Sebelum Kemoterapi Lanjutan, Jaga Kondisi Tubuh Tetap Fit

18 Aug 2019 14:15 RS Adi Husada
RS Adi Husada Cancer Center

Kemoterapi merupakan proses penyembuhan bagi pasien kanker. Meski untuk penyembuhan, kemoterapi juga sekaligus menakutkan bagi penderita kanker. Kenapa? Sebab, kemoterapi memiliki beberapa efek samping yang terkadang berhubungan erat dengan penampilan pasien.

Kemoterapi bertujuan untuk menghancurkan sel-sel kanker yang menyerang tubuh, dengan memasukkan obat-obatan ke dalam tubuh. Obat bisa memperlambat maupun menghentikan pertumbuhan sel kanker. Pemberian obat tergantung dari jenis kanker dan stadiumnya.

Pakar onkologi Adi Husada Cancer Center (AHCC), dr. Made Putra Sedana, Sp.PD. KHOM menjelaskan, kemoterapi memiliki beberapa efek samping. Secara umum, efek samping yang sering terjadi antara lain mual, muntah, dan rambut rontok.

Bahkan, ada pula yang langsung mengenai sistem kekebalan tubuh pasien, seperti Haemoglobin (Hb) turun dan lekosit atau sel darah putih) juga turun.

“Jumlah normal Hb 4 ribu dan bisa saja akibat kemoterapi bisa turun hingga nol koma. Ini yang berbahaya. Tapi yang harus diketahui, tiap pasien berbeda. Tergantung kondisi tubuh, jenis dan stadium kankernya,” kata Made.

Secara teori belum ada cara mengurangi efek samping kemoterapi. Hanya, mungkin bisa diminimalisir, salah satunya dengan mengevaluasi kondisi pasien sehari sebelum kemoterapi.

Faktor lain yang juga penting yakni pendekatan secara psikologis ke pasien. Ini bisa mengurangi depresi pasien. "Setelah kemoterapi pun proses medis tidak berhenti. Harus dilakukan observasi selama 3 sampai 4 hari setelah kemoterapi. Tujuannya untuk melihat apa efek samping yang terjadi dari kemo, terhadap tubuh pasien," jelasnya.

Efek samping dari kemoterapi yang paling tidak disukai pasien, manakala terjadi perubahan yang tampak dari penampilan mereka. Seperti rambut rontok, ataupun yang menyerang mulut seperti sariawan yang berlebih, serta timbulnya bercak berwarna merah kehitaman pada kulit.

“Kalau bercak tidak harus dikhawatirkan berlebihan. Karena, umumnya akan hilang dalam kurun waktu kurang lebih 10 hari. Tergantung pasien. Tapi jika belum juga hilang, jika pasien ingin berkonsultasi dengan ahli kulit, dipersilahkan,” terang Made.

Ia pun menambahkan, dokter dalam memberi kemoterapi didasari sebuah siklus tertentu. Siklus ini terus dipertahankan selama periode terapi. "Melibatkan satu periode berkelanjutan dari terapi diikuti oleh satu periode khusus istirahat," ujarnya.

Tiap siklus biasanya berlangsung sebulan atau empat bulan. Misal, seorang pasien dapat menerima satu minggu terapi, diikuti tiga minggu istirahat atau sebaliknya.

"Periode istirahat ini berguna untuk memberikan tubuh pasien cukup waktu memproduksi sel-sel sehatnya, untuk menggantikan sel yang telah terkena dampak," pungkasnya.

Penulis : Pita Sari
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini