Terry Jones di Amerika Serikat. (Foto: istimewa)

Terry Jones dan Perempuan Mesir, Ini Anekdot yang Bikin Nangis

30 Oct 2020 09:13

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Di tengah marak masalah islamofobia dan kontroversi pernyataan Presiden Perancis Macron, ada kisah-kisah yang meneduhkan. Inilah anekdot di tengah ketegangan dunia.

Ada satu cerita menarik tentang Terry Jones, seorang Pastur di Florida yang suka membakar Al-Quran di rumahnya saat weekend, akhir pekan.

Lalu ada seorang perempuan Mesir mengiriminya banyak Al-Quran dalam tahun 2015.

Di antara seorang wartawan sempat tanya mengapa? "Tidakkah Anda merasa marah pada Jones?"

Perempuan Mesir pun menjawab, “Jika itu bisa membuatnya tenang, bakar saja sebanyak-banyaknya. Keimanan dan cinta saja pada Islam dan Allah Subhanahu wa -ta'ala (SWT) tidak lenyap karena ia membakar Al-Quran.”

"Saya mau nangis mendengarnya Mas," kata Eva, wartawan Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat, pada Satrio Arismundar.

Catatan Redaksi:

Terry Jones menjadi perhatian dunia. Terutama terkait dengan ulahnya pada 11 September 2020. Namun informasi tentang dirinya sangat minim. Siapakah dia?

Kini, lelaki yang kini berusia 68 tahun ini adalah pendeta di Dove World Outreach Center, sebuah gereja kecil di Gainesville, Florida, Amerika Serikat, sejak 1996. Di masa muda dia pernah bekerja sebagai manajer hotel, lalu banting stir menjadi penceramah berkeliling Eropa selama 30 tahun.

Pendeta bergaris wajah keras, dengan rambut dan kumis putih, ini menggemari film Braveheart karya Mel Gibson. Mengambil inspirasi film perang Skotlandia-Inggris yang berlatar agama itu, dia meluncurkan seri video dalam jaringan dengan semangat anti-Islam. Dampaknya, ceramah-ceramah SARA-nya menjangkau audiens luas, melewati 50 keluarga jemaat gerejanya.

Pendeta Jones juga mengarang buku "Islam sama dengan Iblis". Frase yang sama dipampang di lingkungan gerejanya. Kampanye negatif ini dia luncurkan sejak 2002, setahun setelah serangan 11 September.

Pendeta yang selalu menenteng pistol ini juga memanfaatkan dua anaknya untuk kampanye. Pada Agustus 2009, anaknya yang berumur 10 dan 15 tahun dipulangkan oleh sekolah karena mengenakan kaus bertulis "Islam adalah Iblis."

Di luar kampanye SARA ini, Gereja Dove yang dipimpinnya juga jadi sorotan karena kasus penggelapan pajak. Menurut koran lokal Gainesville Sun, kantor pajak setempat mengatakan, beberapa bagian dari gereja seluas 20 hektare itu digunakan untuk kegiatan komersil. Properti seluas 157 meter persegi itu ditaksir bernilai Rp 14 miliar tapi hanya dilaporkan Rp 1,2 miliar.

Isu miring lain menyebutkan, sang pendeta terlibat pornografi anak, walaupun tidak pernah terbukti. Berbagai kabar negatif itu tidak menyurutkan massa untuk mengamini khutbah Jones. Lamannya tentang Hari Pembakaran Al-Quran di Facebook disukai lebih dari 8000 orang.

Pendeta Jones melansir kampanye gila ini untuk mengenang Tragedi 11 September 2001. "Islam mendukung kekerasan," ujarnya. Dia menyediakan 200 Al-Quran untuk dibakar di halaman gerejanya dan meminta pendukungnya untuk melakukan hal serupa di tempat masing-masing.

Berbagai tekanan, mulai dari lapisan masyarakat, Menteri Luar Negeri AS, sampai Panglima AS di Afganistan tidak menyurutkan niatnya. "Saya cuma membakar buku, bukan membunuh," kata Jones, enteng. Ancaman pembunuhan, yang menyebabkan dia dikawal polisi beberapa hari ketika itu, juga tidak dihiraukannya.

Catatan penting, pada 24 April 2011, Pastor Terry Jones, yang pernah merencanakan untuk membakar Al-Quran pada peringatan peristiwa 11 September di 2010, dipenjara. Ini setelah ia menolak untuk membayar denda sebesar satu dolar AS terkait rencananya untuk melakukan protes di sebuah masjid di Dearborn, Michigan.