Langka, Sunat Massal bagi Dewasa, Dokter: Agak Alot dan Besar

02 Aug 2019 10:57 Jawa Timur

Universitas Tribhuana Tunggadewi (Unitri), Malang, menggelar Dies Natalis ke-18 tahun, pada Jumat 2 Agustus 2019. Dalam rangka memeriahkan perayaan tersebut, pihak kampus mengadakan berbagai acara salah satunya adalah, sunat massal bagi mereka yang sudah dewasa.

Ketua Penyelenggara sunat massal, Ninit Sulasmini, yang juga berprofesi sebagai dokter tersebut, menuturkan sudah ada tujuh puluh orang dewasa yang mendaftar yang berasal dari mahasiswa Unitri dengan kisaran umur 21-26 tahun.

 “Untuk sunnat tidak ada kata terlambat. Tapi memang kalau sudah dewasa daging penisnya agak alot saat diiris dan juga ukuran diameternya lebih besar,” ungkap perempuan yang juga menjadi dosen di Fakultas Ilmu Kesehatan Unitri.

Ninit melanjutkan untuk lamanya proses sunnat memerlukan waktu sekitar 40 menit. Setelah selesai disunnat para peserta bisa langsung melakukan aktivitas namun terbatas, karena menunggu jahitan kering selama seminggu.

“Langsung bisa jalan, tapi memang harus pakai celana dalam dua. Karena penisnya harus menghadap ke atas. Kalo ke bawah nanti cairan kena gravitasi bisa buat penis bengkak,” ujarnya.

Ninit menegaskan acara sunnat massal bagi orang dewasa ini tidak ada sangkut-pautnya dengan agama dan adat-istiadat. Hal ini menurutnya murni karena alasan kesehatan.

“Secara kesehatan kencing itu kan dalam keadaan terbuka, dalam artian, sebelum disunat itu ada kulit yang menutupi kepala penis. Nah, bagian itu yang kita iris lalu dijahit,” tuturnya.

Menurut Ninit sunat sangat baik bagi kesehatan organ reproduksi laki-laki agar terhindar dari berbagai macam penyakit seperti infeksi saluran kemih karena kulit pada kepala penis dihilangkan.

“Kemarin memang ada rencana bagi semua umur, tapi saya ingin membuat gebrakan baru. Saya melihat sebelum memperbaiki di luar, alangkah baiknya kita perbaiki dulu di dalam. Maka dari itu ini saya adakan untuk mahasiswa di Unitri,” tutupnya.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini