Tiga Pesan Haedar Nashir, di Depan Bibit Pemimpin Bangsa

05 Sep 2019 05:25 Khazanah

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengingatkan, organisasi yang dipimpinnya lahir, tumbuh dan berkembang baik di negeri tercinta. Bahkan, menurutnya, sekarang Muhammadiyah sudah meluas ke 27 negara.

"Muhammadiyah hadir tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi Muhamamdiyah hadir untuk mencerdaskan, umat, bangsa dan kemanusiaan semesta," ucap Haedar, Rabu 4 September 2019.

Dari rahim Muhammadiyah lahir para pahlawan nasional yang memiliki peran besar dalam memajukan, bahkan dalam masa perjuangan ikut berjuang untuk kemerdekaan Negara Indonesia.

"Kita harus bisa belajar dari tokoh-tokoh bangsa. Yang intinya adalah mereka anak-anak muda awal yang cerdas dan tercerahkan. Kemudian hadir menjadi tokoh bangsa yang membawa peradaban pencerahan itu untuk kemerdekaan dan membangun Indonesia.

"Karena itu di kampus ini anda harus belajar sejarah, sekaligus juga menatap masa depan untuk menjadikan diri sebagai orang-orang yang bermakna bagi kehidupan," tutur Haedar.

Sebelumnya, Haaedar menghadiri Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Dome UMM. Ia bicara di hadapan 7.000 mahasiswa baru UMM.

Dalam kesempatan itu Haedar juga menyampaikan tiga pesan:

Pertama

Jadikan kampus sebagai tempat untuk menempa diri dengan kekuatan karakter al akhlak al-karimah.

"Jadilah anak-anak bangsa dan generasi umat yang berkarakter mulia. Orang-orang sukses, orang-orang yang diukir peran sejarahnya dalam perjalanan peradaban bangsa adalah orang-orang yang punya karakter jujur, terpercaya, kuat kemauan, dan berperilaku mulia," pesan Haedar.

Kedua

Muhammadiyah menanamkan nilai-nilai dan tradisi iqro’ bagi generasinya termasuk di kampus-kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).

"Ayat pertama, surat pertama, dan wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT lewat Nabi Muhammad SAW bukan tentang shalat, zakat, puasa. Tetapi iqro. Iqro bukan hanya sekadar tradisi membaca, namun juga tradisi mewujudkan ulul albab, yang mana kekuatan berfikirnya bersinergi dengan kekuatan berdzikirnya," ungkap Haedar.

Ketiga,

Jadilah orang-orang yang punya kekuatan untuk bersungguh-sungguh, kerja keras dan dalam hidup selalu beramal kebajikan.

"Setinggi-tingi anda berilmu, ilmu itu tidak akan ada maknanya ketika tidak diamalkan. Ilmu tidak mengajarkan orang berada di Menara Gading. Lihatlah tokoh-tokoh bangsa kita, betapapun ilmunya tinggi tetapi mereka berkhidmat untuk umat, untuk bangsa, bahkan tanpa perlu menjadi seperti orang-orang yang selalu demam pangung.

"Hidup tokoh-tokoh yang lahir dari rahim Muhammadiyah selalu bersahaja. Karena di dalam dirinya ada jiwa yang membentuk untuk beramal kebajikan buah dari ilmu dan kekuatan iman yang mencerahkan," tutur Haedar.

Pada bagian akhir, Haedar menyampaikan, negeri ini akan menyambut era emas atau satu abad Indonesia. Bagi Haedar, generasi emas harus lahir satu diantaranya adalah orang-orang yang mau berkhidmat memajukan, mencerdaskan, dan mencerahkan bangsanya tanpa pamrih.

"Jadikanlah ilmu yang didapatkan itu untuk berbakti dan berkhidmat memajukan bangsa. Bangsa kita masih terus harus berlomba, berfastabikul khairot dengan bangsa-bangsa yang lain. Ketika nanti anda menjadi tokoh-tokoh bangsa di manapun berada, jangan mementingkan diri sendiri, atau mementingkan kelompok sendiri. Tapi perhatikan dan perjuangkan kepentingan, umat, bangsa, bahkan kemanusiaan universal," kata Haedar Nashir.

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini