Warga Lereng Gunung Wilis, Gelar Cambuk Tiban untuk Minta Hujan

17 Nov 2019 16:58 Seni dan Budaya

 

Delapan bulan lebih, hujan tak turun, ratusan warga Dusun Gedangan, Desa Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri menggelar shalat Istisqo (shalat untuk meminta hujan). Selain menggelar shalat istisqo mereka juga adakan ritual cambuk tiban.

Serangkaian kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu 17 November 2019 siang tadi. Ritual cambuk tiban ini merupakan bagian dari tradisi yang diselenggarakan secara turun-temurun dan tetap terjaga kelestariannya hingga kini.

"Tiap tahun kalau belum turun hujan, diadakan shalat Istiqo untuk meminta hujan. Nanti setelah itu, mudah-mudahan dikabulkan oleh Alloh. Warga banyak yang mengalami kekeringan sawah dan ladang," kata Lukman Hakim tokoh agama setempat.

Warga lereng kaki Gunung Wilis gelar ritual cambuk tiban minta hujan Foto Fendi ngopibarengid
Warga lereng kaki Gunung Wilis, gelar ritual cambuk tiban minta hujan. (Foto: Fendi /ngopibareng.id)

Menurutnya, kegiatan ini setiap tahun selalu dilaksanakan di saat musim kemarau berlangsung. Apalagi musim kemarau yang terjadi sekarang ini, sudah lebih dari enam bulan lamanya.

Selesai menggelar shalat Istisqoh, warga kemudian melanjutkan dengan pembacaan doa. Ketika pembacaan doa berlangsung, secara bersama sama para jemaah membalik surban yang mereka bawah di atas punggung. Lukman Hakim menjelaskan jika surban tersebut sengaja di balik, di sela sela pembacaan doa miliki arti agar Alloh secepatnya membalik musim kemarau untuk diberi hujan.

"Menandakan jika saat ini musim kemarau, jika sorban dibalik atas izin Alloh nanti diberi hujan," kata dia.

Setelah pembacaan doa selesai, kegiatan kemudian dilanjut dengan ritual cambuk tiban. Peserta ritual cambuk tiban tidak hanya diikuti oleh pria dewasa, melainkan juga anak anak. Peserta ritual cambuk tiban tidak hanya berasal dari Dusun Gedang melainkan juga tetangga desa sekitarnya. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, biasanya setelah shalat Istisqo dilaksanakan biasanya akan turun hujan.

"Turun hujan ada yang langsung setelah selesai shalat pernah terjadi. Terkadang jarak 2 sampai 5 jam. Paling lama lima hari," ungkapnya.

Ditambahkan Lukman Hakim, imbas musim kemarau yang berkepanjangan ini membuat sumber mata air yang di lereng kaki Gunung Wilis menjadi susut. Ia memperkirakan jumlah Kepala Keluarga (KK) yang terdampak kekeringan saat ini berjumlah 400 KK.

"Hampir 8 bulan lebih tidak ada hujan, padahal sebelah selatan kota sana sudah ada hujan. Tetapi wilayah Mojo saja yang tidak ada hujan. Dapat air dari sumber, tapi jelas minus. Cukup untuk minum dan memasak saja. Di sini ada sekitar 400 KK lebih," ungkapnya.

Penulis : Fendhy Plesmana
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini