Suratkabar Berusia 80 Tahun, Utusan Malaysia Mendadak Tak Terbit

09 Oct 2019 17:10 Internasional

Suratkabar tertua berbahasa Malaysia, Utusan Malaysia, pada Rabu 9 Oktober 2019, mendadak menghentikan publikasi. Dengan begitu, koran legendaris yang berusia 80 tahun ini, mem-PHK lebih dari 800 karyawannya. Hal itu menyusul adanya penurunan jumlah pembaca dan pendapatan iklan.

Utusan Malaysia didirikan pada masa pemerintahan kolonial Inggris pada 1939 oleh Yusof Ishak. Dialah yang di kemudian hari menjadi presiden pertama Singapura.

Suratkabar tersebut berperan penting dalam pembentukan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), sebuah partai politik yang memerintah Malaysia selama lebih dari enam dekade setelah kemerdekaan pada Agustus 1957.

UMNO, yang mengambil alih saham pengendali di Utusan pada 1950-an, digulingkan dalam kekalahan mengejutkan pemilu tahun lalu.

Dewan Redaksi Utusan Malaysia sepakat pada hari Senin, 7 Oktober lalu, untuk melakukan likuidasi sukarela. Karena tidak dapat lagi membayar gaji atau menghapus utangnya.

Kepala eksekutif Utusan Malaysia, Abdul Aziz Sheikh Fadzir, dikutip Reuters, mengatakan pada hari Rabu, 9 Oktober, dalam memo kepada staf redaksi dan karyawannya.

"Langkah ini harus diambil karena dewan direksi berpendapat bahwa perusahaan tidak lagi dapat melanjutkan bisnis," kata Abdul Aziz, seperti dilansir The Jakarta Post.

Menurutnya, semua staf telah diberhentikan hingga 31 Oktober 2019.

Karyawan Utusan Malaysia bereaksi setelah pengumuman penghentian di kantor pusat perusahaan di Kuala Lumpur Malaysia 9 Oktober 2019 Foto ReutersJkp
Karyawan Utusan Malaysia bereaksi setelah pengumuman penghentian di kantor pusat perusahaan di Kuala Lumpur, Malaysia, 9 Oktober 2019. (Foto: Reuters/Jkp)

Mohamad Taufek Abdul Razak, ketua cabang pers pers Utusan Malaysia, mengkonfirmasi keaslian memo itu.

"Manajemen suratkabar Utusan Malaysia belum memberitahu karyawan sebelumnya tentang penutupan mendadak. Kami hanya akan menjawab pertanyaan tentang pemutusan hubungan kerja, gaji tertunda, dan kompensasi pada 30 Oktober," kata Mohamad Taufek.

"Itu adalah langkah tanpa kendali oleh manajemen Utusan," katanya kepada wartawan di kantor pusat surat kabar Kuala Lumpur.

Karyawan Utusan Malaysia, beberapa menangis, terlihat membawa barang-barang mereka keluar dari gedung pada hari Rabu.

Utusan Melayu (Malaysia) Berhad terdaftar di bursa Malaysia pada 1994, dan harian mencapai puncak 350.000 eksemplar terjual sehari selama dekade ini.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, keuangan Utusan Malaysia telah dirugikan oleh penurunan tajam dalam sirkulasi dan pendapatan. Lebih diperparah dengan hilangnya kekuasaan UMNO pada Mei 2018.

Dalam aktivitas berita, suratkabar tersebut dituduh memicu sentimen rasial di negara multi-etnis. Itu karena sikap editorial nasionalis Melayu yang kuat.

Etnis Melayu membentuk sekitar 60 persen dari 32 juta orang Malaysia, dengan sisanya sebagian besar etnis Cina dan India.

Pada bulan Agustus, Utusan Malaysia menaikkan harga korannya dalam upaya untuk menjaga perusahaan tetap bertahan.

Hal itu dihapuskan pada 30 Agustus setelah kehilangan tenggat waktu untuk rencana regularisasi, menanggung kerugian yang sedang berlangsung, kendala arus kas, dan kurangnya investor.

Selain surat kabar berbahasa Melayu, Malaysia pun memiliki publikasi berbahasa Inggris, Cina, dan Tamil.