Tujuh Hal Dakwah Gus Miftah, Menebar Rindu Allah bagi Pendosa

07 Sep 2019 07:18 Islam Sehari-hari

KH Mifta’im An’am Maulana Habiburrohman alias Gus Miftah rajin menyambangi pusat lokalisasi dan klub malam. Ia merambah ruang dakwah yang berbeda dengan juru dakwah lain.

"Para pendosa itu nyatanya juga rindu pada Allah. Setiap berdakwah, saya mengajak mereka untuk bershalawat," tutur Gus Miftah, dalam ceramah Hikmah Hijriah di Masjid Al-Akbar Surabaya, usai salat Jumat, 6 September 2019.

Berdakwah, baginya, menjawab dahaga rohani pekerja bisnis hiburan malam. Namun niat baik tidak selalu membawa pujian. Termasuk di antaranya, ketika ia mengikrarkan Deddy Corbuzer masuk Islam.

Berdakwah model begini, pada awal 1990an menjadi perhatian Gus Miek di Surabaya. Sejumlah artis pun berhasil masuk Islam lantaran dakwah Gus Mien.

Kini, Gus Miftah menyirami kehausan rohani kaum pinggiran, mereka yang kerap dianggap pendosa. Mereka pun perlu mendapat sentuhan dakwah.

Berikut 7 Hal penting Dakwah Gus Miftah:

1. Bukan Ustadz Biasa

Mifta’im An’am Maulana Habiburrohman tak terlihat seperti ustadz pada umumnya. Pakaiannya cenderung santai. Bukan kopiah dan baju koko, dia mengenakan blangkon jawa yang dipadu dengan kemeja lapangan. Jemaah dakwahnya pun tergolong unik. Dia berceramah di kelab malam di Bali di hadapan pegawai dan pengunjung yang sebagiannya tidak beragama Islam.

2. Menghadap Kaum Terbuang

Gus Miftah merasa terpanggil untuk datang menghadap kaum yang selama ini dipandang sebelah mata di masjid-masjid, yakni pekerja kelab malam yang sebagian besarnya perempuan.

"Ini adalah tuntutan pekerjaan atau tuntutan hidup yang memaksa mereka menjalani pekerjaan ini untuk bisa bertahan," ujarnya.

Gus Miftah ketika menyampaikan pesanpesan Islam di klub malam Foto istngopibarengid
Gus Miftah ketika menyampaikan pesan-pesan Islam di klub malam. (Foto: ist/ngopibareng.id)

3. Misi Diongkosi Sendiri

"Saya tidak berhak menghakimi mereka," kata dia, "saya di sini hanya untuk membantu mereka agar tidak melupakan Tuhan." Dan sebab itu dia mengongkosi sendiri perjalanannya saat diundang ceramah oleh pemilik Boshe VVIP Club di Kuta, Bali, katanya.

Ia juga menolak saat hendak diberi uang. Untuk nafkah keluarga, kata dia, tidak seharusnya didapat dari kelab malam.

 

4. Membawa Tuhan ke Kegelapan

Selain giat berceramah di dunia remang-remang dan lingkungan esek-esek yang telah dilakoninya selama 14 tahun, Gus Miftah juga Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Tundan di Yogyakarta. Aktivitasnya itu sempat mengundang kecaman dari sejumlah kelompok konservatif. Namun dia didukung oleh Ketua PBNU, Robikin Emhas, yang mengatakan Gus Miftah membawa pesan Tuhan ke tempat tergelap.

 

5. Panggilan Rindu Pekerja Klub Malam

 

Dia mengaku menyambangi Bosche di Kuta lantaran mendapat panggilan kangen dari para pegawai dan pengelola klub. Kepada mereka dia mendakwah tentang manajemen hidup agar bisa mendekat kepada Tuhan. Ia mengingatkan betapa "baiknya Tuhan sama kalian. Buktinya, kalian bermaksiat, tapi Tuhan masih menitipkan rezeki," tuturnya.

 

6. Jalan Berliku Menuju Kegelapan

 

Kiprahnya berdakwah di klub Boshe bermula 2006 silam saat dia mendapat permintaan dari seorang pekerja klub cabang Yogyakarta tersebut. Setelahnya dia melanjutkan upaya dakwah ke pusat lokalisasi, Pasar Kembang. Meski sempat ditolak dan diancam, dia tetap bersikukuh dan akhirnya diizinkan menggelar pengajian.

 

7. Berdamai dengan Malam

 

Pekerja klub Boshe di Bali mengaku menyukai gaya khotbah Gus Miftah lantaran diselipi humor dan cendrung santai. Kebanyakan merasa bisa berdamai dengan pekerjaan yang mereka lakoni setelah bertemu sang ustadz.

“Meskipun kami bekerja seperti ini, kami masih memiliki agama dan kami masih ingin berbuat baik,” kata seorang karyawan perempuan berusia 27 tahun, seperti dikutip sejumlah media.

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini