TELITI: Rilis soal penelitian terkait perceraian di kalangan umat Islam. (foto: ist)

Tingginya Angka Gugat Cerai WNI di Hong Kong, Ini Alasannya

Khazanah 13 November 2017 16:26 WIB

Jakarta: Hasil penelitian yang dilakukan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan  Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia terhadap pasangan perkawinan Warga Negara Indonesia (WNI) yang melakukan gugat cerai di Hong Kong cukup banya. Dari tahun ke tahun, angkanya terus naik.

Berdasarkan dokumen dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, menyebutkan, pengajuan gugat cerai pada 2014 sejumlah 2.971 orang; pada 2015 pengajuan gugat cerai tercatat 3.280 orang, pada 2016 pengajuan gugat cerai sebanyak 3.579 orang, sementara baru pada Januari-Mei 2017 pengajuan gugat cerai sejumlah 1.387 orang.

Dalam siaran pers diterima ngopibareng.id, Senin (13/11/2017), ia memaparkan sejumlah kemungkinan penyebab meningkatnya jumlah gugat cerai.

Pertama, kemungkinan bagi WNI hidupnya merasa nyaman di negara orang (Hong Kong), sementara suami yang tinggal di Indonesia hanya menunggu kiriman dari istri yang bekerja di Hong Kong karena tidak memiliki pekerjaan atau tidak mau bekerja.

Kedua, dimungkinkan karena tidak mengerti arti penting dari suatu pernikahan. Ketiga, kepergian seorang istri menjadi TKI sudah membawa permasalahan dalam rumah tangga.

“Sehingga setelah di Hong Kong merasa hidupnya lebih baik mereka berani menggugat cerai suaminya,” ujar Mukhtar, yang sebelumnya tampil pada Seminar Hasil Penelitian Pencataan Perkawinan WNI di Luar Negeri di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (3/11/2017).

Kementerian Agama sendiri pada 2016 melalui KJRI telah melakukan sosialisasi di aula KJRI tentang pentingnya pencatatatan perkawinan dan pentingnya membina keluarga yang sejahtera terhadap 80 buruh migran.

Namun demikian, pembinaan agama dan sosialisasi dari pemerintah yang berkaitan dengan perkawinan terhadap tenaga kerja Indonesia yang berada di Hong Kong belum maksimal diisebabkan minimnya anggaran yang tersedia.

“Dan ketika TKI di penampungan, tenaga kerja kurang pembinaan,” ujarnya.

Penelitian sendiri dilakukan Mukhtar dan Selamet pada 24 April sampai 3 Mei 2017. Selain di Hong Kong, Puslitbang Bimas Agama dan Layanan  Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik juga melakukan penelitian di Belanda, Malaysia, dan Arab Saudi. (adi)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

03 Apr 2020 15:07 WIB

VIRAL! Video Siti Aisyah Mengetuk Pintu Rumah Syaikh al-Buthi

Khazanah

Penulis kitab "Aisyah Ibunda Umat Islam".

01 Apr 2020 17:45 WIB

Wabah Corona, Kemenag Kota Malang Perkenalkan Nikah Online

Jawa Timur

Nikah online di Malang tinggal daftar di simkah.kemenag.go.id.

01 Apr 2020 01:40 WIB

WFH, Kemenag Buka Pendaftaran Nikah Online

Nasional

Kemenag buka pendaftaran nikah online.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.