Titah dan Tuah Wiranto

14 Oct 2019 16:23 Ajar Edi
Ujar Ajar

Pak Wiranto, Menko Polhukam itu, ditikam di Pandeglang, Jawa Barat pada Kamis, 11 Oktober 2019. Namun, tuahnya merambat ke mana-mana. Ada yang kehilangan jabatan Dandim Kendari sampai ancaman pidana.

Ada juga para pembezuk yang ikut terekspose jadi berita. Mereka mengubah dirinya jadi juru bicara dokter. Memang dianjurkan untuk menenggok orang yang sakit.

Namun, kalau kemudian menjelaskan kondisi sakit dan penangganannya tentu berlebihan. Urusan penyakit adalah hal privasi dan kerahasiaan pasien. Betul, Pak Wiranto adalah pejabat publik. Semua orang ingin tahu kondisinya.

Tapi lebih elok kalau dokter saja yang memberi penjelasan. Mereka yang punya otoritas itu. Komentar pembezuk, seharusnya hanya memberikan doa agar beliau cepat sembuh.

Namun, ada juga yang berpikiran lain. Publik harus diberikan penjelasan sebenarnya. Karena ada rumor yang mengatakan kejadian itu disetting. Demi menaikkan daya tawar Pak Wiranto.

Tapi untuk yang satu itu, dalam konteks sekarang, mohon dikesampingkan. Kalau kejadian itu dianggap settingan, tentu kita merendahkan kapabilitasnya.

Sebagai mantan perwira tinggi, Pak Wiranto sudah melewati perjalanan yang komplit. Dari penguasa teritorial hingga ke pucuk, jadi panglima. Hanya sedikit sekali yang bisa mencapai posisi itu. Karena banyak hal yang harus dilewatinya.

Kemampuan pikiran, manajerial, bekerja di bawah tekanan, dan cepat mengambil keputusan. Yang pasti, kemampuannya dianggap di atas rata-rata perwira tinggi lainnya. Tak heran, mereka harus siap dalam kondisi apa pun.

Yang pasti dia terbiasa berkompetisi. Termasuk urusan politik. Namun, hanya ada dua purnawirawan TNI, yang punya nafas kompetisi berpolitik tinggi.

Jam terbang keduanya seng ada lawan. Mahir tentu saja. Pak Wiranto dan Pak Prabowo Subianto.

Keduanya sudah berkompetisi ketat. Bahkan, sejak masih aktif memegang senjata. Hingga saat sama-sama jadi ketua partai.

Dulu, perseteruan keduanya ditandai dengan terpentalnya Pak Prabowo dari kursi Pangkostrad. Saat itu, Pak Wiranto adalah Panglima ABRI. Keduanya ada figur terkuat militer untuk meraih kursi politik tertinggi itu.

Pak Prabowo adalah rising star, sinarnya terang. Jenderal bintang tiga termuda serta menantu Pak Soeharto. Di sisi lain, Pak Wiranto adalah mantan ajudan Pak Soeharto. Jadi keduanya sama-sama dekat.

Dalam bukunya "Bersaksi di Tengah Badai”, Pak Wiranto mengaku mendapat laporan sepak terjang Pak Prabowo. Termasuk pertemuannya dengan tokoh-tokoh muslim populer saat itu. Bagi orang awam, kegiatan itu wajar. Apalagi Pak Prabowo dikenal punya jaringan kuat dengan tokoh muslim.

Tapi, bagi Pak Wiranto yang bos tentara, itu memunculkan tanda tanya. “Namun, di dalam kehidupan militer, kegiatan semacam itu jelas tidak dapat dibenarkan, karena menyalahi aturan,” tulisnya.

Di matanya, Pangkostrad berorientasi pada wilayah, tugas, dan tanggung jawabnya. Terutama menggerakkan pasukan atas perintah Panglima ABRI. Bukan ke sana kemari ngurusin masalah politik dan kenegaraan.

“Walaupun hal itu dilakukan, harus sepengetahuan pimpinan. Bukan atas kehendak sendiri dan sama sekali tidak melaporkan kepada atasan,” tambahnya.

Selain urusan lapor melapor itu, Pak Wiranto juga mendapat informasi penting lainnya. Pangkostrad menghadap Presiden Soeharto. Pada 16 Mei 1998, sekitar 22.30 WIB.

“Melaporkan bahwa Menhamkan/Pangab telah berkhianat terhadap presiden, yang berarti telah berkhianat terhadap pemerintah yang sah,” tulisnya. Menurutnya, laporan itu bagian dari penyingkirannya. Dia pun memberikan teguran keras kepada Pak Prabowo.

Searak waktu, kompetisi keduanya, bergerak ke level tertinggi di urusan politik. Berebut kursi paling panas di negeri ini. Rebutan jadi presiden.

Pertarungan kedua, tentu diajang Konvensi Presiden Partai Golkar 2003. Pak Wiranto, lagi-lagi mengalahkan Pak Prabowo. Ada momen keduanya bertemu dan tertawa lepas bersama.

Namun, cerita berakhir sama untuk keduanya. Ternyata dunia punya cara untuk mewujudkan keseimbangan baru. Akhirnya, sampai saat ini, tak ada yang mendapatkan kursi itu.

Malah diambil Pak SBY. Yang mengalahkannnya lewat lagu Pelangi di Matamu, pada Acara Grand Final Akademi Fantasi Indosiar (AFI) 2 pada Sabtu, 19 Juni 2004. Penampilan dan pilihan lagu Pak SBY, membuat publik akhirnya memilihnya saat Pemilu.

Padahal, ada masa, Pak SBY adalah pelengkap Pak Wiranto. Sebagai Kasospol ABRI, dia mendampingi Pak Wiranto saat menyampaikan keputusan ABRI atas kerusuhan Mei. Saat itu, Pak SBY hanya berdiri di belakangnya.

Tapi, guratan sejarah dan garis tangan memang punya mantranya sendiri. Pak Prabowo dan Pak Wiranto juga membuat partai politik sendiri: Gerindra dan Hanura.

Untuk yang satu ini, Pak Prabowo bisa menepuk dada. Partainya mendapatkan suara terbanyak kedua pada Pemilu 2019. Sedang Hanura, bahkan tak lolos ambang batas.

Saya bertemu Pak Wiranto dua kali. Yang pertama, di kantornya. Saat itu, Pak Wiranto berbagi kisah hidupnya.

“Saya sudah pernah berkompetisi jadi calon presiden, calon wakil presiden. Semua sudah lengkap,” ungkapnya dengan takzim.

“Komplit, tak ada lagi yang saya cari,” tegasnya. Hal itu diungkapannya, beberapa saat setelah dia diajak Pak Jokowi ke pemerintahan. Kembali menjadi Menko Polhukam.

“Kursi ini, dulu saya duduki 16 tahun lalu,” tambahnya sambil tertawa renyah. Kembalinya Pak Wiranto, menunjukkan kelasnya.

Wajahnya tak pernah berubah. Awet saja. Sejak dulu, saat gerakan masa pada Mei 1998 lantas saat ramai mahasiswa pada akhir September 2019, yang menuntut pencabutan revisi UU KPK.

Wajahnya dan kutipannya jadi buruan awak media. Bahkan, muncul anekdot dari mantan aktifis 98, apa pun gerakannya, yang dihadapi tetap sama: Pak Wiranto.

Momen yang paling diingat publik di kejatuhan Pak Soeharto, seusia penyerahan kekuasaan ke Pak Habibie di Ruang Credential, Istana Negara. Pak Wiranto langsung maju. Berbicara tegas di mikropon, di depan kamera televisi.

“ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan Presiden/Mandataris MPR, termasuk mantan Presiden Soeharto dan keluarga,” katanya.

Di balik pro kontra atas sikapnya dulu, yang mungkin lebih banyak kontranya, tentu ada hal yang bisa dipelajari darinya. Makin tinggi gelombang masalah yang dihadapi, setinggi itu pula keuntungan yang bisa diraih.

Tinggal bagaimana kita lincah meniti buih masalahnya. Dalam bahasa Jawa, ada peribahasa yang pas. Sluman, slumun, slamet. Dan Pak Wiranto menunjukkannya kepada kita.

Artinya, dalam gelombang apa pun, dia selalu selamat. Ini melengkapi dua idiom Jawa lainnnya nan penting. Dia selalu terlihat waras, artinya sehat lahir dan batin, dan wasis yang artinya pintar.

Pertemuan kedua saya dengan Pak Wiranto, di sebuah acara resepsi pernikahan. Setelah sedikit basa-basi, saya pun meminta foto bersama. “Tapi, jangan selfie ya,” pintanya.

 

Ajar Edi, kolomnis “Ujar Ajar” di ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini