Universitas NU Surabaya Tampilkan Tari Bali Syar'i

13 Jul 2017 14:50 Reportase

Surabaya: Tari Bali yang biasanya eksotis ternyata bisa dimodifikasi lebih bernuansa Islami. Itulah yang dilakukan para penari mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Mereka menyuguhkan tari Pendet, tarian pembuka upacara di Bali, dalam acara Surabaya International Health Conference (SIHC) yang berlangsung di Best Western Hotel Papilio Surabaya, Kamis (13/7/2017)

Konferensi dengan tema Optimizing Health Care Quality Through Reseach, Clinical Treatment adan Education itu memang diikuti peserta dari dalam dan luar negeri. Juga pembicara asing seperti Prof Lisa McKenna (Australia), Dr Larguita P. Reotutar (Filipina), dan Prof Tsan-Hoj Liou, MD, Phd (Taiwan).

Sedangkan pembicara dari dalam negeri adalah Prof dr Nasrunudin (Unair), Dr dr Handayani (Unusa), dan Rusdianingseh, M Kep, Sp.Kom (Unusa). Menjadi Keynote Speaker di konferensi yang juga diikuti sejumlah peserta dari luar negeri itu Ketua Yarsis yang Mantan Mendikbud Prof Dr M. Nuh DEA.

Ingin menunjukkan kekayaan budaya Indonesia kepada para peserta asing, acara itu dibuka dengan penampilan tari Pendet yang dilakukan oleh 4 mahasiswi Unusa. Keempat penari cantik tersebut mengenakan jilbab hitam dengan tanpa ada bagian badan yang terbuka sama sekali. Kreatif.

Padahal, tari Pendet yang bisa dipentaskan di Bali selalu dengan bagian pundak penari terbuka dan rambut terurai. Meski dengan kostum yang menutupi semua aurat penarinya, mereka menyajikannya tetap dengan lemah gemulai dan eksotis sebagai tari Pendet Bali pada umumnya.

Kostum penari Bali pada umumnya seperti di bawah ini.

Prof Tsan-Hoj Liou dari Taipei Medical University mengaku sudah pernah menyaksikan Tari Pendet di Bali. Tapi dia tidak memperhatikan ada perbedaan penampilan penari Bali dengan penari Mahasiswi Unusa ini. ''Saya tidak tahu perbedaannya,'' katanya. Setelah dijelaskan ada perbedaan kostumnya, ia langsung tertawa.

Seperti halnya rangkaian upacara pembukaan di lingkungan Ormas Islam, setelah tari pembukaan diisi dengan lantunan ayat suci Alqur'an dan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Sessi pembukaan konferensi diakhiri dengan pembacaan do'a.

Rektor Unusa Prof Dr Yazidi mengakui bahwa penampilan tari Pendet itu sebagai bagian dari Unusa untuk mengenalkan keragaman budaya Indonesia kepada para peserta asing. ''Namun, karena para penarinya para mahasiswi yang sehari-hari mengenakan jilbab, mereka memodifikasi kostum sesuai dengan syar'i dan tetap menutup aurat,'' tuturnya.

Prof Dr Kacung Marijan, Pembantu Rektor Unusa yang juga mantan Dirjen Kebudayaan mengaprisiasi inovasi para mahasiswinya. ''Yang lebih tepat sebetulnya bukan Tari Bali Sya'ri. Melainkan tari Pendet ala NU,'' tambahnya. NU adalah Ormas Islam terbesar di Indonesia yang dikenal luwes dalam beragama.

Sekadar diketahui, Unusa memang salah satu universitas milik NU yang paling maju di Indonesia. universitas ini telah memiliki Fakultas kedokteran dan Fakultas keperawatan. Yayasan yang menaungi Unusa juga memiliki dua rumah sakit besar di Surabaya. (Rif)