Tengkulak Gula Tak Menghitung Memanjat Kelapa Itu Bertaruh Nyawa

12 Feb 2019 07:00 Feature

Mantren dan Wora Wari, setali tiga uang. Dua desa yang nasibnya sama. Hidup berdampingan dengan tengkulak yang menjeratnya. Sumbang sebenarnya kalau bicara tengkulak, sebab Mantren dan Wora-Wari menganggapnya sebagai “dewa penolong”. Selalu ada uang setiap kali mereka butuh uang. Lalu, penggantinya, ya bayar dengan gula. Gampang kan…

 _________

Sedikitnya 156 perajin gula kelapa di sana. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok. Desa Mantren yang memiliki perajin lebih banyak. Di Mantren terdapat 7 kelompok. Desa Wora Wari hanya 5 kelompok. Tujuh kelompok di Mantren sedikitnya terdiri dari 60 orang perajin gula kelapa. Luar biasa banyak!

Tapi anehnya di antara 156 perajin gula kelapa, yang mengikuti jejak Khoirul Huda tak lebih dari 25 persennya. Meski terhitung dan bisa dianggap minoritas, 25 persen yang menjadi anggota ISM Manggar Sari kini mampu menghasilkan gula kelapa dengan kualitas lebih bagus. Takaran terukur, bentuknya rancak, dan cetakannya rapi. Sebuah standar produksi yang selalu diinginkan pasar.

Sementara perajin gula yang tidak mau bergabung dengan kelompok “pembaruan” ini gula yang dihasilkan masih terlihat sangat tradisional. Cenderung tidak menarik minat pasar. Bentuknya pating pecotot. Besar-besar. Cetakan gula tidak beraturan. Lebih mirip dengan bongkahan-bongkahan batu lempung yang dicangkul dari tanah padas. Beratnya juga tidak seragam. Satu bongkah bisa seberat satu setengah kilogram. Ada yang lebih ada juga yang kurang. Pating pecotot itu istilah yang paling pas untuk menggambarkannya.

Produk gula kelapa dari perajin yang tanpa pembinaan Digarap tradisional Besar kecil ukurannya Tidak rata dan membuat harga gula dihargai sangat murah FotoWidiKamidingopibarengid
Produk gula kelapa dari perajin yang tanpa pembinaan. Digarap tradisional. Besar kecil ukurannya. Tidak rata dan membuat harga gula dihargai sangat murah. (Foto:WidiKamidi/ngopibareng.id)

Muhamad Shidiq, 57 tahun, Kepala Dusun Klagen mengatakan, sebagian besar penderes – sebutan bagi penyadap nira – yang jadi warganya sudah ikut sebagai anggota Koperasi ISM Manggar Sari. Minimal, setelah menjadi anggota, harga gula mereka sedikit ada peningkatan. Tidak banyak peningkatan itu, tapi bisa dinikmati dari setiap kilogram hasil produksinya. 

Harga gula merah di pasaran sekarang ini, naik turun, adalah 11 ribu rupiah per kilogram. Kalau disetor ke tengkulak, harga gula paling banter berkisar antara 6 atau 7 ribu rupiah per kilogram. Tidak lebih dari itu. Di koperasi harga bisa ditentukan sedikit lebih tinggi yaitu 9 ribu rupiah atau bahkan lebih. Jika masih mendapat keuntungan dari harga itu, akan kembali menjadi Sisa Hasil Usaha (SHU) untuk para anggota. 

Kapasitas produksi perajin gula, menurut Khoirul Huda, setiap perajin rata-rata memiliki 10-15 pohon kelapa. Pohon-pohon itu tidak semuanya disadap niranya. Beberapa pohon yang sangat produktif dibiarkan hingga berbuah menjadi kelapa. Jika memiliki 15 pohon, minimal 10 pohon kelapa di antaranya yang disadap. 

Untuk satu pohon kelapa biasanya dipasang 1-2 bumbung bambu untuk menampung nira dari manggar calon buah kelapa yang sengaja dipotong. Setiap bumbung mampu menampung volume 2 liter nira. Tapi biasanya nira yang berhasil ditampung hanya setegahnya saja. Jadi, dalam sehari, satu pohon kelapa sedikitnya menghasilkan 3-4 liter nira. 

Dari 6 liter nira yang diolah hanya menghasilkan 1 kilogram gula kelapa murni. Sedang perajin gula kelapa rata-rata per hari menghasilkan 3-5 kilogram gula. Kalau dihitung biaya produksi, untuk 1 kilogram gula membutuhkan biaya sekitar seribu rupiah. Dari anggota ISM Manggar Sari yang hanya 25 persen dari jumlah keseluruhan perajin gula yang ada, gula kelapa yang dihasilkan lebih dari 150 kilogram dalam sehari. Bukan jumlah produksi yang sedikit bukan...

Tidak semua pohon kelapa disadap niranya Separuh dari pohon kelapa biasanya tetap dijadikan kelapa tua untuk dipanen sebagai komoditas perniagaan FotoWidiKamidingopibarengid
Tidak semua pohon kelapa disadap niranya, Separuh dari pohon kelapa biasanya tetap dijadikan kelapa tua untuk dipanen sebagai komoditas perniagaan. (Foto:WidiKamidi/ngopibareng.id)

Untuk menghidupkan kinerja koperasinya, Khoirul dan pengurus koperasi lainnya membuat gebrakan dengan mencoba menjalin kerjasama dengan para ahli pembuat gula kelapa di luar Pacitan. Para perajin gula kelapa dari Kulonprogo Yogyakarta yang mampu menembus pasaran ekspor yang jadi tujuannya.

Kini Khoirul tengah mengupayakan anggota ISM Manggar Sari mampu membuat gula semut yang tengah digandrungi pasaran ekspor. Dia berasumsi sederhana, jika cita-cita eskpor gula semut ini berjalan mulus, akan mampu memicu warga Klagen yang lain, Mantren, juga Wora Wari untuk menjadi satu dalam wadah koperasi yang sudah dirintis ini.

Perajin gula kelapa juga mampu menangani produksinya sendiri dari hulu sampai hilir. Tanpa perlu lagi berhubungan dengan tengkulak gula. Apapun bentuk bantuan dan fasilitas yang diiming-imingkan para tengkuk gula itu ke muka perajin gula kelapa. (widikamidi/tulisan kedua/habis)

Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini