AKRAB: KH Yahya Cholil Staquf ketika bersama Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence di AS. (foto:KH Yahya C Staquf for ngopibareng.id)

Tokoh NU Bertemu Wapres AS Mike Pence, Ini yang Terjadi

20 May 2018 08:25

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

"Saya berjalan ke pintu itu dan Pak Pence mengiringkan. Sampi di dua pintu yang berseberangan, Johnie dan Tom menggamit saya untuk belok ke pintu sebelah kanan, sedang Pak Pence masuk pintu kiri. Belum sempat masuk pintu kanan itu, Pak Pence teriak," kata Gus Yahya.

KH Yahya Cholil Staquf, Katib Syuriah PBNU, bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence. Ini merupakan pertemuan khusus bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan pemerintah AS.

Seperti tokoh NU pada umumnya, pertemuan itu berlangsung rileks dan dengan suasana cair, dengan penuh keakraban. Untuk ngopibareng.id, berikut Gus Yahya, panggilan akrab Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibiin Rembang ini, memberikan catatannya.

VICE POTUS ITU ARTINYA WAKIL PRESIDEN

Entah ada berapa pintu di kantor Wapres di Gedung Putih. Johnie Moore, Steve Pinkos dan Tom Rose membawa saya masuk, lewat lorong pendek, naik tangga, lorong lagi, lalu ruang tunggu yang tak terlalu luas. Vice Potus Pence sedang menerima tamu lain.

Nunggu sekian menit, seorang staf kasih kabar sambil minta maaf karena mendadak Vice Potus dipanggil Potus ke Ruang Oval, diajak ikut menemui seorang tamu negara. Ia minta saya tetap menunggu, karena Vice Potus tak mau membatalkan jadwal untuk saya.

Agak lama kemudian, baru seorang staf tinggi besar yang mungkin ajudan memberi tahu saya agar masuk ruangan Pak Pence. Vice Potus menyambut hangat sekali sambil bolak-balik minta maaf karena sudah memaksa saya nunggu.

Foto-foto, duduk, foto lagi, lanjut bertukar cakap sambil terus difoto-foto.

“Anak perempuan saya —Anda ingat ‘kan? Yang saya ajak ke Jakarta dulu— sampai hari ini masih suka mengenang-ngenang pertemuan kita waktu itu!”

Saya ketawa lebar dan demi Tuhan sama sekali tak terbersit rasa GR mau diambil mantu.

Percakapan selanjutnya berat tapi singkat-padat. Dua puluh menitan. Lalu Pak Pence memberi gestur perpisahan dan saya pun pamitan.

“Silahkan. Silahkan”, Pak Pence menyentuh pundak saya dan menunjuk pintu keluar.

Saya berjalan ke pintu itu dan Pak Pence mengiringkan. Sampai di dua pintu yang berseberangan, Johnie dan Tom menggamit saya untuk belok ke pintu sebelah kanan, sedang Pak Pence masuk pintu kiri. Belum sempat masuk pintu kanan itu, Pak Pence teriak,

“Oooiiii! Mau kemana? Sini! Saya ini mau ngantar Anda keluar je!” (Tapi ya pakai Bahasa Inggris dan nggak pakai “je” gitu).

Kami semua ketawa dan saya mengikuti Pak Pence menuju halaman Gedung Putih tanpa melewati tangga seperti pada waktu masuk.

Pak Pence memamerkan pemandangan halaman yang asri, menjabat tangan saya lagi sambil bilang ingin segera ada kesempatan ketemu lagi, lalu melepas saya pergi. *