Tak Hanya Nata de Coco, Ponorogo Juga Punya Janggelan Terbaik

21 Jan 2019 08:15 Feature

Janggelan. Warnamya hitam. Mewarnai hampir setiap pasar-pasar tradisional. Bentuk turunannya adalah isi es campur, es cao kalau di Surabaya, dan es cincau untuk sebutan anak-anak milenial.

Ponorogo. Banyak orang tahunya Ponorogo itu ya Reog. Kalau tidak Reog ya Warok. Kalau keduanya sudah tahu, lanjutan pengetahuannya ya Bujang Ganong. Pelengkap dari pertunjukkan Reog dan Warok Ponorogo. Padahal, di luar itu, di luar kesenian tradisi yang legendaris itu, Ponorogo punya yang lain. Kuliner misalnya. Kewirausahaannya juga keren-keren. Ada nata de coco yang mampu menyuplai pabrikan. Ada perajin wayang dengan beragam diversifikasi. Ada juga janggelan yang kualitasnya bikin geleng-geleng kepala.    

Ponorogo. Ah, sudah pasti banyak reognya. Banyak bujang ganongnya. Setidaknya, memasuki wilayah Ponorogo, di setiap perempatan jalannya ada patung identitas ke-Ponorogo-annya. Berdiri gagah di tengah jalan. Kumisnya bapang, tebalnya bukan main. Bajunya dibledehne. Apa itu dibledehne? Oh itu cara memakai baju yang tidak dikancingkan di bagian depan. Khas patung reog dan warok.

Itu kalau di kota. Kalau geser sedikit ke pinggiran bagaimana? Ya sepi. Konturnya bergunung-gunung. Sebagian banyak gersangnya. Banyak petani yang menggarap sawahnya hanya dengan air tadah hujan. Penghasilan tanahnya pun akhirnya tak bisa dihitung untung. 

Tapi tak semua petani tadah hujan pasrah. Buktinya ada Sriyono. Warga Dukuh Gading Rt02 Rw03, Desa Sraten, Kecamatan Jenangan. Dari mengolah tanah yang keras dia mencoba berselancar di internet. Apa yang dicari? Tidak tahu pasti, namun ketemunya adalah teknik membuat nata de coco. Lalu dijajal, lalu sukses. Kini malah menyuplai pabrikan nata de coco. Selain juga dijajakan  sendiri turut dalan dan turut pasar.

Kisah Sriyono ini cukup spektakuler. Sangat menginspirasi. Bahkan bisa jadi model influencer bagi kalangan milineal yang sangat suka berselancar di dunia maya.  

Ada Sriyono di Desa Sraten, ada juga Ngrayun. Wilayah yang lebih pelosok lagi. Boleh dikata Ngrayun ini adalah wilayah atas gunung. Orang-orangnya adalah orang nggunung. Mengolah tanah keras juga. Hidupnya juga keras, acapkali terlihat susah. Sebab itu tak sedikit yang migrasi ke kota, ke pulau lain, bahkan ke Hongkong, Malaysia, dan Arab.

Di Ngrayun ada yang beda. Disana tak hanya bisa melihat Reog, tetapi bisa melihat bagaimana orang nggunung tadi bisa membuat minuman janggelan yang ternyata bisa bikin ngiler seger. Bukan karena yang membuat anak-anak muda cantik khas nggunung tetapi lebih karena pamor janggelan Ngrayun ternyata juga terbaik kelas dunia.

Jangelan. Asalnya dari tanaman janggelan. Tumbuhnya menyerupai rerumputan yang batangnya menjulur panjang memanjang. Sebenarnya tak banyak orang tahu tentang tanaman jangelan ini. Tapi bagi orang desa yang tinggal di pegunungan, tanaman janggelan pasti sangat akrab. Mungkin juga menjadi komoditas sehari-hari yang diupayakan dengan ditanam, dipetik, dikeringkan, kemudian dijual kering dengan harga dua belas ribu rupiah per kilogram.

Pemrosesan Janggelan di Ngrayun dengan mengutamakan kebersihan dan higienistas meski di atas gunung dengan peralatan semi manual dan sederhana FotoWidiKamidingopibarengid
Pemrosesan Janggelan di Ngrayun dengan mengutamakan kebersihan dan higienistas meski di atas gunung dengan peralatan semi manual dan sederhana. (Foto:WidiKamidi/ngopibareng.id)

Provinsi Jawa Timur, dalam upaya rilis potensi daerah, menyebutkan, jenis janggelan paling bagus hanya terdapat di Kabupaten Ponorogo. Utamanya yang berada di wilayah Kecamatan Ngrayun. Bahkan menurut studi, kandungan serat yang terdapat di jangelan dari Ngrayun adalah terbaik nomer dua di dunia. Memiliki juga kualifikasi ekspor ke mancanegara.

Di balik potensi janggelan yang menggema bagus ini, ada Lusia Widiarini, 46 tahun. Warga Dukuh Puthuk, Rt01 Rw05 Desa Selur, Kecamatan Ngrayun. Warga yang satu ini sangat akrab dengan janggelan di tempatnya. Ibarat tidak ingin seperti pepatah, ayam mati di lumbung padi, dia pun bergerak melakukan serangkaian pemberdayaan untuk warga setempat. Bahan baku pemberdayaanya adalah janggelan.

Lusia Widiarini kemudian menghimpun beberapa warga menjadi kelompok-kelompok. Lalu, menjadikan janggelan tidak hanya sekadar dikeringkan kemudian dijual ke tengkulak di kota. Oleh tengkulak dioper lagi lalu ditampung di gudang-gudang milik para taoke di kota lainnya lagi. Janggelan oleh kelompok-kelompok itu diolah menjadi minuman kemasan yang sehat dan memiliki daya jual tinggi.   

Di antara warga yang dihimpun itu berdirilah kelompok Argomulyo, dan Lusi nama cekak dari Lusia Widiarini, menjadi ketua kelompoknya. Bekerjasama dengan para petani janggelan, kelompok ini pun kemudian memproduksi minuman janggelan. Beberapa saat setelah uji coba, minuman janggelan ini mendapat sambutan luas. Bahkan diundang pameran produk UMKM di Bali.

Tanaman janggelan tak hanya sekadar dikeringkan kemudian dijual ke tengkulak. Oleh tengkulak dioper lagi lalu ditampung di gudang-gudang milik para taoke di luar negeri. Janggelan di Ngrayun dicoba diolah menjadi minuman kemasan yang sehat dan memiliki daya jual tinggi.

Termotivasi, kelompok Argomulyo yang beranggotakan 15 orang itu memutuskan untuk berproduksi secara profesional. Berikutnya berbagai pelatihan pun diikuti. Mulai dari mengolah, packaging, pemasaran hingga manajemen. Kelompok masih sederhana dan berproduksi dengan keterbatasan.

“Secara produk, janggelan ini sudah bagus. Pasar juga sudah mampu menyerap dalam jumlah cukup. Beberapa kota besar juga sudah melakukan order tanpa henti. Sayangnya kita terkendala teknologi. Yang kita gunakan saat ini masih semimanual. Padahal dengan potensi seperti ini kita butuh mesin otomatis yang kapasitasnya mampu berproduksi 3.000 cup satu jam. Kita juga membutuhkan mesin pasturisasi dalam kapasitas cukup,” ungkap Lusi.

Lusi berharap ada bantuan soal teknologi juga akses modal murah untuk membeli mesin. Sebab janggelan ini tentu tidak hanya bisa diproses menjadi minuman segar tetapi juga berbagai bentuk turunan produknya. Bisa menjadi teh, jel, atau bentuk lainnya. Lebih penting dari semua itu adalah packaging produk. Lusi bercita-cita, meski minuman segar sari janggelan ini diproduksi di atas gunung namun higienisnya berikut packaging produknya memiliki standar nasional.

Nah, pemberdayaan model Lusi ini tentu layak mendapat respon meluas. Reog dan Warok memang mendominasi kancah destinasi Ponorogo. Tapi jangan salah, masih ada yang lain. Seperti jangelan ini. Kandungan seratnya bagus. Mau coba proses mengolah? Atau coba berekonomi dengan janggelan yang masih dikeringkan? Jangan khawatir, ngopibareng.id siap mengantar sampai ke Ngrayun, Ponorogo. Hahahaha. Mau jajal mendaftar? (widi kamidi)

Reporter/Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini