Pakar Komunikasi Unair, Prof Rachma Ida dalam webinar Unair, kemarin. (Foto: Dok Humas Unair)

Pakar Sebut Penyebaran Info-Demic Lebih Cepat dari Covid-19

17 Sep 2020 12:10

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Penyebaran info-demic menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi masyarakat di tengah pandemi Covid-19 ini. Info-demic secara umum adalah banyaknya disinformasi berita yang tersebar luas.

Tidak sedikit informasi hoaks beredar dalam situasi pandemi virus Corona sekarang ini yang menjadi sorotan utama berbagai media. Bahkan, disinformasi tersebut justru lebih dipercaya dan dapat menyebabkan kepanikan tersendiri bagi masyarakat.

Pakar Komunikasi Unair, Prof Rachma Ida mengatakan info-demic dan contoh nyata beberapa berita yang sempat ramai menghiasi media dunia. 

Contoh judul berita yang memicu kepanikan masyarakat di awal pandemi lalu, "Seorang Relawan yang Telah Disuntik Vaksin Covid-19 di Bandung Kabarnya Positif Covid-19”.

“Judul itu bisa membuat persepsi masyarakat bahwa vaksin dapat menularkan virus dan mereka akan takut dengan vaksin. Padahal, judulnya saja masih menggunakan diksi ‘kabarnya’ dan belum tentu yang menyebabkan positif adalah vaksin,” katanya dalam acara webinar bertajuk “Media dan Info-Demic: Menata Berita dan Bencana Stigma Sosial."

Lebih lanjut, Prof Ida juga menyebutkan bahwa info-demic dapat menunjukkan terjadinya Communal Perseption, yaitu keadaan di mana suatu informasi yang dilaporkan dan dikonsumsi dapat mempengaruhi tingkah laku dan psikologi masyarakat.

Banyaknya miss-informasi bisa menyebabkan manusia menjadi paranoid, ketakutan berlebih, bahkan dapat melakukan hal-hal yang mebahayakan bagi dirinya sendiri.

“Sayangnya, karena tidak memiliki standar maupun kode etik fake news, penyebaran disinformasi di berbagai media ini lebih cepat dibandingkan penyebaran virus Corona,” katanya.

Sementara itu, Wartawan Jawa Pos Ariyanti Kurnia Rakhmana mengatakan, jurnalis sendiri sebenarnya mengalami kebingungan dalam menyampaikan berita di tengah pandemi covid-19. Mengingat, pandemi merupakan hal yang baru dialami sehingga tidak ada rumus paten bagaimana cara mencari dan mengabarkan berita.

“Media tidak punya literatur apapun dalam menghadapi pandemi sehingga kami terus mencari formula baru, bagaimana harusnya menyampaikan berita yang baik tanpa menimbulkan kepanikan masyarakat,” katanya.

Terkait dengan banyaknya fake news yang beredar, Ariyanti menyarankan kepada pembaca untuk tidak gampang menyebarkan informasi tanpa mengecek kebenaranya terlebih dahulu. Dia juga menyarankan untuk tidak meng-klik link berita tersebut, karena semakin banyak yang akses berita itu maka semakin banyak pula iklan dan dapat melanggengkan media itu sendiri.