Teh Kereng, Inovasi Mahasiswa UNUSA Untuk Turunkan Asam Urat

02 Aug 2018 18:30 Unusa Gateway

Teh merupakan salah satu minuman favorit masyarakat Indonesia. Selain sebagai teman santai, teh juga memiliki fungsi bagi kesehatan. Tak heran jika kini banyak variasi jenis teh herbal yang berkhasiat.

Salah satunya adalah Teh Kereng yang merupakan hasil inovasi empat mahasiswa prodi S1 Keperawatan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Ke empat mahasiswa itu adalah Miftachul Ismi, Achmad, Brenda Adellia dan Herlina Poerningtyas.

Ramuan teh dari daun kersen (keres) dan lengkuas ini dipercaya bisa menurunkan kadar asam urat. Miftachul Ismi mengatakan jika teh ini bisa menurunkan kadar asam urat karena berasal dari ramuan daun kersen (keres) dan lengkuas.

"Lengkuas itu mengandung senyawa ACA yang bisa menurunkan kadar asam urat. Sementara air rebusan daun kersen juga dipercaya masyarakat untuk menurunkan kadar asam urat," ujarnya.

Mifta mengungkapkan awal mula ia dan timnya membuat teh ini lantaran sering melihat masyarakat Bambe rajin mengkonsumsi rebusan daun kersen. "Kebetulan ada teman yang ibunya mengkonsumsi itu," ucapnya.

Dari situ, timbul ide untuk menjadikan daun kersen lebih bermanfaat bagi banyak orang. "Kita berpikir, masak cuma direbus saja bagaimana bisa dikonsumsi orang terutama yang rumahnya jauh dan tidak ada daun kersen," tambahnya.

Untuk proses pembuatannya sendiri, Mifta mengaku tidak sulit. Kedua bahan tadi dicuci bersih lalu dikeringkan. Setelah itu lengkuas diserut terlebih dahulu agar bisa kering dengan cepat. Setelah dijemur, dua bahan itu dikeringkan kembali dengan diopen dengan suhu yang cukup panas.

Tujuannya agar pengeringan benar-benar sempurna. "Kalau kurang kering khawatir menjamur, tidak tahan lama," jelasnya.

Setelah itu, lengkuas dihaluskan dengan cara diblender. Sementara daun kersen hanya dicincang kasar. Setelah itu baru dikemas dalam bentuk teh celup. Untuk kemasan bok, Mifta dan kawan-kawannya mematok harga Rp 15 ribu yang berisi 10 teh.

Setelah uji laboratorium, Mifta dan kawan-kawan berharap agar teh ini dapat dijual ke masyarakat luas. (adv/amm)

Reporter/Penulis : Amanah Nur Asiah


Bagikan artikel ini