“Sungai Berpindah”, Tantangan Unik Proyek Alih Trase Gunung Pasir

03 Dec 2018 11:50 Timur Indonesia

Pembangunan jalan alih trase Gunung Pasir di ruas Arfu-Kebar Trans Papua Barat Segmen I, menjadi salah satu tantangan berat Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XVII Manokwari.

Tidak hanya ancaman longsor dan medan yang ekstrim, sesuai namanya karakter kawasan Gunung Pasir membuat air hujan yang meresap ke dalam tanah langsung mengalir ke aliran Kali Kasi yang melintang di bawah.

Sejak proyek jalan Gunung Pasir resmi digarap pada 1985, cerita fenomena aliran sungai yang selalu berpindah tempat ketika memasuki musim hujan kerap terdengar.

Padahal jika musim kemarau, sungai itu kering kerontang hanya menyisakan batuan atau batang pohon yang terseret ketika meluap. Tak heran, masyarakat lokal menyebut fenomena ini dengan julukan ‘sungai berpindah’.

Kondisi ini membuat pembuatan alih trase (jalan baru, red) Gunung Pasir sempat tersendat. Apalagi ketika penanganan memasuki musim hujan seperti saat ini.

Mobil berpenggerak empat roda keluaran terbaru pun harus berpikir ulang untuk meneruskan perjalanan jika menemui aliran air yang muncul tiba-tiba kendati beberapa jam sebelumnya masih kering berdebu. Resikonya cukup besar jika nekat menerjang. Mobil bisa terseret arus bahkan rusak akibat terhantam batu yang ikut turun sebelum susah payah kembali ke badan jalan.

Pembangunan jalan alih trase Gunung Pasir di ruas ArfuKebar Trans Papua Barat Segmen I menjadi salah satu tantangan berat Balai Pelaksanaan Jalan Nasional BPJN XVII Manokwari Foto Endrangopibarengid
Pembangunan jalan alih trase Gunung Pasir di ruas Arfu-Kebar Trans Papua Barat Segmen I, menjadi salah satu tantangan berat Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XVII Manokwari. (Foto: Endra.ngopibareng.id)

"Pada beberapa titik jalur air sudah kita pasang box culvert. Jika bentang jaraknya lebar, kita bikin jembatan seperti Jembatan Gunung Pasir I ini," terang Nanti H Lumbantobing ST, PPK 1.04 Satuan Kerja PJN Wilayah 1 Manokwari, beberapa waktu lalu.

Tetapi dengan adanya fenomena sungai berpindah itu, penanganan aliran air dari atas yang bisa merusak ruas jalan harus pintar-pintar mensiasati. Salah satu cara dengan mempercepat pengerjaan proyek.

"Seperti penanganan di Jembatan Gunung Pasir I ini, pekerjanya harus ditambah. Maksimal 20-25 orang. Sekarang yang ada hanya 10 orang. Padahal 31 Desember nanti harus sudah selesai," beber Nanti, terkait progres pembangunan jembatan yang mulai dikerjakan bulan April Tahun Anggaran 2018.

Namun kendala teknis lainnya justru membayangi. Stanza SW, kontraktor Jembatan Gunung Pasir I mengungkap sesuai perencanaan, material proyek sebenarnya sudah terpenuhi. Namun kondisi di lapangan, terutama akibat fenomena sungai berpindah, membuat stok yang dipersiapkan harus digunakan untuk keperluan darurat.

"Seperti kebutuhan kayu balok, sebenarnya sudah cukup sesuai perencanaan. Tetapi akibat terjangan air, balok untuk penahan akhirnya harus ditambah lagi karena kurang panjang," sebutnya.

Penambahan material ini juga cukup menyita waktu. Lokasi yang jauh dari pemukiman dan tidak ada sinyal komunikasi, membuat tambahan stok otomatis paling cepat baru tersedia keesokan harinya.

"Harus turun ke Kota Manokwari. Jika ada langsung dibawa dengan trailer. Otomatis pekerjaan kan terhenti menunggu material datang. Itu sudah memakan waktu satu hari," ucapnya sambil menunjukkan video derasnya arus yang menerjang lokasi Jembatan Gunung Pasir I beberapa hari lalu.

Selain Gunung Pasir, titik penanganan Trans Papua Segmen I yang belum aman ada di Kabupaten Petik Bintang. Tetapi kondisi ini oleh BPJN XVII Manokwari dijadikan sebagai sebuah tantangan demi mewujudkan akses transportasi darat yang aman dan nyaman untuk Papua Barat.

 

Sebab, selain jadi proyek nasional pemerintah, terbukanya akses darat antar wilayah bisa jadi jalan mengejar ketertinggalan di banding provinsi lain di Indonesia. (gem)

Penulis : Moch. Amir


Bagikan artikel ini