Tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya saat memberikan pelatihan kepada warga Kampung Sanan terkait pengolahan limbah kotoran sapi dan tempe. (Foto: Istimewa)
Tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya saat memberikan pelatihan kepada warga Kampung Sanan terkait pengolahan limbah kotoran sapi dan tempe. (Foto: Istimewa)

UB Inisiasi Kampung Sanan Jadi Percontohan Urban Farming

Ngopibareng.id Pojok Unibraw 17 November 2020 09:08 WIB

Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, menginisiasi Kampung Sanan, Blimbing, Kota Malang sebagai percontohan penerapan urban farming. Inisiasi ini dilakukan oleh tim Doktor Mengabdi UB karena melihat potensi peternakan sapi dan pengolahan limbah tempe di kampung tersebut.

"Hal ini menjadikan Sanan percontohan kawasan urban farming," tutur Ketua Tim Doktor Mengabdi UB, Sasmito Djati pada Senin 16 November 2020.

Selain Sasmito ada dua dosen yang ikut serta dalam program Doktor Mengabdi tersebut yaitu Kuswati dan Tri Eko Susilorini dari Fakultas Peternakan (Fapet) UB. Salah satu anggota Tim Doktor Mengabdi, Kuswati menerangkan bahwa kandang sapi di Kampung Sanan masih sederhana dan kurang higienis.

"Model kandang yang digunakan adalah kandang individu, ditempatkan pada pinggiran sungai. Maka pembuangan limbah kotoran ternak langsung mengarah ke aliran sungai yang dapat menimbulkan masalah lingkungan," katanya.

Ia mengatakan kandang seperti itu akan berdampak pada tidak bertumbuhnya laju populasi sapi. Maka dari itu ia menyarankan agar dibentuk kandang komunal yang pengelolaannya dipegang secara kolektif oleh para peternak.

"Kandang komunal dapat dikelola secara bersama-sama untuk meningkatkan produksi ternak dan sifat kebersamaan dalam kelompok ternak. Selain itu, juga memudahkan manajemen pemeliharaan dan penanganan kotoran ternak, sebagai bahan baku biogas,” ujarnya.

Tata kelola kandang komunal tersebut kata Kuswati harus dibarengi dengan konsep good farming practice seperti tiap bilik kandang berisi 10 ekor sapi, pemberian pakan konsentrat sesuai dengan kebutuhan ternak dan pembuatan instalansi biogas di bawah kandang.

Sementara itu untuk proses penggemukan sapi kata Kuswati para peternak bisa memanfaatkan limbah hasil pengolahan tempe. Karena tipologi masyarakat Kampung Sanan terang Kuswati hampir 90 persen sebagai pengusaha tempe, di samping itu mereka juga beternak sapi yang berjumlah sekitar 800 ekor.

"Penggemukan sapi dilakukan dengan memanfaatkan limbah pembuatan tempe. Kulit biji kedelai dijadikan sebagai pakan utama, sedangkan limbah cairnya diberikan kepada ternak untuk minum," tuturnya.

Dengan begitu terang Kuswati masyarakat Kampung Sanan mampu menciptaan iklim yang mendorong tumbuh kembangnya peran serta masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

18 Jan 2021 11:55 WIB

Presiden Jokowi akan Meninjau Bencana Banjir di Kalsel

Nasional

Presiden akan didampingi Mensos dan Menteri PUPR.

18 Jan 2021 11:43 WIB

Michelle Ulang Tahun, Barrack Obama Cuitkan Kata Mesra 

Internasional

Wapres terpilih Kamala Harris juga ucapkan terima kasih.

18 Jan 2021 11:23 WIB

11 Pegawai Covid-19, Pengadilan Negeri Surabaya Lockdown 5 Hari

Surabaya

Ada 11 orang Pegawai Pengadilan Negeri (PN) Surabaya positif Covid-19.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...