Tifatul Sembiring, dan 'Kanjeng Nabi yang Tidak Mau'

18 Jun 2018 06:41 Cethe Gus Staquf

“Wong itu Kanjeng Nabi sendiri yang tidak mau didatangi kok”, komentar Gus Mus.

oleh: KH Yahya Cholil Staquf

Pada suatu Ramadhan, saya berangkat umrah. Dalam perjalanan Jakarta-Jeddah, kebetulan kursi saya di pesawat bersebelahan dengan Tifatul Sembiring –waktu itu dia masih ketua partai dan belum jadi menteri– dan kami pun sedikit mengobrol setelah saling menyapa.

“Berapa hari?” ia bertanya.

“Yah… seperti biasa… tiga hari di Madinah, lalu empat hari di Makkah”

“Saya sepuluh hari tapi tidak ke Madinah. Cuma di Makkah saja terus pulang”.

Saya tidak berkomentar dan obrolan tidak berlanjut karena ia lalu bangkit mengambil mushaf dari tas tentengnya.

“Maaf ya”, katanya, kemudian tampak memusatkan perhatian ke halaman-halaman mushaf.

Syaikh Ahmad Nursaif, pengampu rubath thullab di Hafair, Makkah, adalah guru dari Kiai ‘Athourrahman Hisyam–Kyai Thour–dan adik-adiknya. Suatu kali beliau berkunjung ke Indonesia dan menengok murid-muridnya itu di Leler, Purwokerto. Menurut Gus Zuhrul Anam, adik Kyai Thour yang juga menantu Kiai Maimun Zubair, Syaikh Nursaif bercerita tentang salah satu live show Bin Baz di televisi Saudi.

Dalam dialog interaktif di televisi itu, seseorang bertanya lewat telefon,

“Saya menunaikan ibadah haji, tapi tidak sempat ziarah ke makam Rasulullah. Bagaimana hukumnya?”

“Oh, tidak apa-apa!” Bin Baz menjawab lugas, “Asal tahu saja, saya sendiri dua puluh lima tahun tinggal di Madinah, dan tidak sekali pun berziarah ke makamnya!”

Syaikh Nursaif tampak geram ketika meriwayatkan hal itu,

“Su-ul adab kok bangga!” kata beliau.

Belakangan, saya menyampaikan riwayat dari Gus Anam itu kepada Gus Mus. Beliau cuma nyengir.

“Wong itu Kanjeng Nabi sendiri yang tidak mau didatangi kok”, komentarnya, “Dulu, banyak orang ingin sowan kepada Mbah Hamid Pasuruan tapi tidak berhasil ketemu. Banyak juga yang mau sowan tapi nggak sempat-sempat, atau bahkan sama sekali tidak tergerak hatinya untuk sowan. Itu semua karena Mbah Hamid-nya sendiri memang tidak mau disowani oleh yang bersangkutan. Itu baru wali. Apalagi ini…. Kanjeng Nabi je!”

Saya pun teringat kisah seorang kiai Rembang yang sudah datang ke Pasuruan, tapi hingga berjam-jam menunggu di ruang tamu, Mbah Hamid tidak muncul, sampai kiai Rembang itu putus asa lalu pulang. Dalam perjalanan pulang itu sopirnya bercerita, betapa tadi Mbah Hamid menemuinya di tempat parkir dan mengobrol dengannya sampai lama sekali!

Yang membuat saya geli sendiri adalah khayalan yang lantas muncul di benak saya: bahwa Sunan Kalijaga tiba-tiba sowan kepada gurunya di Tuban pada hari Rabu, di luar waktu yang biasa.

“Lho? Belum waktunya kok sudah kesini?” Sunan Bonang heran.

Muridnya tersipu,

“Sudah kepingin, ‘Njeng Sunan…”

“Lha katanya di tempatmu sedang ada tamu? Kok malah kamu tinggal?” Sunan Bonang senyum-senyum menggoda.

*) KH Yahya Cholil Staquf, Juru Bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur, almaghfurlah). Saat ini sebagai Katib ‘Am PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang. Kisah ini ditulis 15 Mei 2013 di Terong Gosong.