Tim Jalapatih dari ITS yang berlaga di Solar Sport One di Belanda. (Dokumentasi)
Tim Jalapatih dari ITS yang berlaga di Solar Sport One di Belanda. (Dokumentasi)

Tim Jalapatih ITS Raih Juara Solar Sport One 2018 di Belanda

Ngopibareng.id Teknologi dan Inovasi 10 July 2018 17:10 WIB

Tim Jalapatih Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang tergabung dalam ITS Marine Solar Boat Team (MSBT)  sukses meraih posisi terbaik ketiga dari 21 tim yang berpartisipasi dalam kategori Top Speed Record di ajang Solar Sport One 2018 di Groningen, Belanda, pada Senin 9 Juli 2018.

Solar Sport One 2018 sendiri merupakan ajang kompetisi untuk kapal bertenaga surya yang digelar oleh Solar Sport One Foundation dan diikuti 29 tim dari delapan negara. Event tahun 2018 ini merupakan kali ketiga bagi ITS untuk berpartisipasi, setelah mengirim perwakilannya pada tahun 2014 dan 2016.

Jalapatih 3 berhasil menembus kecepatan hingga 23,5 km/jam. Hasil ini membuat ITS mengungguli berbagai tim dari Belanda, Polandia, Belgia, dan Portugal. Peringkat ITS juga berada paling atas diantara tim-tim se-Asia.

Dalam kategori Stage(s) dari kota Esonstêd ke kota Leeuwarden, Jalapatih 3 mampu berlayar sejauh 39 kilometer nonstop. “Saat itu kondisi cuaca sangat minim intensitas cahaya matahari,” ujar manajer Tim ITS Marine Solar Boat, Fadilah Kurnia saat dihubungi melalui pesan online, Selasa 10 Juli 2018.

Sementara itu, pada kategori Sprint lomba dilakukan dua kali yaitu di kota Groningen dan Leeuwarden. “Di kota Groningen, kami berhasil menyelesaikan race dengan perolehan waktu 15 detik dan masuk peringkat enam besar. Sedangkan di kota Leeuwarden, Jalapatih 3 mampu finish dengan perolehan waktu dua menit dan masuk peringkat 10 besar” ungkap Fadil.

Kapal Jalapatih 3 yang siap berlaga di Solar Sport One 2018 Dokumentasi Kapal Jalapatih 3 yang siap berlaga di Solar Sport One 2018. (Dokumentasi)

Fadil pun menceritakan perjuangan mendapatkan juara pun tak berjalan dengan mulus. Tidak sedikit permasalahan muncul di tengah perlombaan. “Ada banyak permasalahan yang kami temui seperti kondisi kesehatan anggota tim yang harus bermalam di tengah dinginnya camping site, juga minimnya intensitas cahaya matahari ketika perlombaan,” jelas mahasiswa Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) ITS ini.

Perubahan mendadak terkait regulasi oleh panitia pun sempat menjadi hambatan tersendiri bagi Jalapatih. Karena perubahan regulasi itu, tim Jalapatih harus harus memutar otak untuk bisa lolos inspeksi dan mendapatkan hasil  terbaik pada beberapa kategori.

“Kami sadar hasil ini masih jauh dari kata sempurna, namun kami cukup bangga dengan hal ini dikarenakan perkembangan yang sangat pesat dari kompetisi sebelumnya di tahun 2016,” ungkapnya.

Tak lupa, tim Jalapatih juga mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu tim serta  terjun langsung membantu tim selama berada di Belanda. “Khususnya kepada orang tua, jajaran pimpinan ITS, dosen pembimbing, keluarga MSBT, para partner serta sponsor yang selama ini selalu mendukung tim Jalapatih, Pihak KBRI Den Haag, Bapak Din Wahid selaku Atikbud, dosen kami Bapak Indrajaya yang turut hadir dalam perlombaan untuk mendukung, warga Indonesia dan Suriname yang banyak membantu tim dalam hal logistik dan akomodasi,” pungkasnya. (amm)

Penulis : Amanah Nur Asiah

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

01 Mar 2021 10:17 WIB

Lembah Kematian

Dahlan Iskan

Jika tidak ada dewa, I-Nose temuan ITS ini bisa berada di lembah kematian

26 Feb 2021 17:50 WIB

Begini Cara Kerja Alat Deteksi Covid Pakai Bau Ketiak

Jawa Timur

Alat buatan Guru Besar ITS ini banyak digunakan di Surabaya.

26 Feb 2021 16:25 WIB

Mahasiswa ITS Ciptakan Rumah Pintar Membuat Garam Berkualitas

Pendidikan

Rumah garam itu dinamakan Smart House Salt Maker.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...