Umur Panjang Tanpa Pantangan dengan Sesepuh RS Mata Undaan

03 Jan 2019 04:24 Feature

Ini mungkin salah satu resep untuk berumur panjang. Bukan dari sisi medis atau kesehatan. Tapi dari cara menyikapi kehidupan.

Akhir tahun 2018 saya menemani rombongan para sesepuh di Rumah Sakit Mata Undaan (RSMU). Rumah sakit legendaris sejak zaman Belanda.

Saya sebut sesepuh (orang yang dituakan) karena mereka orang-orang berumur panjang. Rata-rata sudah berusia di atas 70-an. Malah ada yang menjelang 80 tahun.

Mereka adalah Doelatif (77 tahun), Sudiyatmono (78 tahun), dan dr Mohamad Badri  (76 tahun). Dua dari tiga sesepuh itu didampingi istri yang usianya tak banyak selisih.

Mulanya Ontot Murwanto, Wakil Bendahara Perhimpunan RSMU, yang punya ide perjalanan bersama akhir tahun itu. Tujuannya berburu durian di Banaran, Semarang.

"Setelah disibukkan dengan pekerjaan pembangunan gedung medical center baru, rasanya kita perlu jalan bersama. Sambil merancang pengembangan RS ke depan," katanya.

Maka berangkatlah kami dengan berombongan 13 orang. Saya yang paling muda diantara mereka. Karena baru berusia 50-an. Juga istri saya.

Anggota rombongan lainnya adalah konsultan hukum Wisnubroto bersama istrinya sosiolog Pinky Saptandari. Juga Mohamad Anwar yang menjadi sekretaris perhimpunan.

Ada lagi pengurus perhimpunan yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair Dr Widodo Jatim Pudjirahardjo. Namun dia absen karena masih harus rapat dengan Rektor Unair di penghujung tahun. 

Mengapa durian menjadi obyek buruan? Karena hampir semuanya penggemar buah yang hanya ada di daerah tropis ini. Juga penikmat aneka jenis kuliner. 

Karena itu, rombongan ini saya sebut dengan Keluarga Pecinta Makan. "Nek arek Suroboyo arane keluarga pecinta badokan," kata Doelatif yang memang arek asli Surabaya sambil ketawa.

Bergaya bersama sebelum meninggalkan penginapan di BandunganSemarang
Bergaya bersama sebelum meninggalkan penginapan di Bandungan-Semarang.

Cak Doel --demikian ia biasa dipanggil-- adalah ketua perhimpunan. Ia mantan dosen dan karyawan ITS. Sampai sekarang masih tinggal di perumahan perguruan tinggi tersebut.

Ia sudah tidak bisa berjalan cepat dan jauh. Kecuali dibantu kursi roda. Ia sendirian karena istrinya tercinta belum lama meninggal. Tapi jangan tanya semangatnya. Apalagi kalau bicara badogan, eh...makanan. 

Widyatmoko tak kalah semangatnya. Pria tertua dari trio sesepuh RSMU ini tak punya pantangan tentang makanan. Sate, tongseng, dan tengleng tak menolak. Jerohan pun dilahap bersama istrinya.

Dr Badri yang spesialis mata ini lebih hebat lagi. Ia sudah sempat menderita sakit serius. pernah terkena sakit yang serius. Tapi menjadi survival. "Alhamdulillah penyakitnya hilang dengan sedekah ke anak yatim," katanya.

Trio sesepuh itu yang selalu memilih jenis makanan yang dicari selama perjalanan. Namun, jauh hari sebelum berangkat Cak Doel sudah wanti-wanti untuk mampir Kepala Manyung Bu Fat di Semarang.

Sentra durian yang menjadi jujugan
Sentra durian yang menjadi jujugan.

Inilah warung yang sangat terkenal dengan ikan manyung pedasnya. Juga dengan aneka masakan rumahan seperti sambal goreng kikil yang juga pedas., sayur kates dan aneka jenis mangut ikan.

Tadinya saya mengira para sesepuh ini pantangan makan pedas. Eh, begitu mendarat di Bandara New Ahmad Yani langsung ke Bu Fat menikmati makanan yang bikin berkeringat karena kepedasan ini.

Semua lahap. Juga peyek udang yang juga menjadi andalan Bu Fat. Apalagi selama menikmati masakan, diiringi musik keroncong. Cak Doel kebetulan juga punya group musik keroncong.

Sebelumnya, dokter Badri ingin menikmati soto bangkong di Semarang. Namun, niat itu diurungkan setelah ikut menikmati aneka makanan warung Bu Fat yang lokasinya tak jauh dari bandara.

Maka usai makan siang, perjalanan langsung dilanjutkan ke Brongkol-Ambarawa. Berburu durian di desa yang menjadi sentranya. Tidak jadi ke Kebun Durian Banaran karena aksesnya menyulitkan.

Ternyata, hampir semuanya pelahap buah tropis yang konon mengandung kolesterol tinggi ini. Mereka menyantap semua durian yang disuguhkan tanpa sungkan dan kekhawatiran.

Cukup? Belum. Setelah puas menikmati durian, rombongan langsung menuju hotel di Bandungan untuk menginap semalam. Dalam perjalanan sudah dibahas rencana makan malam.

Atas rekomendasi sopir minibus yang asli Salatiga, diputuskan makan malam di sentra sate Blotongan. Jadilah hari itu, rombongan para sesepuh menikmati kepala ikan manyong pedas, durian dan sate serta tengkleng kambing. Makanan berat semua.

Ketika para sesepuh itu menikmati segala jenis makanan buruannya, saya malah yang was-was. Apakah tidak bahaya untuk kesehatannya?. "Nggak masalah. Kami semua nggak punya pantangan soal makanan," kata dr Badri enteng.

Karena dalam rombongan ada dokter dan juga Widyatmoko yang ahli obat-obatan dan farmasi, saya pun mengenyampingkan segala kecemasan. Saya pun ikut menikmati apa yang dinikmati mereka tanpa rasa takut.

Berburu kuliner kelas berat masih terus berlangsung sampai di Solo. Masakan kambing yang selama ini dianggap kurang bagus bagi kesehatan, terus dinikmati. Termasuk jerohan dan segala hal berlemak yang banyak dihindari orang tua.

Saya pun berpikir, jangan-jangan cara hidup yang dinikmati dengan tanpa beban itu yang membuat mereka berumur panjang. Kepasrahan total dengan menikmati apapun yang telah diberikan Tuhan. (arif afandi)


Reporter/Penulis : Arif Afandi


Bagikan artikel ini