Tim Monitoring Temukan Cacing Gelang Dalam Pencernaan Sapi

11 Aug 2019 18:14 Jawa Timur

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri Jawa Timur terjunkan tiga tim secara bersamaan untuk melakukan monitoring hewan kurban. Tiga tim langsung melaksanakan pemantauan menyebar di tempat penyembelihan sekaligus pendistribusian daging kurban di tiga Wilayah Kecamatan, yakni Pesantren, Kota, dan Mojoroto.

Satu tim terdiri dari enam sampai tujuh orang, hasil dari monitoring yang telah dilakukan, tim telah menemukan cacing gelang berwarna putih yang masih hidup bersarang di dalam organ tubuh pencernaah hewan kurban jenis sapi yang sudah disembelih.

Menurut Drh Moch. Yunus, temuan cacing gelang tersebut diketahui ketika dilakukan pemeriksaan di salah satu tempat panitia pemotongan hewan kurban di Wilayah Kecamatan Pesantren. Atas temuannya itu, biasanya tim kemudian merekomendasikan untuk membuang cacing tersebut. Sementara organ pencernaan hewan kurban yang di dalamnya ditemukan cacing, dinyatakan  masih layak untuk dikonsumi dengan syarat harus dibersihkan terlebih dahulu.

"Cacing gelang dari pencernaan itu biasanya, kalau cacing dikonsumsi ya berbahaya lah. Tapi kan di pencernaanya, untuk cacingnya dibuang saja. Pencernanya masih bisa," Urai Drh Moch Yunus, Kordinator Tim Monitoring  Kecamatan Kota  Minggu 11 Agustus 2019 siang saat ditemui di Polsek Kota Kediri.

Pemeriksaan post-mortem hewan kurban meliputi paru-paru, hati, limpa, ginjal serta bagian vital pencernaan. Organ tubuh hewan  yang dimaksud tadi selama ini diindikasi rentan terjangkit berbagai macam penyakit.

"Kalau paru-paru dia rawan TBC, namanya Turbekel. Terus di hati ada kemungkinan cacing hati kalau dibelek itu, terus Limpa rawan penyakit antraks itu bisa menyerang manusia. Sejauh ini di wilayah Kota tidak ada temuan, cuman di Kecamatan Pesantren," ungkapnya.

Pelaksanaan monitoring mulai dilakukan selesai salat Idul Adha, dan berakhir pukul 12.00 WIB. Hasil monitoring ini, kemudian dilaporkan langsung ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri Jawa Timur.

Drh Moch. Yunus menjelaskan, temuan-temuan semacam ini akan disosialisasikan kepada masyarakat. Sehingga ke depannya, masyarakat lebih waspada terhadap berbagai macam penyakit hewan kurban dan mengetahui bagaimana caranya mengolah hewan kurban agar aman untuk dikonsumsi. (fen)