Teladan Politik Gus Ipul dan Khofifah

15 Feb 2019 09:41 Arif Afandi

Pelantikan Gubernur Baru Jawa Timur menyisakan hal menarik bagi politik bangsa. Apa itu? Dua orang yang tiga kali bersaing memperebutkan jabatan politik akhirnya saling mendukung, saling mendoakan, saling memuji, dan saling mengakomodasi. Matang sekali.

Itu yang terjadi antara mantan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf dan Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Pertarungan berbulan-bulan selama pemilihan gubernur berakhir dengan suasana adem. Tentrem. Tak ada sisa kontestasi. Tak ada saling gengsi. Yang ada saling menghargai.

Gus Ipul --panggilan akrab Saifullah Yusuf-- dan Khofifah sama-sama kader NU. Khofifah sampai kini Ketua Umum PP Muslimat. Sedangkan Gus Ipul dua periode menjadi Ketum GP Ansor dan kini jadi salah satu Ketua PBNU. Keduanya asli orang Jawa Timur.

Sejarah kontestasi antar keduanya sudah begitu lama. Sejak Pilgub tahun 2008. Saat itu, Khofifah maju sebagai cagub bersama Mujiono. Ini pertarungan pertama yang dramatik antara kedua kader NU tersebut. Hanya saja Khofifah sebagai cagub sedangkan Gus Ipul sebagai cawagub.

Lho kok dramatik? Ya. Inilah pemilihan gubernur yang berlangsung hingga tiga putaran. Pada mulanya pilgub Jatim diikuti 4 pasangan. Pada putaran pertama tak ada yang memperoleh 30 persen. Dua pasangan yang lolos putaran kedua adalah pasangan Soekarwo-Gus Ipul (Karsa) dan Khofifah-Mujiono (Kaji).

Setelah digelar putaran kedua, pilgub Jatim dimenangkan Karsa dengan selisih perolehan suara yang tipis. Tidak sampai 2 persen. Pasangan Kaji mengadu ke Mahkamah Konstitusi karena merasa dicurangi. Hasilnya? MK memutuskan pemilihan ulang di Sampang dan Bangkalan. Setelah dilakukan coblosan ulang, kemenangan diperoleh Karsa.

Pertarungan kedua Khofifah dan Gus Ipul berulang lagi pada Pilgub 2013. Dalam pertarungan kedua ini juga ada 4 pasangan. Gus Ipul tetap sebagai Cawagub bersama Soekarwo. Sedangkan Khofifah berpasangan dengan Mantan Kapolda Jatim Herman S Sumawiredja. Meski suaranya paling mendekati, pasangan petahana yang menang.

Dua kali kalah dalam perebutan kursi Gubernur Jatim tak membuat Khofifah menyerah. Ia pun maju lagi dalam Pilgub 2018 berpasangan dengan Emil Dardak. Lawannya adalah mantan cawagub dua kali pilgub Saifullah Yusuf. Sementara Soekarwo yang dua periode didampingi Gus Ipul kali ini "berselingkuh" ke Khofifah.

Gus Ipul yang di detik-detik akhir pendaftaranb harus berganti calon wakil gubernur, kali ini tak berhasil mengungguli perolehan pasangan Khofifah-Emil Dardak. "Saya dengan Khofifah itu kan kontestasi politik. Maka kalau kalah ya sudah. Saya tidak ada masalah. Kita harus mendukungnya," kata Gus Ipul mantap.

Sikap gentle sebagai politisi ini tidak hanya dipendam dalam hati. Dalam setiap pertemuan dengan para pendukungnya paska Pilgub Jatim, ia selalu berpamitan sambil mendoakan agar Khofifah sebagai gubernur terpilih sukses dan berhasil mensejahterakan warga Jatim. Ia tak lupa meminta relawan dan pendukungnya mendukung gubernur baru.

Tak hanya itu. Di detik-detik terakhir masa jabatannya sebagai Wagub, ia masih menggelar shalawatan bersama Habib Syeikh dengan puluhan ribu massa. Dalam acara yang juga dihadiri para kiai sepuh pendukungnya, Gus Ipul mendedikasikan acara itu untuk mendoakan dan menyelemati Khofifah sebagai gubernur baru. Keren kan. Baru ini capon kalah membuat syukuran dan selamatan untuk pemenang.

Teladan politik dari Gus Ipul ini gayung bersambut. Khofifah meresponnya dengan cantik. Di depan pendukungnya di Tugu Pahlawan, sehari setelah dilantik Presiden Jokowi, ia berterima kasih dan memuji kebesaran hati Gus Ipul yang telah datang ke rumahnya. Hal sama disampaikan kepada Cawagub Gus Ipul, Puti Guntur Soekarno.

Ia pun secara terbuka mengaku telah berkomunikasi dengan Gus Ipul untuk mengakomodasi program-program yang menjadi andalan dalam Pilgub lalu. "Saya dan Mas Emil sudah izin untuk kita akomodir (program-program Gus Ipul-Puti, red) di dalam kita membangun Jawa Timur yang akan datang," kata Khofifah.

Ketum PP Muslimat yang menjadi gebernur perempuan pertama di Jatim ini pun lantas mengajak ribuan pendukungnya menyanyikan lagu Kabeh Sedulur Kabeh Makmur. Ini adalah tagline kampanye Gus Ipul yang dinyanyikan penyanyi Via Vallens.

Saling memuji, saling mengakomodasi, dan saling bersapa antar dua mantan kandidat gubernur Jatim ini seperti segalon air di gurun pasir. Menjadi pengadem di saat kontestasi politik nasional sering membelah rakyat ini pada konflik yang tak berkesudahan. Seperti perseteruan politik tiada akhir di Pilkada DKI.

Jatim rasanya layak menjadi teladan untuk merajut kembali Indonesia dalam kebersamaan di masa depan. Teladan politik itu sudah ditunjukkan dua kader terbaik NU dari Jatim yang baru saja berkontestasi memperebutkan kepemimpinan di provinsi ini.

Berkali-kali Pilkada, Jatim teyap aman dan terkendali. Matang para pemimpinnya, matang pula para warganya. (Arif Afandi)