Survei SMRC: Pasca Pemilu 2019 Masyarakat Takut Bicara Politik

16 Jun 2019 20:15 Politik

Hasil survei yang dikeluarkan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan, pasca kerusuhan 21-22 Mei 2019 ada rasa takut ditangkap masyarakat saat berbicara politik. Ini dinilai SMRC merupakan penurunan tren perbaikan demokrasi.

"Ada indikasi demokrasi mengalami pelemahan pasca peristiwa kerusuhan 21 dan 22 Mei," ujar peneliti SMRC Sirajuddin Abbas dalam pemaparan survei di Kantor SMRC, Jakarta, Minggu, 16 Juni 2019.

Namun, lanjut Abbas, secara umum rakyat menilai positif kondisi demokrasi era kepemimpinan Jokowi. "Secara umum, rakyat menilai positif demokrasi kita setelah 20 tahun," katanya.

Hasil survei tren demokrasi saat ini menunjukkan 8 persen menyatakan selalu takut bicara politik. Kemudian, 35 persen responden menyatakan sering merasa takut. Jika ditotal, maka terdapat 43 persen responden yang takut bicara politik pasca kerusuhan.

"Tren ketakutan ini mengalami peningkatan bila dibanding tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, pasca pemilu 2009 ada 16 persen responden. Kemudian, pasca pemilu 2014, terdapat 17 persen. Sementara, pasca pemilu dan kerusuhan 21-22 Mei 2019, terdapat 43 persen responden yang merasa takut.

Begitu juga mengenai ketakutan masyarakat terhadap isu penangkapan semena-mena oleh penegak hukum. Hasilnya, 7 persen menyatakan selalu takut terhadap penangkapan. Kemudian, 31 persen responden menyatakan sering merasa takut. Jika ditotal, maka terdapat 38 persen responden yang takut ditangkap secara semena-mena pasca kerusuhan.

"Hasil survei, pasca pemilu 2009 ada 24 persen responden yang merasa takut. Pasca pemilu 2014 terdapat 24 persen. Dan, pasca pemilu dan kerusuhan 21-22 Mei 2019 angkanya naik menjadi 38 persen responden yang merasa takut," kata Abbas.

Survei mengenai opini publik ini dilakukan pada 20 Mei-1 Juni 2019. Pendanaan survei ini dibiayai sendiri oleh SMRC. Ada 1.078 responden yang dipilih secara acak. Responden adalah penduduk Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah memiliki hak pilih dalam pemilihan umum.

Pengambilan data dilakukan wawancara dengan tatap muka secara langsung oleh pewawancara yang sudah terlatih. Adapun, margin of error dalam penelitian ini sebesar lebih kurang 3,05 persen. (wit/ant)

Penulis : Witanto


Bagikan artikel ini