Tololnya Intelijen Arab Saudi

13 Nov 2018 16:14 Internasional

Jamal Kashoggi, wartawan Washingthon Post berkewarganegaan Arab Saudi tewas dibunuh agen-agen Arab Saudi. Jamal masuk ke Konsulat Jenderal  Arab Saudi di Istambul  tanggal 2 Oktober 13.08, sejak itu dia tidak keluar lagi.

Intelijen Arab Saudi tidak menyadari, atau tidak mengantisipasi,  bahwa  tunangan Jamal berkewarganegaraan  Turki, Hatice Cengiz, berada di luar kantor konjen. Bahkan Jamal sudah menitip pesan pada tunangannya itu, apabila nanti dalam jangka waktu tertentu dirinya tidak keluar dari konjen, tunangannya disuruh lapor ke polisi Turki.

Jamal berpesan pada tunangannya sambil menyerahkan 2 handphone. Satu hape diantaranya bukan hape biasa, melainkan sudah terhubung dengan arloji yang dipakai Jamal Khashoggi. Arloji itulah yang dipercaya telah merekam interogasi   yang dilakukan para agen Arab Saudi terhadap Jamal, kemudian membunuhnya di dalam Konjen Arab Saudi di Istanbul.

Pembunuhan terhadap Jamal Khashoggi jelas merupakan hasil dari operasi intelijen.  Tetapi operasi intelijen yang tolol dan gegabah. Pelaksanaannya seperti segerombolan preman yang disuruh bos mereka  untuk membunuh  seseorang yang tidak dikehendaki. Karena tolol dan gegabah, pembunuhan dilakukan dengan berbondong-bondong,  tergopoh-gopoh,  tapi sekaligus juga arogan, sehingga mudah dilacak oleh  polisi Turki.

Intelijen Arab Saudi perlu belajar pada intelijen Israel dalam mengekekusi target-targetnya yang pada umumnya adalah orang Palestina. Intelijen Israel tidak pernah meninggalkan jejak, sehingga sulit dilacak.

Misalnya, sampai sekarang polisi Malaysia belum berhasil  menemukan bukti-bukti yang berkaitan dengan terbunuhnya Dr.Fadi al-Batsh seorang ilmuwan sekaligus ulama Palestina di Kuala Lumpur,  21 April 1018 lalu.

Dr Fadi Al Batsh ditembak mati saat berjalan kaki dari rumahnya menuju masjid yang tak jauh dari rumahnya di Kuala Lumpur untuk menunaikan shalat Subuh. Keluarganya yakin benar Fadi dibunuh oleh agen Mossad, karena  dosen penyandang gelar Ph.D dalam bidang teknik elektro asal Gaza ini adalah seorang  pakar perancang bom sekaligus perancang drone. Dia juga seorang hafidz, penghafal Al Quran.

Bandingkan dengan kasus Jamal Khashoggi di Istanbul. Hanya dalam hitungan jam, intelijen Turki sudah mempublikasikan temuan-temuannya, termasuk nama-nama 15 orang agen Arab Saudi yang mendarat di bandara Attaturk Istanbul pada tanggal 2 Oktober,  sebelum dilakukan eksekusi terhadap Jamal. Polisi Turki juga punya catatan, jam berapa dua buah pesawat kecil yang khusus membawa 15 orang itu kembali take off meninggalkan Istanbul kembali ke Riyadh, setelah Jamal dibunuh.

Jamal Khashoggi, pertama kali datang ke Konjen negaranya hari Jumat tanggal 28 September. Kebetulan persis waktunya dengan terjadinya gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Dia ke Konjen untuk mengurus surat-surat karena hendak menikah dengan Hatice Cengiz. Oleh pihak Konjen diminta datang lagi tanggal 2 Oktober.

Sebagai wartawan senior yang  sudah diblack list oleh pemerintah negaranya, Jamal pasti punya firasat, sehingga ketika dia datang lagi sesuai hari yang ditentukan, dia mengajak Hatice Cengiz yang  disuruhnya menunggu di luar Konjen sementara dia masuk ke Konjen.

Kalau tiga jam tidak keluar, segera lapor polisi Turki. Begitu pesan Jamal pada Hatice Cengiz, yang akhirnya memang menelpon polisi karena setelah ditunggu sekitar 5 jam ternyata Jamal belum juga  keluar dari Konjen Arab Saudi. Padahal Jamal masuk Konjen  pukul 13.00 lebih sedikit.

Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana pihak intelijen Turki dua hari kemudian yaitu tanggal 4 Oktober sudah  dapat mengungkap cukup detil pembunuhan terhadap Jamal disertai bukti visual. Tanggal 4 Oktober itu bahkan  Menteri Luar Negeri Turki  Mevlut Cavusoglu sudah memanggil Duta Besar Arab Saudi di Ankara untuk menjelaskan, di mana Jamal Kashoggi karena sejak masuk kantor Konjen dia tak pernah ke luar lagi.

Besoknya, tanggal 5 Oktober, Menlu Mevlut kembali memanggil Duta Besar Arab Saudi, kali ini pemerintah Turki secara remi minta ijin agar polisi diperbolehkan masuk untuk  menggeledah kantor Konjen Arab Saudi di Istanbul. Ijin diberikan dan besoknya polisi Turki masuk ke Konjen dan menemukan keyakinan Jamal dibunuh, dimutilasi kemudian potongan-potongan tubuhnya dilenyapkan menggunakan zat kimia.

Pemerintah Turki dengan dibantu intelijen dan polisi nampak bekerja all out untuk mengungkap kasus Jamal Khashoggi ini, termasuk Presiden Turki Presiden Turki  Recep Tayyip  Erdogan yang bersumpah Turki  akan mengungkap pembunuhan Jamal Khashoggi ini sampai tuntas.

Semua pemimpin negara sekutu Arab Saudi mendesak pemerintah Arab Saudi agar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Semua mata tertuju pada Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman, calon raja pengganti ayahnya, Raja Salman.

Sebelumnya, ditunjuknya Mohammad bin Salman sebagai  Putra Mahkota memang memantik bara yang ada di lingkungan istana. Menurut  konstitusi monarkhi Kerajaan Arab Saudi, pengganti Raja Salman adalah adiknya, yaitu Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz yang kini berusia 70 tahun. Tetapi Raja Salman justru menetapkan putra sebagai pengganti tahta.

Mohammad bin Salman amat berkuasa dan praktis mengendalikan pemerintahan, termasuk menentukan arah kebijakan  hubungan  luar negeri. November 2017, dia menjebloskan sekitar 200 orang pengeran yang tidak lain adalah sepupu dan keponakan-keponakannya juga ke penjara dengan tuduhan korupsi, termasuk sepupunya yang tercatat sebagai orang terkaya dunia yaitu Pangeran Al-Waleed bin Talal. Dua bulan kemudian, tanpa melalui proses hukum, para pangeran itu dibebaskan.

Mohammad bin Salman yang juga merangkap Menteri Pertahanan, memegang penuh kendali militer, polisi dan intelijen. Karena itu pembunuhan yang dilakukan intelijen Arab Saudi terhadap Jamal Khashoggi, kini mengarah pada diri Mohammad bin Salman.

Perkembangan dari kasus Jamal Khashoggi ini bisa saja akhirnya mengarah pada Mohammad bin Salman, yang kini nyaris berkuasa penuh atas kerajaan Arab Saudi meskipun baru berusia 33 tahun.

Bisa saja kemudian sang ayah yaitu Raja Salman mencabut kembali ketetapannya menjadikan  Mohammad bin Salman sebagai Putera Mahkota, dan menyerahkankannya kepada adik kandung Mohammad yaitu Pangeran Khalid bin Salman yang kini berusia 30 tahun.

Tapi bisa juga dari pembunuhan Jamal Khashoggi ini ada tokoh lain yang dimunculkan sebagai kambing hitam, kemudian dihukum, sementara Sang Putera Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman bebas dari segala tudingan, dan tetap makin kokoh berkuasa.

Jamal Khashoggi yang tadinya dianggap duri oleh kerajaan Arab Saudi sehingga harus dilenyapkan, kini telah menjadi bom yang yang jauh lebih berbahaya, yang sewaktu-waktu bisa meledak. Seandainya  bom itu nanti benar-benar meledak, penyebabnya tidak lain karena tololnya intelijen Arab Saudi. (m. anis)

 

 

Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini