Tak Semua Orang Mempercayai Rabu Wekasan

15 Nov 2017 12:00 Reportase
Ngopibareng.id |

Fenomena Rabu Wekasan, atau hari Rabu terakhir dalam bulan Safar, yang dipercayai masyarakat tradisional pada umumnya mempunyai mitos tersendiri, yaitu di hari itu beribu mala petaka bakal turun ke bumi.

Namun, ternyata hal itu tak dipercayai oleh salah seorang pengahayat kepercayaan Wisnu Kusuma.

"Di kepercayaan kami, tidak ada istilah Rabu Wekasan, yang ada hanya sebagaimana Tuhan menciptakan hari itu menjadi siang malam dan pagi," ujar Wisnu, salah seorang penganut aliran kepercayaan Sapta Darma, pada Rabu, 15 November 2017.

Menurutnya, hari baik atau buruk itu tergantung bagaimana seorang itu menjalaninya, semuanya, kata Wisnu sudah ada yang mengatur.

"Bagi kami, hari buruk atau baik itu tergantung siapa yang melakukannya," ujar Wisnu kini juga menjabat sebagai pengurus, Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

MLKI sendiri adalah wadah bagi berbagai organisasi aliran kepercayaan. Di Surabaya sendiri, kata Wisnu setidaknya ada 20-30 aliran kepercayaan yang tergabung di dalamnya.

Wisnu juga mengaku sejak Mahkamah Konstitusi (MK) menerima judicial review dengan mengeluarkan keputusan pembatalan Pasal 61 Ayat 1 dan Pasal 64 Ayat 1 UU Administrasi Kependudukan, masyarakat penganut aliran kepercayaan di Surabaya lebih merasa tenang senang karena hak-haknya sebagai warga negara dihargai.

Sapta Darma merupakan aliran kerohanian di Indonesia yang berarti 'tujuh kewajiban suci'. Aliran ini diyakini bermula dari turunnya wahyu kepada Bapa Panuntun Agung Sri Gutama pada dini hari Jumat Wage tanggal 27 Desember 1952 di kediamannya di Kampung Koplakan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. (frd)

Penulis : Farid Rahman