Koordinator KontraS Surabaya, Rahmat Faisal. (Foto: Andhi Dwi/Ngopibareng.id)
Koordinator KontraS Surabaya, Rahmat Faisal. (Foto: Andhi Dwi/Ngopibareng.id)

3 Anak Jadi Tersangka Saat Demo, KontraS Surabaya Ajukan Diversi

Ngopibareng.id Surabaya 14 October 2020 18:55 WIB

KontraS Surabaya berencana mengajukan diversi kepada pihak kepolisian, terkait dengan ditetapkannya tiga anak sebagai tersangka. Mereka merupakan massa aksi tolak Omnibus Law, di Gedung Negara Grahadi, pada Kamis, 8 Oktober 2020.

Koordinator KontraS Surabaya, Rahmat Faisal mengatakan, pihaknya tengah mendampingi ketiganya. Agar mendapatkan perlakuan sesuai hukum yang telah ditetapkan.

“Sebenarnya ada tujuh anak yang dipersangkakan, yang dilimpahkan ada tiga orang, sekarang masih dalam proses diversi dan peradilan anak,” kata Faisal, ketika ditemui di Kantor KontraS Surabaya, Rabu, 14 Oktober 2020.

“Anak-anak yang ditangkap yang saya tahu di panti rehabilitasi ada tujuh orang, kami mendampingi tiga orang. Total jumlah anak berapa, kami belum dapat informasinya lagi, kami baru tahu ada beberapa saja,” lanjut Faisal.

Faisal mengungkapkan, pengajuan diversi kepada pihak Kepolisian diharapkan supaya perkara ini dapat diselesaikan dengan jalur mediasi antara keluarga dan polisi, serta tidak berlanjut ke ranah hukum.

“Kami berharap dalam proses tersebut dilanjutkan dengan mediasi yang dilakukan dengan lapas dan Kepolisian, serta tersangka dan keluarga. kami berharap ada kesepakatan supaya tidak dilanjutkan ke proses hukum,” ucapnya.

Selama proses pemeriksaan, kata Faisal, KontraS Surabaya tak menemukan kendala sama sekali di lapangan. Pihak Kepolisian pun, lanjutnya, tetap menjalankan prosedur yang berlaku.

“Dalam proses pendampingan, tidak ada masalah, semua sudah sesuai dengan prosedur penanganan anak, tidak menemukan kejanggalan apapun. Hambatannya hanya saat anak-anak ini ditangkap,” jelasnya.

Meski demikian, Faisal kecewa dengan perlakuan aparat Kepolisian kepada anak-anak tersebut. Sebab, tersangka mengaku, pada saat penangkapan mereka dipukuli oleh para petugas.

“Mereka mengeluh rusuknya sakit ketika ditangkap oleh Kepolisian, ini termasuk tindakan yang seolah mereka ini kriminal. Tapi secara fisik mereka masih tidak apa-apa, masih diperiksa secara medis,” tutupnya.

Penulis : Andhi Dwi Setiawan

Editor : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

17 Jan 2021 19:15 WIB

Sejumlah Kafe di Kota Malang Alami Penurunan Omzet saat PPKM

Ekonomi dan Bisnis

Penurunan omzet itu disebabkan karena sepi pengunjung.

17 Jan 2021 19:02 WIB

Muhammadiyah Pelopor Pendidikan Modern, Pesan Heri Akhmadi

Khazanah

Kader PDPI jadi Duta Besar Indonesia untuk Jepang

17 Jan 2021 18:45 WIB

Seminggu PPKM, 14 Tempat Usaha Disanksi karena Langgar Prokes

Surabaya

Pemkot Surabaya gencarkan operasi yustisi.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...