Ulama Ini Tak Berpuasa Sebab Jarinya Sakit, Begini Kisahnya

15 May 2019 02:48 Islam Sehari-hari

Atas alasan syar'i, seorang Muslim diperkenankan tidak menunaikan ibadah puasa. Untuk memperjelas masalah ini, berikut ulasan Ustad Ahmad Muntaha AM:

Suatu hari waktu siang di bulan Ramadhan, orang-orang sowan kepada Ibn Sirin (w.110 H), generasi ulama tabiin yang terkenal multidisipiner, pakar tafsir, hadits, fikih, penafsir mimpi yang jitu sekaligus sosok sufi yang Zuhud. Seakan terperangah, mereka justru melihat Ibn Sirin sedang menyantap hidangan dan tidak berpuasa.

Sejurus kemudian Ibn Sirin menjelaskan, bahwa ia tidak berpuasa karena jari-jemarinya sakit.

Demikianlah penafsiran frasa 'faman kana minkum maridhan' Al-Baqarah 184, pokok sakit, apapun sakitnya, termasuk uzur yang membolehkan orang tidak berpuasa Ramadhan. Sebagaimana penafsiran semacam ini juga disampaikan oleh Al Hasan Al Basri (w. 110 H), ulama besar Ahlussunah wal Jamaah generasi tabiin asal kota Bashrah.

Kendati begitu, penafsiran kedua tokoh tabiin itu tidak populer dalam lingkungan mayoritas ulama yang mensyaratkan sakit yang dapat menjadi uzur tidak berpuasa Ramadhan adalah sakit yang membahayakan jiwa, menambah parah sakit yang diderita dan semisalnya. Seperti orang sakit panas dan bila nekat berpuasa justru akan memperparahnya.

__________________________

Sumber: Fakhruddin ar-Razi, Mafatih Al Ghaib, V/243:

Sakit yang membolehkan seseorang tidak berpuasa:

الْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ: الْمَرَضُ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ اخْتِصَاصِ جَمِيعِ أَعْضَاءِ الْحَيِّ بِالْحَالَةِ الْمُقْتَضِيَةِ لِصُدُورِ أَفْعَالِهِ سَلِيمَةً سَلَامَةً تَلِيقُ بِهِ.
وَاخْتَلَفُوا فِي الْمَرَضِ الْمُبِيحِ لِلْفِطْرِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ.
أَحَدُهَا: أَنَّ أَيَّ مَرِيضٍ كَانَ، وَأَيَّ مُسَافِرٍ كَانَ، فَلَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ تَنْزِيلًا لِلَفْظِهِ الْمُطْلَقِ عَلَى أَقَلِّ أَحْوَالِهِ، وَهَذَا قَوْلُ الْحَسَنِ وَابْنِ سِيرِينَ، يُرْوَى أَنَّهُمْ دَخَلُوا عَلَى ابْنِ سِيرِينَ فِي رَمَضَانَ وَهُوَ يَأْكُلُ، فَاعْتَلَّ بِوَجَعِ أُصْبُعِهِ.
وَثَانِيهَا: أَنَّ هَذِهِ الرُّخْصَةَ مُخْتَصَّةٌ بِالْمَرِيضِ الَّذِي لَوْ صَامَ لَوَقَعَ فِي مَشَقَّةٍ وَجُهْدٍ، وَبِالْمُسَافِرِ الَّذِي يَكُونُ كَذَلِكَ، وَهَذَا قَوْلُ الْأَصَمِّ، وَحَاصِلُهُ تَنْزِيلُ اللَّفْظِ الْمُطْلَقِ عَلَى أَكْمَلِ الْأَحْوَالِ.
وَثَالِثُهَا: وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ: أَنَّ الْمَرَضَ الْمُبِيحَ لِلْفِطْرِ هُوَ الَّذِي يُؤَدِّي إِلَى ضَرَرِ النَّفْسِ أَوْ زِيَادَةٍ فِي الْعِلَّةِ، إِذْ لَا فَرْقَ فِي الْفِعْلِ بَيْنَ مَا يُخَافُ مِنْهُ وَبَيْنَ مَا يُؤَدِّي إِلَى مَا يُخَافُ مِنْهُ كَالْمَحْمُومِ إِذَا خَافَ أَنَّهُ لَوْ صَامَ تَشْتَدُّ حُمَّاهُ، وَصَاحِبُ وَجَعِ الْعَيْنِ يَخَافُ إِنْ صَامَ أَنْ يَشْتَدَّ وَجَعُ عَيْنِهِ، قَالُوا: وَكَيْفَ يُمْكِنُ أَنْ يُقَالَ كُلُّ مَرَضٍ مُرَخِّصٍ مَعَ عِلْمِنَا أَنَّ فِي الْأَمْرَاضِ مَا يَنْقُصُهُ الصَّوْمُ، فَالْمُرَادُ إِذَنْ مِنْهُ مَا يُؤَثِّرُ الصَّوْمُ فِي تَقْوِيَتِهِ، ثُمَّ تَأْثِيرُهُ فِي الْأَمْرِ الْيَسِيرِ لَا عِبْرَةَ بِهِ، لِأَنَّ ذَلِكَ قَدْ يَحْصُلُ فِيمَنْ لَيْسَ بِمَرِيضٍ أَيْضًا، فَإِذَنْ يَجِبُ فِي تَأْثِيرِهِ مَا ذَكَرْنَاهُ.
مفاتيح الغيب، ٥/ ٢٤٣
(9 Ramadhan 1440 H)

"Kendati begitu, penafsiran kedua tokoh tabiin itu tidak populer dalam lingkungan mayoritas ulama yang mensyaratkan sakit yang dapat menjadi uzur tidak berpuasa Ramadhan adalah sakit yang membahayakan jiwa, menambah parah sakit yang diderita dan semisalnya. Seperti orang sakit panas dan bila nekat berpuasa justru akan memperparahnya."
Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini