Tak Hanya Fisik, Psikis harus Diperhatikan Pengobatan Kanker

09 Aug 2019 11:45 RS Adi Husada
RS Adi Husada Cancer Center

Fisik dan psikis menjadi dua hal penting yang harus diperhatikan saat menjalankan pengobatan kanker. Namun, pada prakteknya seseorang yang terkena kanker lebih fokus pada pengobatan fisiknya, tanpa mempedulikan kesehatan psikisnya.

"Mendapati diri terdiagnosa kanker merupakan hal yang berat bagi seseorang. Ini tidak hanya berdampak pada fisik semata, tapi juga secara psikis. Tetapi masih banyak pasien yang tidak sadar akan hal ini," ungkap dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Adi Husada, dr. Ignatius Darmawan B, SpKJ (K).

Mengobati unsur psikis pada pasien kanker, lanjutnya, tak hanya untuk pasien saja, tapi juga keluarga dan para penjaga orang sakit atau care giver. Terapi secara kejiwaan sangat dibutuhkan pasien kanker, dan juga orang di sekitarnya seperti keluarga.

“Pasien kanker membutuhkan support. Baik itu dari keluarga dan juga orang terdekat,” kata dokter asli Malang ini.

Pengobatan psikis, ujar Ignatius Darmawan, bisa berupa penjaminan bahwa sakitnya bisa disembuhkan. Ada pula pemberian obat-obatan seperti, obat penenang dan obat anti depresan.

"Saat seseorang mengetahui dirinya terkena kanker ada lima fase emosional yang terdapat pada penderita kanker, antara lain fase penyangkalan, di mana akan timbul rasa menyangkal pada diri pasien seperti tidak percaya bahwa hal itu terjadi padanya," jelasnya. 

Fase kedua ialah anger atau kemarahan. Pasien yang terdiagnosa kanker tentu tingkat emosionalnya tinggi, di mana pasien terbukti lebih cepat marah. Fase berikutnya yakni bargainning atau tawar menawar.

“Bisakah aku berobat di sini. Manakah pengobatan yang terbaik untukku. Fase dimana pasien sedang memilih mana pengobatan yang terbaik yang harus ia jalani,” terangnya. 

Selanjutnya, fase depresi. Pada fase ini, tidak hanya pasien yang merasakan, tapi juga keluarga dan orang sekitarnya yang berhubungan langsung dengan pasien. Pada keluarga, mereka akan depresi karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, baik untuk obat, kemoterapi dan radiasi. 

"Sedangkan depresi pada pasien, seperti menerima akibat dari segala pengobatan yang ia jalani. Fase terakhir yakni acceptance atau pasrah. Pasien dan keluarga sudah pasrah menerima penyakitnya," sambung Ignatius Darmawan.

Menurutnya, supporting group atau grup sesama penderita sangat membantu dalam mengobati psikis pasien. "Di dalam grup, mereka bisa saling sharing atau berbagi baik itu pengalaman, ataupun saling memberi kekuatan untuk berjuang sembuh,” paparnya. 

Seperti yang dilakukan Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya sebagai pusat layanan kanker terpadu dan berintegritas yang membuat dan memfasilitasi pasiennya dalam grup atau komunitas para penyintas kanker. 

Dalam komunitas ini para penyintas kanker bisa berbagi pengalaman treatment di AHCC,  saling bertukar informasi mengenai obat dan yang terpenting adanya support dan dukungan yang membuat penyintas kanker merasa tidak sendiri. 

Selain, dukungan dari grup maupun komunitas sesama penderita, Ignatius Darmawan menambahkan dukungan keluarga juga sangat penting. Keluarga tidak boleh seratus persen angkat tangan pasrah pada perawat. Karena dukungan cinta dari keluarga merupakan obat paling baik bagi penderita.

Penulis : Pita Sari
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini