Teater Gandrik Sambang Suroboyo, Menurut Kaum Milenial

07 Dec 2019 05:39 Seni dan Budaya

Teater Gandrik Sambang Suroboyo, dengan membawakan lakon 'Para Pensiunan' hari ini membuka pentas pertamanya di Ciputra Hall, Surabaya, Jumat, 6 Desember 2019.

Di hari pertama penampilan teater asal Yogjakarta ini mendapatkan apresiasi luar biasa.

Dibuka dengan set pemakaman, para pemain teater Gandrik Sambang Suroboyo ini sudah bisa membuat tertawa para penonton di 5 menit pertama tampil.

Guyonan tentang politik dikemas dengan renyah dan mengelitik membuat para penonton tidak hentinya tertawa.

Pertunjukan yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini. Mampu membuat penonton yang hadir tidak beranjak dari tempat duduknya sama sekali sampai pertunjukan usai.

Seperti yang diungkapkan Christine Ayu, mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya ini mengaku sangat menikmati Teater Gandrik Sambang Suroboyo dengan lakon 'Para Pensiunan' ini.

Suasana pementasan Teater Gandrik Sambang Suroboyo dengan lakon Para Pensiunan FotoPitaNgopibarengid
Suasana pementasan Teater Gandrik Sambang Suroboyo dengan lakon 'Para Pensiunan. (Foto:Pita/Ngopibareng.id)

"Teater ini sangat bagus ditonton karena setingnya waktunya 2049 dan masih berbicara tentang regulasi korupsi yang terjadi. Ini bisa jadi renungan untuk kita semua," ujar mahasiswa berusia 22 tahun ini.

Senada dengan Christine Ayu, Fortunella yang dijumpai usia acara juga mengatakan, dark jokes atau sindiran politik yang dikemas dalam komedi begitu mengena.

"Lucu sekaligus membuat kita berpikir tentang nasib politik serta para koruptor yang semakin merajalela," kata Fortunella kepada ngopibareng.id.

Wanita 22 tahun ini juga menceritakan, paling mengingat bagian cerita dimana koruptor yang sudah mati tidak bisa dikuburkan karena tidak mempunyai Surat Keterangan Kelakuan Baik-baik (SKKB).

"Dalam bagian ini seolah mengisyaratkan bahwa orang meninggal harus terlunta-lunta karena tidak mempunyai selembar surat," imbuh Fortunella.

Bagi Fortunella yang baru pertama kali penonton Teater Gandrik. "Ini pertunjukan yang sangat pas antara musik dan pemain sangat pas. Lagu yang dibawakan juga waktunya pas, jadi tidak menganggu pertunjukan itu sendiri," katanya.

Menurut Arif Afandi, Faounder & CEO ngopibareng.id, sekaligus penyelenggara pementasan ini, digelarnya Teater Gandrik dimaksudkan untuk memberi citra peduli budaya terhadap Kota Surabaya. Selain itu, setelah gawe politik dan lelahnya pelaksanaan pesta demokrasi 2018, kini saatnya masyarakat diajak untuk menengok kembali kebudayaan.

"Melalui pentas teater, kami berusaha agar kita tidak melulu dipusingkan dengan masalah politik. Apalagi, masalah sehari-hari dalam aktivitas bermasyarakat telah menjadikan kita lelah. Karena itu, perlu kiranya kita menikmati karya kesenian sehingga menjadi penyeimbang dalam kehidupan kita," tuturnya dalam konferensi pers menjelang pementasan, Kamis, 5 Desember 2019.

Penulis : Pita Sari
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini