar video ritual sholawat Pancasila yang menghebohkan netizen. (Foto: Facebook)

Viral Video Ritual Shalawat Pancasila, Apa Kata Kiai?

06 Mar 2018 16:51

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Viralnya video sekelompok orang yang melafalkan ‘Shalawat Pancasila’, memancing pro-kontra publik. Namun, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Mutawakkil Alallah, mengaku belum mengetahui latar belakang munculnya peristiwa itu.

"Oalah.. Siapa itu yang melakukan? Saya harus tahu dulu sebab-sebabnya seperti apa? Apa karena nasionalisme yang terlalu tinggi? Apa bagaimana? Saya baru sekarang dengarnya," kata dia, saat dihubungi ngopibareng.id, Selasa, 6 Maret 2018.

Ia mengatakan jika lirik asli shalawat itu sudah ada di era Rosulullah Muhammad Saw, yakni; Shallallahu ‘ala Muhammad. Sementara iramanya baru ada di zaman Walisongo.

"Artinya, Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Muhammad," ujarnya.

Sementara dalam video yang diunggah oleh akun Facebook Media Oposisi ini, liriknya diubah menjadi Shalallah 'ala Pancasila, shalallah 'ala Indonesia, shalallah 'ala Nusantoro.

"Kalau diubah seperti itu artinya menjadi Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Pancasila. Saya ndak berani menilai, tergantung niatnya bagaimana, maksudnya apa," kata dia.

Lirik itu, dikumandangkan oleh sejumlah orang, sembari berkeliling tujuh kali, mengitari bendera merah putih, lilin, dan beberapa sesajen.

"Saya baru pertama kali dengar yang seperti itu, yang jelas itu bukan shalawat nabi," katanya.

Terlepas dari kontroversi video itu, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo ini, mengatakan, Pancasila itu memang sudah menjadi kesepakatan Ulama-ulama NU, sebagai asas tunggal negeri ini, dan sebagai falsafah kehidupan berbangsa.

"Mengutip ucapan Rais Aam KH Achmad Siddiq, Pancasila itu bukan agama, dan tidak bisa menggantikan agama, tetapi Pancasila tidak bertentangan dengan agama," tandasnya.

Hingga kini, dalam waktu 13 jam, video itu langsung dibanjiri ribuan komentar netizen. Dibagikan sebanyak 8.800 kali, dan disaksikan lebih dari 320.000 kali. (frd)