Trans Papua Ajang Transfer Ilmu, Pendatang dengan Warga Lokal

04 Dec 2018 13:11 Timur Indonesia

Berburu dan bertani dengan sistem ladang berpindah di kawasan pedalaman, jadi keahlian turun temurun warga pedalaman Papua. Kemampuan mengenali jenis tanaman dan hewan yang bisa dikonsumsi, ditransfer ke anak cucu sedari kecil dengan diajak mempraktekkan secara langsung. Kemampuan ini ditunjang akses yang relatif terisolir akibat kondisi geografis alam pegunungan.

Dampaknya, begitu denyut pembangunan menyentuh wilayah pedalaman, seperti di Pegunungan Arfak di Papua Barat, sumber daya manusia (SDM) warga lokal minim terserap. Kondisi ini yang kerap dipandang negatif dengan menempatkan kesan warga asli hanya jadi penonton. Padahal proyek infrastruktur seperti pembangunan jalan, jembatan atau proyek fisik lainnya, membutuhkan keahlian SDM yang mumpuni.

Tetapi ada fenomena lain dalam pembangunan Trans Papua. Kedatangan pekerja yang mayoritas dari luar Papua, ternyata diikuti dengan transfer keahlian. Mereka yang selama ini hanya punya kemampuan berkebun dan berburu, setelah bersentuhan dengan pekerja proyek, mendapatkan ilmu pertukangan yang sebelumnya hanya sekedar pengetahuan mendasar.

“Kami tidak begitu bagus dalam membangun rumah. Setelah bekerja di proyek, banyak kawan mengajari kami cara bertukang yang benar. Begitu juga cara berkebun. Selama ini kan dari nenek moyang kami dulu kalau panen ya sudah pindah cari lahan lain. Itu yang diajarkan,” kata Frederik Hendrik Njoi, Kepala Kampung Njoi di Distrik Kebar, Kabupaten Tambrauw beberapa waktu lalu.

Tidak hanya ilmu pertukangan, kemampuan dalam mengolah material yang mungkin belum pernah dirasakan seperti cara mencampur komposisi yang tepat untuk bangunan tembok, juga coba diserap Hendrik Njoi dan warganya. Hal inilah yang melatari dia sebagai tetua kampung, memberi akses BPJN XVII untuk mengambil material proyek seperti pasir di wilayahnya.

PPK 1.02 Satuan Kerja Penanganan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah Manokwari, Gallain Ginanjar ST membenarkan sikap terbuka Hendrik Njoi. Minimnya kendala penanganan ruas Gunung Pasir-Kebar-Snopy-Jalan Sisu tak lepas dari dukungan warga lokal. Terutama dalam pemanfaatan material pasir. “Kamp pekerja di Kebar juga menggunakan lahan milik bapak Hendrik Njoi,” cetusnya.

Sikap terbuka Hendrik Njoi juga diiringi harapan bahwa di masa mendatang, warga Kampung Njoi bisa memaksimalkan Trans Papua yang melewati wilayahnya untuk kesejahteraan bersama. (gem)

Reporter/Penulis : Moch. Amir


Bagikan artikel ini