KH Yahya Cholil Staquf

Terkait Isu Undangan ke Israel, Ini Klarifikasi Gus Yahya

10 Jun 2018 14:55

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

“Tapi saya tetap dijadwalkan bertemu sejumlah tokoh dengan liputan media, antara lain, Dr. Ali Al-Awar, pimpinan Badan Waqaf Masjid Al-Aqsha, serta kalangan intelektual di Universitas Hebrew,” kata Gus Yahya.

KH Yahya Cholil Staquf akhirnya memberikan klarifikasi akan isu undangan ke Israel. Hal itu dimaksudkan untuk menjernihkan masalah, yang telah menimbulkan tafsir bermacam-macam dan bahkan menyudutkan pribadi Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibiin, Rembang ini.

Sebagaimana diajarkan Islam, yang menekankan nilai kejujuran, Gus Yahya dalam setiap aktivitasnya berorientasi untuk kemajuan dan perdamaian dunia.  Itu telah disampaikan di pelbagai forum intenasional.

“Saya punya pemikiran tentang Yahudi yang ingin saya sampaikan sejujur-jujurnya tanpa eufimisme ataupun polesan diplomasi, dan ini satu-satunya kesempatan untuk melakukannya tanpa di-frame atau distigma sebagai ‘anti-semitis’” tuturnya, pada ngopibareng.id, Ahad (10/6/2018).

Masjid Al-Aqsha di Jerusalem. (foto: ist)

Juru Bicara Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid ini mengaku, rencana pidato yang akan disampaikan di American Jewish Committee (AJC) Global Forum in Jerusalem, telah dibatalkan.

“Tapi saya tetap dijadwalkan bertemu sejumlah tokoh dengan liputan media, antara lain,  Dr. Ali Al-Awar, pimpinan Badan Waqaf Masjid Al-Aqsha;  Mohammed Dajani Daoudi, ulama;  Para patriarch Katolik, Kristen Ortodoks Yunani dan Lutheran;  H. E. Hazem Khairat, Duta Besar Mesir; serta kalangan intelektual di Universitas Hebrew,” kata Gus Yahya.

Klarifikasi tersebut, semula ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, karena antara Indonesia dan Israel tidak mempunyai hubungan diplomatik.

Berikut penjelasan resmi KH Yahya Cholil Staquf tersebut:

Bu Menteri Yth.,
Mohon ijin untuk memberi penjelasan tentang ini:

1. Sebagaimana panjenengan tahu, saya menerima undangan ini sudah lama, dan ini menyangkut kredibilitas semua upaya yang telah saya lakukan bertahun-tahun;

2. Saya punya pesan untuk saya sampaikan seluas-luasnya secara global, dan ini platform yang akan memberi saya kesempatan untuk itu;

3. Saya punya pemikiran tentang Yahudi yang ingin saya sampaikan sejujur-jujurnya tanpa eufimisme ataupun polesan diplomasi, dan ini satu-satunya kesempatan untuk melakukannya tanpa di-frame atau di-stigma sebagai “anti-semitis”;

4. Rencana pidato saya di AJC forum sudah dibatalkan, tapi saya tetap dijadwalkan bertemu sejumlah tokoh dengan liputan media, antara lain:
- Dr. Ali Al-Awar, pimpinan Badan Waqaf Masjid Al-Aqsha;
- Mohammed Dajani Daoudi, ulama;
- Para patriarch Katolik, Kristen Ortodoks Yunani dan Lutheran;
- H. E. Hazem Khairat, Duta Besar Mesir;
- Kalangan intelektual di Universitas Hebrew;
- dan lain-lain;

5. Saya akan disiplin menjaga posisi “deniable”; kalau tindakan saya merugikan kepentingan Negara atau sekadar tidak ada manfaatnya, dapat dilakukan tindakan apa pun yang diperlukan untuk mengingkari atau menegaskan terlepasnya tindakan saya ini dari Negara; kalau ada benefit, mari di-follow up agar menjadi keuntungan nyata.

Demikian, Bu Menteri. Mohon maaf bahwa saya telah membuat kesulitan.

(adi)