Peta risiko Surabaya masih merah. (Foto: Tangkapan Layar)

Risma Klaim Surabaya Zona Hijau, Peta Satgas Masih Merah

Surabaya 04 August 2020 12:45 WIB

Pernyataan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang menyebut Surabaya sudah masuk katagori zona hijau tak sesuai dengan peta risiko penyabaran virus corona atau Covid-19 milik Satgas Covid-19 pusat.

Berdasar data peta risiko di laman www.covid19.go.id, menunjukkan Surabaya masih dalam zona merah atau daerah dengan risiko tinggi. Warna merah menunjukkan penyebaran virus tidak terkendali. Pada peta yang dibuat merujuk pada data per 26 Juli 2020, tak ada satu pun wilayah di Jawa Timur yang masuk dalam zona hijau.

“Kalau risiko tinggi artinya transmisi lokal sudah terjadi dengan cepat, kemudian wabah menyebar secara luas dan banyak klaster-klaster baru,” jelas Pakar Epidemologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Dr. Windhu Purnomo, Selasa 4 Agustus 2020.

Untuk itu, kata Windhu, harus ada kerja-kerja nyata yang lebih tepat guna untuk menanggulangi penyebaran yang masif di Surabaya. Paling utama tentu penegakan aturan penerapan protokol kesehatan. Sebab saat ini ia melihat banyak warga yang bebas ke mana-mana tanpa menerapkan protokol kesehatan. Termasuk yang tak kalah penting adalah pembatasan gerak warga.

“Kalau masih ada lonjakan kasus baru ya harus ngerem dengan pembatasan. Menurut saya daerah merah orange di batas kota harus dilakukan pengetatan. Cuma permasalahannya semua kadung dibuka sehingga terjadi kelunturan ke mana-mana. Seperti Sidoarjo yang sempat orange jadi merah lagi karena bergerak ke Surabaya yang zona merah,” katanya.

Daftar peta risiko di Jatim Foto Tangkapan LayarDaftar peta risiko di Jatim. (Foto: Tangkapan Layar)

Sementara itu, Satgas Covid-19 telah menentukan 14 indikator penentuan zona menggunakan sistem skoring dan pembobotan dengan sejumlah indikator.

Berikut rinciannya.

Indikator Epidemiologi

1)Penurunan jumlah kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

2) Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

3) Penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

4) Penurunan jumlah meninggal kasus ODP dan PDP pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

5) Penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

6) Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

7) Persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif

8) Kenaikan jumlah selesai pemantauan dari kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir

9) Laju insidensi kasus positif per 100,000 penduduk

10) Mortality rate kasus positif per 100,000 penduduk

Indikator Surveilans Kesehatan Masyarakat

1) Jumlah pemeriksaan sampel diagnosis meningkat selama 2 minggu terakhir

2) Positivity rate rendah (target ≤5% sampel positif dari seluruh orang yang diperiksa)

Indikator Pelayanan Kesehatan

1) Jumlah tempat tidur di ruang isolasi RS Rujukan mampu menampung s.d >20% jumlah pasien positif COVID-19 yang dirawat di RS

2) Jumlah tempat tidur di RS Rujukan mampu menampung s.d >20% jumlah ODP, PDP, dan pasien positif COVID-19 yang dirawat di RS

Penulis : Fariz Yarbo

Editor : Dyah Ayu Pitaloka

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 Sep 2020 10:54 WIB

Kapan Kartu Prakerja Gelombang 11 Dibuka? Ini Penjelasannya

Nasional

Kuota sudah penuh, namun akan dibuka lagi bila beberapa pendaftar mundur.

29 Sep 2020 10:37 WIB

Mengenal Anosmia Gejala Baru Covid-19

Kesehatan

Anosmia gejala kehilangan indra penciuman bagi pasien Covid-19.

29 Sep 2020 10:19 WIB

Empat Pemain Persebaya Positif Covid-19

Liga Indonesia

Presiden Persebaya, Azrul Ananda menyebut empat pemainnya Covid-19.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...