Tagar #JusticeForAudrey Menduduki Puncak Trending Topic Twitter

10 Apr 2019 05:08 Nasional

Tagar #JusticeForAudrey menduduki puncak trending topic Twitter dunia pada Selasa malam (9/4/2019) hingga Rabu dini hari waktu Indonesia setelah dukungan untuk AUD, seorang siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh 12 siswi SMA terus meluas.

Seperti diwartakan sebelumnya AUD, seorang siswi SMP berusia 14 tahun babak-belur dikeroyok oleh 12 orang siswi SMA karena urusan asmara. Tak hanya dipukul, dicekik, dan ditendang, alat kelamin gadis belia itu juga berusaha dirusak oleh para pelaku.

Peristiwa pengeroyokan itu sendiri terjadi pada akhir Maret lalu dan baru menarik perhatian publik setelah dilaporkan ke polisi oleh keluarga korban pada 5 April kemarin.

Korban hingga saat ini masih dirawat di sebuah rumah sakit di Pontianak. Gadis malang itu menderita luka-luka fisik dan juga mengalami trauma akibat penganiayaan tersebut.

Saat ini kasus itu telah ditangani oleh Polresta Pontianak. Sebelumnya kasus yang mendapatkan sorotan dari seluruh penjuru Nusantara itu ditangani oleh Polsek Pontianak Selatan.

Sementara itu sebuah petisi di platform online Change.org yang bertajuk KPAI dan KPPAD, Segera Berikan Keadilan untuk Audrey #JusticeForAudrey! sudah diteken oleh lebih dari 1.6 juta orang sejak diunggah pada Selasa siang.

"Korban yang harusnya lebih dipikirkan bagaimana keadaan mentalnya untuk ke depan. Dengan kejadian seperti ini, bukan tidak mungkin korban mengalami trauma, kecemasan, bahkan depresi yang juga dapat memengaruhi masa depannya. Pelaku sendiri di sini saya lihat masih saja membuat status di instagram story sebagai bentuk pembelaan dan terkesan tidak mau disalahkan," tulis Nadya Arisca yang turut meneken petisi tersebut.

"Korban harus mendapatkan keadilan. Dan pelaku mendapat hukuman yang seharusnya," timpal Noura Sholehah yang juga menandatangani petisi tersebut.

"Sangat prihatin terhadap pergaulan anak-anak sekarang," imbuh Putra Restu W yang juga mendukung petisi tersebut.

Reporter/Penulis : Moch. Amir


Bagikan artikel ini