Tiga Kementerian Kampanyekan Bahaya AMR dan PIB di UB

18 Nov 2018 12:22 Pendidikan

Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan organisasi pangan dunia (FAO), Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) dan Indonesian One Health University Network (INDOHUN) berkumpul di Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Pertemuan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Pekan Kesadaran Antibiotik Se-dunia yang diadakan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR), yang pada acara ini juga membahas ancaman penyakit infeksi baru (PIB).

Dalam sambutan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang disampaikan oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementerian Pertanian, drh Syamsul Ma'arif, M.Si mengatakan, sebuah laporan global review yang dirilis pada 2016 menggambarkan model simulasi dimana kejadian resistensi antimikroba diprediksi akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia pada 2050.

Di tahun itu, diperkirakan kematian mencapai 10 juta orang per tahun dan angka tertinggi terjadi di Asia.

"Karena itu, kita semua berkumpul di sini. Mengajak untuk sama-sama memerangi laju resistensi antimikroba dan mengendalikan penyakit infeksi baru. Terutama bagi adik-adik kita yang akan lulus dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Kesehatan Masyarakat serta fakultas teknis lainnya agar bisa menjadi agen perubahan untuk mencapai kesehatan masyarakat, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan yang optimal," ujar drh Syamsul Ma'arif MSi .

Senada dengan kementan, dr. Yulianto Santoso, Dokter Spesialis Anak yang juga mewakili Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) mengatakan, dirinya sering menghadapi pasien yang tidak bisa disembuhkan hingga meninggal dunia karena obat-obatan tidak lagi mempan membunuh kuman penyakit.

Perilaku petugas kesehatan yang mudah memberikan antibiotik, termasuk kemudahan masyarakat untuk membelinya dinilai dr. Yulianto sebagai pemicu terjadinya resistensi antimikroba.

"Kita pernah melakukan suvey yang hasilnya menyatakan dari tahun ke tahun penggunaan antibiotik untuk batuk pilek, dan diare tetap tinggi yaitu sekitar 60 persen. Ke puskesmas orang sakit karena batuk pilek, juga dikasih antibiotik. Kalau tidak dikendalikan, 10 juta jiwa akan meninggal setiap tahun pada 2050. Itu berarti setiap satu menit ada 19 kematian akibat infeksi bakteri yang tidak bisa disembuhkan," jelasnya.

Sementara itu Kemenko PMK dalam paparanya menyebutkan, para pakar kesehatan hewan dunia telah mengelompokan pathogen (kuman berbahaya penyebab penyakit) dari 3 area, yaitu 1.415 pathogen pada manusia, 372 pathogen pada karnivora domestik (anjing,kuncing, dsb) dan 616 pathogen penyakit pada ternak.

"Dalam dekade terakhir memang wabah akibat virus menjadi sorotan dunia seperti virus flu H1N1, Ebola, Mers-CoV dan Zika. Namun ternyata perubahan karakter pathogen juga sedang terjadi pada bakteri, yang secara terus menerus bertambah kebal dari berbagai golongan antibiotik," jelas drh Rama Fauzi dari Kemenko PMK.

Konsep One Health Untuk Pengendalian AMR dan PIB

Meski tantangan yang dihadapi cukup berat, dalam pertemuan tersebut semua pihak menegaskan ancaman tersebut rmemerlukan pendekatan yang bersifat menyeluruh yang merupakan inti dari pendekatan One Health yang menekankan komunikasi, kolaborasi dan koordinasi lintas sektor lintas disiplin ilmu baik di tingkat lokal dan global.

Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Pertanian memaparkan tentang Kebijakan Pengendalian Resistensi Antimikroba di Sektor Peternakan termasuk, Pengendalian Penyakit Infeksi Baru.

Sementara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga memaparkan hal yang sama, namun dari sisi sektor kesehatan satwa liar.

Sedangkan YOP menjelaskan tentang Peran serta masyarakat dalam peningkatan kesehatan dikaitkan dengan penggunaan obat atau pencegahan infeksi untuk menurunkan laju AMR, sementara INDOHUN juga memaparkan hal yang sama namun dalam konteks peran generasi muda. (umr)

Penulis : Umar Alfa
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini