Ilustrasi. Surabaya berada di zona merah tua. (Foto: istimewa)

Surabaya Zona Merah Tua, Pakar Epidemologi: Belum Tentu Buruk

Kesehatan 03 June 2020 22:42 WIB

Pakar Kesehatan Masyarakat dan Epidemiologi FKM Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo mengatakan fenomena virus Covid-19 di Surabaya ini ibarat gunung es.

Tingginya kasus covid-19 di Surabaya bukan berarti kegagalan pemerintah dalam menangani. Tetapi ada dua kemungkinan, yaitu bisa jadi karena memang penyebaran yang cukup luas atau karena tes yang dilakukan pemerintah sangat masif. Sehingga bisa menguak banyak kasus yang ada di bawah permukaan.

"Tingginya kasus corona di Surabaya itu karena apa? Kalau tingginya kasus ini karena keberhasilan kita membongkar kasus, itu bagus," kata Windhu. 

Menurutnya, yang lebih penting pengungkapan kasus baru covid-19 itu adalah melihat indikatornya, yaitu RT atau bilangan reproduksi efektif.

"Nah, Surabaya turun terus bilangan reproduksi efektifnya dan sekarang malah sudah hampir 1,2 dan 1,1. Ini bagus. Kemarin di angka 2. Bahkan sebelumnya pernah 2,5. Meskipun belum stabil dan kita berharap agar di bawah 1 RT-nya," katanya.

Lanjut Windhu, kasus di Surabaya tinggi namun tingkat penularannya rendah. Maka itu dapat dikatakan sebuah perkembangan yang memberi harapan.

"Untuk itu, masyarakat tidak bisa melihat bahwa zona merah tua ini sesuatu hal yang buruk. Melainkan campuran antara penularan dan tes masif," kata Windhu.

Diketahui, Surabaya mendapat bantuan dua mobil lab rapid tes dan swab yang bisa dengan cepat menemukan kasus baru. 

Karena itu, Windu mengingatkan masyarakat Surabaya tidak perlu cemas terhadap zona merah tua. Sebab, tes masif sudah dilakukan sebanyak mungkin oleh pemkot.

Dengan jumlah kasus yang tinggi, ia berharap tidak diikuti oleh angka kematian.

"Case Fatality Rate (CFR) Surabaya masih tinggi 9,2 persen. Kalau kasus tinggi, CFR turun dan RT makin rendah itu bagus," katanya.

Windhu menjelaskan, zona merah atau zona hijau itu dilihat dari banyaknya kasus. Dan masyarakat diminta untuk tidak melihat berdasarkan warna zonanya. Zona hijau bisa jadi tidak melakukan tes sehingga kasusnya kecil.

"Jangan terkecoh dengan zona. Jangan sekedar melihat warna. Warna hanya kepentingan kewaspadaan, tapi kita sebagai orang yang melihat data, harus paham," katanya.

Penulis : Pita Sari

Editor : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

05 Jul 2020 11:55 WIB

Anies Baswedan Ganti Nama CFD Jadi Kawasan Pesepeda

Nasional

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan  mengganti istilah car free day (CFD).

05 Jul 2020 11:45 WIB

UTBK Hari Pertama, Doa Belajar Hingga Tips Jawab Soal Trending

Reportase

UTBK hari pertama, doa belajar pun jadi populer.

05 Jul 2020 11:40 WIB

Viral, Maudy Ayunda Berantem dengan Pacar Saat Live Instagram

Gosip Artis

Maudy berdebat dengan pria yang diduga pacar barunya.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...