Lestarikan Budaya, Atraksi Barongsai di Kampung Pecinan Surabaya

05 Feb 2019 18:56 Surabaya

Perayaan Tahun baru Imlek di Kampung Pecinan Tambak Bayan, Surabaya, Selasa, 5 Februari 2019 cukup meriah. Tampak tiga barongsai dengan diiringi musik khas kesenian pecinan melenggak-lenggok menyusuri gang-gang sempit di kampung yang berdekatan dengan Pusat Grosir Surabaya.

Mereka tampak sangat aktraktif mengunjungi rumah-rumah warga sekitar jalan raya sambil meminta angpau sebagai tradisi perayaan imlek.

Warga pun tampak antusias dan menyiapkan angpau saat para barongsai itu menghampiri rumah mereka satu per satu.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga berduyun-duyun menyaksikan atraksi-atraksi barongsai semakin menambah kesan meriah perayaan tahun baru etnis Tionghoa ini. Sesekali bocah-bocah itu juga memberikan angpau di mulut sang barongsai.

Usai mengelilingi kampung di Kecamatan Bubutan, Surabaya barongsai-barongsai itu akhirnya berhenti di Yayasan Darma Mulia yang berada di tengah pemukiman warga.

Koordinator kegiatan, Lim Kem Hao mengatakan ini atraksi-atraksi barongsai ini merupakan kegiatan wajib di tahun baru imlek. Ini merupakan tradisi yang sudah dilaksanakan bertahun-tahun dan akan tetap dipertahankan.

"Setiap tahun ya seperti ini. Karena ini adalah tradisi kami yang dari nenek moyang dan harus tetap dijaga," ujar Lim Kem Hao saat ditemui di sela-sela acara, Selasa, 5 Februari 2019.

Lanjut Lim, arak-arakan tarian barongsai ini sudah berlangsung sejak 2013 silam. Setiap tahun warga selalu antusias dan menunggu atraksi barongsai ini.

Hal yang menarik, setiap perayaan Imlek di kampung yang mayoritas penduduknya etnis Tionghoa justru pengunjungnya berasal dari pribumi. Anak-anak maupun orang dewasa berbaur secara harmonis menyaksikan atraksi, sesekali memberikan angpao. 

"Yang lihat bukan hanya warga cina saja, orang-orang pribumi juga banyak yang datang untuk melihat pertunjukan ini," kata pria yang akrab disapa gepeng. 

Wijaya, salah satu warga Tambak Bayan, mengaku sangat senang saat rumahnya di kunjungi oleh barongsai dan bisa melakukan tradisi untuk memberi angpao. 

"Saya senang dan bangga kalau ada barongsai ke sini. Saya bisa kasih angpao," katanya saat ditemui di rumahnya. 

Menurutnya, tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus dijaga dan tetap dilestarikan pada perayaan imlek. 

"Semoga warga Indonesia keturunan Tionghoa dimanapun berada tidak melupakan tradisi mereka sendiri," katanya. (pts)

Penulis : Pita Sari
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini