KH Muhammad Hasyim Asy'ari, Pendiri NU. (Foto: Istimewa)
KH Muhammad Hasyim Asy'ari, Pendiri NU. (Foto: Istimewa)

Tiga Maklumat KH Hasyim Asy'ari, Pegangan Penting untuk Berjuang

Ngopibareng.id Khazanah 17 August 2020 08:17 WIB

Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) jauh sebelum Indonesia merdeka -- berdiri 1926 -- telah berjuang dalam memajukan bangsa Indonesia. Tentu saja, untuk meraih kemerdekaan di masa depan. Yakni, kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asy’ari telah menyampaikan tiga maklumat untuk pegangan Nahdliyin dalam menghadapi berbagai perubahan yang akan terjadi.

Dokumen maklumat ini masih belum banyak yang mengetahui, termasuk para ulama di lingkungan organisasi NU. Karena itu, mulai sekarang harus mengetahui dan memahami dokumen historis itu.

Tiga butir (nuqthah) maklumat ini posisinya sangat penting sebagai pedoman pengurus NU dalam menjalankan dan mengelola organisasi.

 

"Maklumat ini terbit pada tahun 1335 H. Naskah maklumat kami peroleh dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan kami diberi amanat oleh beliau untuk menyampaikannya kepada para alim ulama dalam Jamiyah NU dan kepada warga NU."

Demikian kata Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidulloh Shodaqoh di hadapan puluhan ulama dan kiai Pengasuh Pesantren se Kabupaten Cilacap di Aula Pesantren Putri Al-Hidayah Kroya, Cilacap, Sabtu 15 Agustus 2020.

Maklumat ini didapatnya dari Mustasyar PBNU KH Musthofa Bisri (Gus Mus) yang juga pengasuh pesantren Raudlatul Thalibien Leteh Rembang dan diamanatkan untuk disampaikan kepada alim ulama NU dan seluruh warga NU.

Menurutnya, maklumat ini bersifat tetap sejak disampaikan oleh Mbah Hasyim dan berlaku secara terus menerus alias tidak terputus. Pengurus NU di berbagai tingkatan yang ada, boleh melaksanakan tajdid, tapi tidak boleh memutus aktivitasnya dengan tiga isi dari maklumat yang nerupakan Garis Muassis ini.

"Butir pertama itu disebutkan bahwa tujuan NU adalah mempersatukan barisan ulama dan mengikatnya dengan satu ikatan. Sungguh tidak diragukan lagi bahwa persatuan dan kesepakatan adalah senjata ampuh yang dimiliki oleh manusia untuk menggapai tujuan-tujuannya," ujarnya.

Poin pertama, menekankan bahwa ikatan dalam jamiyah NU bersifat membariskan. Melalui Nahdlah, barisan ulama Jamiyah NU bergerak. Gerakannya ini bersifat terus menerus dan tidak keluar dari bingkai atau ikatan yang sudah ditetapkan.

Jika ulama berhimpun dengan kokoh dalam Jamiyah Nahdlatul Ulama, maka akan banyak sekali bahaya yang bisa dihindari. Utamanya adalah bahaya yang mengancam persatuan dan kesatuan.

"Apalagi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini, di mana banyak sekali pihak yang terus mengusik barisan ulama di dalam organisasi NU dan mengancam persatuan dan kesatuan internal NU," ujarnya.

Poin kedua, antara lain berbunyi "Sesungguhnya jamiyah kita sangat membutuhkan sumbangan tenaga para pegiat organisasi yang tangguh. Allah SWT telah berfirman yang artinya; “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan menolongmu untuk mengalahkan musuhmu dan Allah akan mengukuhkan kedudukanmu dalam pertempuran (QS. Muhammad:7)

Masih menurut bunyi maklumat, Mbah Hasyim Asy’ari menyatakan “pertolongan pada Allah itu dengan meluhurkan kalimat-Nya, dakwah dengan sempurna dan membela kehormatannya. Demikian itu tidak akan terlaksana kecuali kita betul-betul mematuhi ketentuan yang terdapat dalam muqarrarat yang telah kita sepakati bersama”.

Bagi Kiai Ubaid, pesan maklumat butir kedua ini berhubungan dengan ketahanan organisasi NU, ketahanan para ulama yang berkhidmah di dalamnya dan ketahanan aturan dalam berorganisasi.

“Kemandirian organisasi NU menjadi tolak ukur ketangguhan. Ketaatan pada aturan organisasi juga merupakan pilar ketangguhan. Organisasi NU di tangan para alim ulama harus mampu mempengaruhi, bukan melulu dipengaruhi. Harus mampu mendorong kebijakan-kebijakan, terutama kebijakan pemerintah untuk kemaslahatan umum," ungkapnya

Poin ketiga, Mbah Hasyim Asy’ari menyatakan; "Sesungguhnya organisasi kita yang diberkahi telah memperoleh simpati orang umum. Demikian tiada lain karena organisasi ini bergerak untuk kemaslahatan dan kebaikan dunia akhirat mereka...”.

Menurutnya, maklumat ini memberikan amanah sekaligus tantangan bagi Jamiyah NU. Banyak harapan yang disampaikan oleh masyarakat agar NU mengambil peran yang lebih baik dan lebih strategis. Tidak hanya masalah diniyah, keagamaan, melainkan juga masalah ijtimaiyah, sosial kemasyarakatan, bahkan siyasah, atau politik dan kebijakan.

Menurutnya, saat ini tauhidushufuf al-Ulama, kesatuan barisan Ulama semakin dibutuhkan. Keberadaannya di dalam jamiyyah NU harus dikuatkan agar semakinl tangguh dan kepercayaan masyarakat terhadap organsasi NU semakin meningkat.

"Kami berharap kepada para alim ulama untuk menangkap kembali amanah dari maklumat Mbah Hasyim dan menjadikannya ruh baru dalam berorganisasi," tuturnya.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

22 Jan 2021 05:17 WIB

Saatnya Politisi Puasa Bicara

As’ad Said Ali

Tak memolitisasi pandemi Covid-19

22 Jan 2021 03:08 WIB

Saat Peradaban Barat Mundur, Tak Otomatis Islam Jadi Alternatif

Khazanah

Prof Azyumardi Azra tentang perdamaian dunia

22 Jan 2021 02:38 WIB

Yudi Latif: Muhammadiyah, Bentuk Terbaik Politik Identitas

Khazanah

Di tengah politik identitas menjadi masalah sekarang

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...